Sabtu, 02 April 2011

DIKTAT KELAS VIII : PUISI

PUISI
Kompetensi Dasar :
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari bu¬ku antologi puisi
Indikator : 1. Mampu mendata hal-hal yang ber¬sifat khusus dari puisi-puisi dalam antologi
2. Mampu mengidentifikasi ciri-ciri umum puisi yang terdapat di dalam antologi puisi
16.1 Menulis puisi bebas dengan mengguna-kan pilihan kata yang sesuai
16.2 Menulis puisi bebas dengan mem¬perhatikan un¬sur persa¬jakan
Indikator : 1) Mampu mendata objek yang akan dijadikan bahan menulis puisi
2) Menulis puisi dengan menggu¬nakan pilihan kata yang tepat
3) Mampu menyunting sendiri pilihan kata puisi yang ditulis


CIRI-CIRI PUISI
1. Puisi merupakan suatu jenis karya sastra yang dibuat dalam bentuk bait-bait.
2. penggunaan bahasa puisi yang menitik beratkan pada kepadatan makna, keindahan bahasa, kedalaman makna kata yang digunakanan.
3. Memiliki rima atau persajakan atau persamaan bunyi.
Untuk memperindah bahasa puisi, sering kita menggunakan bentuk-bentuk majas atau gaya bahasa. Beberapa majas yang sering digunakan dalam menulis puisi adalah
1. Majas Personifikasi
Majas ini memperlakukan benda mati seperti manusia. Artinya benda mati seolah-olah dapat melakukan kegiatan seperti kegiatan yang bisa dilakukan oleh manusia. Contoh:
a. Angin membelai rambutku dengan lembut.
b. Burung bernyanyi riang di atas ranting-ranting pinus.
c. Bintang kesepian merindu bulan.
2. Majas hiperbola yaitu majas yang mengemukakan sesuatu dengan cara dilebih-lebihkan sehingga terkesan lebih dramatis. Contoh:
a. Suaramu menggelegar membelah angkasa.
b. Korban berkubang darah segar.
c. Gempa telah meluluhlantakkan peradaban
3. Repetisi yaitu majas yang isinya mengulang kata yang dianggap penting atau memiliki maksud tertentu. Contoh:
a. Biar, biar hancur jugadiri ini
b. Usah kau tangisi, usah kau sesali hidup ini
c. Jangan, jangan kau sayat lagi.
4. Inversi atau susun balik yaitu mengedapankan predikat daripada subjek. Contoh
a. Marah aku padamu
b. Terbanglah engkau jauh

Di samping penggunaan majas, yang tidak kalah pentingnya dalam menulis puisi adalah penggunaan pilihan kata atau diksi yang memiliki makna lebih dalam atau memiliki bunyi yang lebih baik. Salah satu bentuk diksi dilakukan dengan cara:
1. Memilih kata yang bersinonim dengan kata yang dimaksudkan. Sebagai contoh
matahari = mentari, surya, bagaskara
hilang=sirna=raib=entah kemana
marah=murka=angkara
gadis=perawan=dara
2. Menggunakan ungkapan atau kata simbolis untuk menggantikan kata yang dimaksud. Misalnya:
Hijau yang berarti masih muda, belum berpengalaman
Jantung hati yang berarti orang yang sangat dicintai
Selain majas, cirri umum puisi adalah memiliki rima atau persamaan bunyi. Dilihat dari persamaan bunyi akhir setiap baris, rima dapat dikelompokkan menjadi beberapa yaitu
1. Rima silang yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [ab ab]
2. Rima sama yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [aa aa]
3. Rima berpasangan yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [aa bb]
4. Riam berpeluk yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [ab ba]
5. Rima patah/rusak/tak sempurna yaitu rima yang polanya selain pola di atas dengan jumlah yang berbeda
Selain lima bentuk rimadi atas, yang tak kalah menarik dari rima adalah jenis rima aliterasi. Rima ini termasuk rima tengah yaitu persamaan bunyi yang terletak di tengah. Rima aliterasi dibuat dengan cara membuat satu baris puisi yang diawali dengan bunyi atau huruf yang sama. Sebagai contoh rima aliterasi adalah
a. Bukan Beta Bijak Berperi
b. Adakah aku akan abadi?
c. Sesal sungguh seumpama surga sirna sekejab
Untuk menentukan rima akhir suatu bait puisi, harus diperhatikan prinsip berikut:
1. Rima ditentukan per bait tanpa memperhatikan bait yang lain.
2. Baris awal setiap bait memiliki kode rima (a)
3. Baris selanjutnya apabila berakhir dengan bunyi pada baris pertama berarti berkode (a) tetapi kalau tidak berarti berkode (b). demikian seterusnya sampai satu bait selesai. Perhatikan contoh berikut ini:
………………………….tidur
…………………………………mendengkur
…………………………..kubur
…………………………….takabur ………………………….tidur (a)
…………………………………mendengkur (a)
…………………………..kubur (a)
…………………………….takabur (a)

…………………………..senyap
…………………………………lelah
…………………………..merayap
………………………………..patah …………………………..senyap (a)
…………………………………lelah (b)
…………………………..merayap (a)
………………………………..patah (b)

Dilihat dari masa atau waktu munculnya puisi, puisi terbagi menjadi puisi lama dan puisi baru. Sebagian ahli sastra memisahkan pembagian puisi tersebut dengan batas puisi-puisi yang diterbitkan pada masa pujangga baru sekitar tahun 1920. Dengan demikian, puisi sebelum tahun 1920-an dikelompokkan menjadi puisi lama. Terlepas dari tahun pembuatan secara fisik bahasanya, antara puisi lama dan puisi baru terdapat beberapa perbedaan yang menonjol. Perbedaan tersbut adalah
1. Puisi lama masih taat terhadap aturan-aturan sedangkan puis baru tidak.
2. Bahasa puisi lama masih terkesan kaku sedangkan puis baru tidak.
Beberapa bentuk puisi lama yang kita kenal adalah pantun dan syair.
a. Pantun adalah puisi lama asli melayu yang masih taat dengan aturan seperti:
- Setiap bait terdiri dari 4 baris
- Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
- Bersajak silang [ab ab]
- Baris pertama dan kedua berupa sampiran sedangkan baris 3 dan 4 isi
b. Syair merupakan puisi lama yang terpengaruh oleh puisi arab. Aturan yang terdapat dalam syair adalah:
- Setiap bait terdiri dari 4 baris
- Bersajak sama [aa aa]
- Semua baris berupa isi (tanpa sampiran)
Citraan
Citraan adalah gambaran angan yang dapat ditangkap oleh alam imajinasi pembaca sehingga pembaca dapat merasakan kehadiran benda, suasana, atau rasa yang dialami oleh penulis. Ada beberapa jenis citraan
1. Citraan penglihatan yaitu benda-benda yang dapat dilihat dalam imajinasi pembaca;
2. Citraan pendengaran yaitu suara-suara yang seolah tertangkap oleh telinga pembaca;
3. Citraan penciuman yang bau atau aroma yang seolah tertangkap oleh hidung;
4. Citraan perabaan yaitu sesuatu yang seolah tertangkap oleh kulit;
5. Citraan pencecapan yaitu rasa yang seolah dapat dinikmati oleh lidah;
6. Citraan gerak yaitu sesuatu yang seolah bergerak dalam imajinasi pembaca;
7. Citraan perasaan yaitu perasaan yang tertangkap oleh pembaca

Contoh
Dibawa Gelombang
Karya Sanusi Pane

Alun membawa bidukku perlahan (citraan gerak)
Dalam kesunyian malam waktu (citraan perasaan)
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu (citraan perasaan)

Jauh di atas bintang kemilau (citraan penglihatan)
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau (citraan perasaan)
Kehidupan bumi yang kecil amat (citraan penglihatan)
Aku bernyanyi dengan suara (citraan pendengaran)
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralaun-alun (citraan gerak)

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu


LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT PUISI
Bagi seorang pemula, membuat puisi bias dikatakan susah bias pula dikatakan gampang. Tergantung dari mengalirnya perasaan kita terhadap objek atau cerita yang ingin kita sampaikan. Namun demikian, ada langkah-langkah sederhana yang dapat diikuti kalau kita akan menulis puisi. Langkah ini tentunya bukanlah harga mati yang harus diikuti 100%. Langkah tersebut adalah
1. Menentukan tema. Tema bias diperoleh dari pengalaman pribadi kita yang berkesan, peristiwa yang dialmi orang lain, atau harapan atau protes kita terhadap sesuatu yang terjadi di masyarakat.
2. Mendata hal-hal yang ingin diungkapkan. Langkah ini menyerupai kerangka karangan saat kita menulis cerpen.
3. Menuangkan hal-hal tersebut dalam larik-larik puisi. Ungkapkan saja apa yang keluar dari pikiran kita sampai habis. Jangan pedulikan bagus atau tidaknya puisi buatan kita tersebut.
4. Melakukan editing. Pada saat melakukan editing kita dapat melakukan hal-hal seperti
a. Menghapus kata-kata yang tidak perlu. Ingat puisi ditulis dengan bahasa yang padat dan penuh makna. Kata-kata yang dirasa bias dihilangkan tanpa mengubah maksud puisi tersebut dapat dihilangkan.
b. Mengganti kata-kata yang dirasa kurang memiliki nilai rasa dan makna yang sesuai dengan maksud puisi.
c. Memperhatikan penggunaan rima. Puisi memang tidak bias lepas dari keindahan kata. Salah satu cara memperindah kata dalam puisi adalah dengan penggunaan rima-rima yang bervariasi.

(Farichin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...