Selasa, 24 Mei 2011

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS

Model pembelajaran merupakan satu bentuk proses pembelajaran yang merupakan satu kesatuan kegiatan. Model merupakan contoh setting proses pembelajaran yang direncanakan oleh guru dan diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Pada posting ini saya tidak akan membahas tentang definisi atau pengertian. Yang ingin kami tampilkan adalah beberapa model pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Dengan penerapan model pembelajaran yang inovatif, diharapkan akan dapat tercipta suasana belajar yang lebih menyenangkan dengan tetap berprinsip pada students based learning.
Model pembelajaran yang baik baik harus memperhatikan beberapa hal. Salah satunya adalah adanya sifat kerja sama baik dalam kelompok kecil maupun klasikal. Di samping itu, sifat kompetitif juga dapat dipakai untuk meningkatkan semangat belajar. Dalam pembentukan kelompok, agar diperhatikan pluralisme dalam jenis kelamin, tingkat kecerdasan, dan RAS kalau terdapat perbedaan RAS.

Model-model yang akan ditampilkan di sini sebenarnya dapat diaplikasikan pada semua mata pelajaran. Namun demikian, contoh-contoh yang saya tampilkan adalah kompetensi yang ada pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk mata pelajaran yang lain, silahkan disesuaikan dengan kompetensi yang ada pada mata pelajaran tersebut. Yang terpenting di sini adalah kesesuaian karakteristik model pembelajaran dengan karakteristik kompetensi yang akan diajarakan di kelas.
Berikut ini adalah beberapa contoh model pembelajaran yang bias digunakan

1. Examples non examples (contoh –bukan contoh)
Ciri khas dari model ini adalah memberikan sebanyak mungkin contoh yang akan didiskusikan dalam pembelajaran. Contoh tentunya disesuaikan dengan Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan.

Langkah kegiatan
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar atau daftar kasus sesuai dengan tujuan pembelajaran
b. Guru menempelkan gambar atau data kasus di papan tulis atau ditayangkan melalui proyektor
c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisais gambar atau kasus
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
e. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
f. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
g. Kesimpulan atau penegasan dari penguasaan materi yang telah disampaikan.

Aplikasi model pada pelajaran bahasa Indonesia
Model pembelajaran examples non examples dapat diaplikasikan pada beberapa KD
10.1 Menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai bukti atau alasan.
12.3 Menulis slogan poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi serta persuasive.
15.2 mengenal ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi

2. PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, model pembelajaran ini dapat diterapkan pada kompetensi bercerita atau menulis cerita, mengurutkan petunjuk melakukan sesuatu, laporan perjalanan. Tentunya, gambar yang dipilih harus sesuai dengan KD dan tujuan pembelajaran.

3. NUMBERED HEADS TOGETHER (KEPALA BERNOMOR)
(SPENCER KAGAN, 1992)

Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6. Kesimpulan

Model pembelajaran ini dapat diterapkan pada pembelajaran yang sifatnya analisis. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, model ini dapat dipakai untuk KD menganalisis novel, cerpen, berita, puisi.

4. COOPERATIVE SCRIPT
(DANSEREAU CS., 1985)
Skrip kooperatif :
metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar :
a. Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
b. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
7. Penutup

Penerapan model pembelajaran ini, akan menjadikan siswa memahami beberapa konsep atau materi dengan lebih cepat dan ringan. Siswa diwajibkan memahami satu bagian materi saja untuk memahami beberapa bagian materi yang lain


5. KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR
(MODIFIKASI DARI NUMBER HEADS)

Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai
Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan


6. STUDENT TEAM-ACHIEVEMENT DEVISIONS (STAD/TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI)
(SLAVIN, 1995)
Langkah-langkah :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan

7. JIGASAW (MODEL TIM AHLI)
(ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, 1978)
Langkah-langkah :
1. Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup

8. PROBLEM BASED INTRODUKCTION
(pembelajaran berdasarkan masalah)
Langkah-langkah :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

9. ARTIKULASI
Langkah-langkah :
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7. Kesimpulan/penutup

10. MIND MAPING (PETA KONSEP)
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

11. MAKE A MATCH (MENCARI PASANGAN)
(Lorna Curran, 1994)
Langkah-langkah :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup

12. THINK PAIR AND SHARE
(FRANK LYMAN, 1985)
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup
READ MORE - MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS

Senin, 16 Mei 2011

LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL

Zaman memang sudah gila, lha, bagaimana tidak, perzinaan seakan sudah menjadi barang biasa. Pelaku perzinaan seakan gak merasa bersalah. kayak kang Seri itu. Lelaki tua yang umurnya tinggal menunggu giliran saja masih doyan sama perempuan. lebih parahnya lagi, yang jadi incaran kali ini Yu Pahing, istrinya kang wirid, yang bekerja jadi tukang becak di Jakarta. Yu Pahing rupanya sudah gak tahan jadi jablai karena Kang Wirid waktunya habis untuk menaiki becak, sementara istrinya dianggurin saja. Sementara Kang Seri, yang wajahnya selalu berseri-seri masih dengan gairah mudanya dalam casing tubuh yang sudah keriput membutuhkan pelabuhan hasratnya. Istrinya sudah tidak mampu melayaninya lagi. Sudah menopouse katanya.

pucuk dicintai ulam pun tiba. Sama-sama butuh. "Gendul ketemu cupuny" kata orang Jawa bilang. terjadilah perselingkuhan yang diharapkan oleh setan (padahal mereka yang mengharapkan). gilanya lagi, istri Kang Seri sudah mengendus kelakuan suaminya. gila....gila..... agama sudah pada kemana ya?

akhirnya sepandai-pandai menyimpan bangkai, terbongkar juga baunya. Kang Wirid tahu, istrinya, Yu Pahing, berselingkuh dengan kang Seri yang katanya masih bau sodara. Kang Wirid naik pitam. Dengan semangat empat lima penuh amarah dia pulang dari Jakarta meninggalkan becak kesayangannya. hatinya panas, terbakar.

setelah lama perjalanan dari Jakarta sampai rumah, kang Wirid masih menyimpan amarahnya yang kini dibungkus tenaga yang kian loyo. istrinya menyambut dengan muka cemberut menampakkan sikap siap didamprat suaminya. tiba-tiba muncul juga kata-kata dari mulut kang Wirid.
"Kamu tuh apa gak malu melakukan perzinaan dengan kang Seri?"
"Pake, gak usah marah-marah gitu deh. Ini juga salah sampean." potong Yu Pahing.
"lha salahku apa? wong aku kerka keras banting tulang di Jakarta kok!" bela kang Wirid.
"Ya, memang. tapi apa pernah sampean kirim untuk anak istri? kami butuh uang pak, butuh duit.!!!!"
"lalu apa hubungannya kamu butuh duit dengan selingkuhnya kamu?" bentak kang Wirid mencoba menyudutkan.
"Lha kang Seri kan ngasih duit ke aku. sebagai imbalannya, ya, dia juga kan butuh pelampiasan. aku pikir daripada aku banyak utang, dan juga aku kan butuh itu, mengapa tidak?"
"Apa................"
Kang Wirid tertegun. Sebagai suami dia merasa tidak bertanggung jawab. Lalu diambinya tas kresek bawaannya dan segera diserahkan pada Yu Pahing tanpa berkata-kata lagi. dipakainya sendal cepit kesayangannya kemudian segera beranjak ke luar. kembali ke Jakarta menemui becak kesayangannya.

Contoh tadi adalah sekelumit kisah yang sering kita jumpai di masyarakat. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan fenomena perselingkugan dan perzinaan. Pandangan minir terhadap pelaku hany sesaat. Pelaku pun tidak merasa berdosa ataupun bersalah telah menodaoi norma agama dan norma kemasyarakatan.

Benarkah dunia sudah semakin renta, sehingga kondisi seperti itu sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat atas dengan pola aksi yang lebig axelent. Sementara masyarakat bawah, dengan pola yang lebih sederhana yaitu uang sex. Bukankah kedua hal tersebut adalah pola terprimitif yang akan mendorong orang menerobos batas norma yang ada,
READ MORE - LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL

Sabtu, 14 Mei 2011

SINONIM DAN ANTONIM

Oleh : Farichin

Mendengar kata sinonim dan antonim tentunya tidak asing lagi bagi telinga kita. Sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, kita telah diperkenalkan dengan istilah sinonim dan antonim. Kata bapak atau ibu guru SD kita dulu, sinonim adalah persamaan kata sedangkan antonim adalah lawan kata. Apakah memang seperti itu yang terjadi di lapangan? Bukankah kalau kata yang sama yang berarti satu kata bukan dua kata. Smentara itu apa benar kata yang berantonim itu berlawanan? Nah, untuk lebih jelasnya kita akan kupas satu demi satu sinonim dan antonim tersebut.

SINONIM
Kata sinonim berasal dari bahasa Yunani yaitu syn yang berarti dengan dan onoma yang berarti nama. Jadi kalau digabung menjadi sama dengan. Artinya suatu kata memiliki maksud yang sama dengan kata yang lainnya. Yang sama dalam sinonim adalah maksud atau artinya bukan katanya. Dengan melihat penegertian itu maka dikatakan sinonim adalah dua kata yang maksudnya sama atau kurang lebih sama.
Mengapa dikatakan kurang lebih? Dalam bahasa Indonesia setiap kata memiliki keunikan sendiri. Kedalaman dan nilai rasa setiap kata berbeda satu dengan lainnya. Dengan demikian, tidak ada satu kata yang tepat 100% menggantikan kata yang lainnya dalam konteks kalimat. Coba perhatikan contoh berikut ini:
Bapak bersinonim dengan ayah, papah, papi
Dalam konteks tertentu, kata-kata tersebut dapat saling menggantikan.
Kalimat //Bapak Ali bernama Rudi// dapat diganti dengan
//Ayah Ali bernama Rudi//; atau //Papi Ali bernama Rudi// AKan tetapi, dalam konteks yang lain kata-kata tersebut tidak dapat saling menggantikan. Kalimat //Bapak Bupati melakukan kunjungan ke desa// secara sepakat terterima dalam bahasa Indonesia. Namun, kalimat *//Ayah Bupati melakukan kunjungan ke desa// tidak dapat terterima.

ANTONIM
Antonim berasal dari kata anti yang berarti melawan dan onoma yang berarti nama. Dari definisi ini disimpulkan bahwa antonim berarti kata-kata yang maknanya dianggap berlawanan. Perlawanan maknanya tersebut tentunya berbeda-beda tingkat keberlawanannya. Oleh karena itu, antonim terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Antonim Mutlak
2. Antonim semu
a. Antonim majemuk
b. Antonim gradual

Antonim Mutlak
Antonim kembar adalah antonim yang sifatnya keantonimannya mutlak hanya terjadi pada dua kata yang berantonim. Antonim jenis ini tidak dapat digantikan oleh kata yang lainnya. Pada beberapa buku, antonim jenis ini disebut antonim kembar. Perhatikan contoh berikut ini
Hidup >< mati Dua kata tersebut berantonim secara mutlak karena tidak ada kondisi antara hidup dan mati. Orang dalam kondisi koma sekalipun tetap dikatakan masih hidup. Contoh yang lainnya adalah Jantan >< betina Diam >< bergerak Antonim majemuk Antonim jenis ini memungkinkan sebuah kata berantonim dengan kata yang lainnya selain pasangan sebelumnya. Perhatikan contoh berikut: Merah >< putih (diasosiasikan dengan warna bendera Indonesia) Merah >< hitam (diasosiasikan dengan warna tua) Merah >< hijau (diasosiasikan dengan warna lampu lalu lintas) Antonim Gradual atau tingkatan Yaitu jenis antonim dengan memasangkan sebuah kata dengan kata atau kelompok kata yang sifatnya bertingkat. Perhatikan contoh berikut ini: Gemuk >< kerempeng Gemuk >< kurus Gemuk >< langsing Dilihat dari kata yang berantonim, sebuah antonim dapat terjadi antara kata dengan kata dasar, kata dengan kata berafiks atau kata dengan frase. Sebagai contoh perhatikan antonim berikut ini: 1. Ibu >< bapak 2. Murah >< mahal 3. Prapanen >< Pascapanen 4. Indikasi >< kontraindikasi 5. Guru >< bukan guru 6. Makan >< tidak makan Pada contoh 1 dan 2 antonim terjadi anatar kata dengan kata yang lainnya. Pada contoh 3 dan 4 antonim terjadi antara kata berafiks dengan kata lainnya baik yang berafiks maupun yang tidak. Afiks pada Antonim ini biasanya berupa prefiks atau awalan. Prefiks yang sering dipakai merupakan prefiks serapan. Beberapa prefiks yang dapat dijadikan contoh antonim adalah pra>< …, tuna >< …., nir >< …., non >< …., in >< eks, Sementara pada contoh 5 dan 6 antonim terjadi antara kata dengan frase atau kelompok kata.
READ MORE - SINONIM DAN ANTONIM

Rabu, 11 Mei 2011

CARA MEMBUAT DAFTAR ISI SECARA OTOMATIS PADA WORD 2007

Dalam Office word, terdapat fasilitas pembuatan daftar isi secara otomatis. Namun, banyak kita yang belum mau dan atau mampu memanfaatkan fasilitas tersebut. Kita sering membuatnya secara manual dengan terlebih dahulu mencetak tulisan kita secara keseluruhan baru kemudian kita membuat daftar isinya. Tentunya kondisi ini akan mengakibatkan beberapa kelemahan yaitu apabila pada bagian isi terjadi perubahan halaman, mengharuskan kita membuat daftar isi ulang.
Lalu bagaimana membuat daftar isi secara otomatis? Untuk bisa membuat daftar isi secara otomatis ada beberapa persyaratan. Persyaratan yang harus dipenuhi adalah:
1. File secara keseluruhan dari awal sampai akhir disatukan.
2. File sudah diberi nomor baik yang menggunakan angka romawi maupun yang angka arab. (Kalau bingung, baca juga bagaimana cara membuat dua model penomoran dalam satu file di blog ini juga)
3. File ditata dengan style sbb:
a. Judul bab atau yang dianggap seperti judul bab menggunakan style heading 1
b. Judul subbab menggunakan style heading 2
c. Judul subsubbab menggunakan style heading 3 dst
d. Badan file menggunakan style normal.
Yang ditulis menggunakan heading akan muncul di bagian daftar isi. Apabila ada sudah membuat file tapi belum diset dengan style tersebut maka Anda dapat melakukan langkah-langkah sbb:
a. Klik tab home
b. Blok judul bab atau sub bab yang akan diset stylenya.
c. Klik jenis style yang sesuai dengan kondisi judul bab yang diblok (lihat penataan file)

Nah kalau sudah memenuhi persyaratannya, kini tinggal kita membuat daftar isi secara otomatis. Ikuti langkah-langkah ini yah,
1. Letakkan kursor pada halaman yang kita inginkan untuk daftar isi
2. Klik tab references
3. Klik table of contents kemudian muncul menu model pilihan
4. Pilih model yang diinginkan
5. Gantilah judul Table of Contents dengan Daftar Isi
Apabila terjadi perubahan jumlah halaman pada tulisan yang kita buat, kita bisa menyesuaikan daftar isi dengan cara update table. Cara termudah adalah klik tab references kemudian update table. Daftar isi secara otomatis akan menyesuaikan dengan penomoran yang baru.

Ok. Selamat mencoba
READ MORE - CARA MEMBUAT DAFTAR ISI SECARA OTOMATIS PADA WORD 2007

CARA MEMBUAT DUA MODEL PENOMORAN DALAM SATU FILE



                Anda telah membaca posting tentang cara membuat daftar isi secara otomatis pada blog ini? Kemudian Anda tertarik untuk membuatnya? Akan tetapi, Anda bingung untuk membuat penomoran file-file tersebut? Nah, ini cara termudah yang bisa dilakukan.
1.       File jadikan satu dari awal sampai akhir.
2.       Klik tab insert kemudian lihat page number pada menu header & footer.
3.       Klik page number
4.       Klik format page number
5.       Ubahlah  number format dengan I,ii,iii
6.       Isilah start at dengan i
7.       Klik ok
Nah sekarang secara keseluruhan, file Anda telah berubah nomornya menggunakan angka romawi karena dianggap satu section. Untuk bisa membuat dua model penomoran, file tersebut harus dibuat menjadi 2 section dengan cara
1.       Letakkan kursor dibagian paling akhir tulisan section 1
2.       Klik page layout
3.       Klik breaks
4.       Klik next page pada section breaks
Kok tidak berubah nomor halamannya? Sabar dulu. Section file Anda sekarang sudah menjadi dua. Section 1 menggunakan penomoran angka romawi dan section 2 yang juga masih menggunakan nomor romawi. Sekarang langkah yang ketiga adalah mengubahpenomoran pada section kedua. Langkahnya adalah:
1.       Letakkan kursor pada section 2.
2.       Klik tab insert kemudian lihat page number pada menu header & footer.
3.       Klik page number
4.       Klik format page number
5.       Ubahlah  number format dengan 1,2,3..
6.       Isilah start at dengan 1
7.       Klik ok
Sekarang file Anda telah memiliki dua penomoran. Silahkan mencoba di rumah.
READ MORE - CARA MEMBUAT DUA MODEL PENOMORAN DALAM SATU FILE

Selasa, 10 Mei 2011

SISTEMATIKA KARYA TULIS

Sistematika karya tulis yang benar seperti apa sih? jawaban yang baku barangkali sulit ditentukan. Hal tersebut terjadi karena setiap lembaga yang terkait dengan penulisan karya tulis tersebut memiliki aturan sendiri-sendiri. Sebagia contoh sistematika karya tulis dari UNNES agak berbeda dengan UNY, UNJ, UI, atau yang lainnya. demikian pula sistematika penulisan karya tulis untuk pengajuan angka kredit bagi guru dan dosen berbeda dengan sistematika untuk lomba. Sistematika untuk lomba pun sering kali berbeda antara satu penyelenggara dengan penyelenggara lainnya.
Lalu bagaimana yang benar? semuanya benar tergantung dari tujuan kita melakukan penelitian. Kalau kita bertujuan untuk mengikuti lomba, tentunya sistematika tersebut harus mengikuti aturan lomba yang berlaku. Demikian pula saat kita bertujuan untuk kenaikan pangkat.
untuk sekadar contoh, berikut ini adalah beberapa contoh sistematika penulisan PTK dan atau karya tulis ilmiah.
SISTEMATIKA LAPORAN PTK VERSI LPMP
A Bagian Pembuka
a) Halaman judul
b)Lembar Pengesahan
c)Kata Pengantar
d) Daftar isi
e) Daftar lampiran
B. Bagian Isi
Bab I Pendahuluan
a)Latar Balakang masalah
b)Identifikasi masalah
c)Pembatasan dan rumusan Masalah
c)Tujuan Penelitian
d)Manfaat hasil penelitian

Bab II Kajian Pustaka
a) Kajian teori
b) Kajian hasil penelitian
c) Kerangka Pemikiran
d) Hipotesis Tindakan

Bab III Metodologi/Metode penelitian
a) Objek tindakan
b) Setting/Lokasi/Subjek penelitian
c) Metode pengumpulan data
d) Metode analisis data
e) Cara pengambilan kesimpulan
f) Prosedur Penelitian

Bab IV Hasil Penelitian
a) Gambaran Selintas tentang setting
b) Uraian penelitian secara umum/keseluruhan
c) Penjelasan persiklus
d) Proses menganalisis data
e) Pembahasan dan pengambilan kesimpulan

Bab V Kesimpulan dan saran
a) Kesimpulan
b) Saran untuk tindakan lebih lanjut

C. Bagian Penunjang
a) Daftar pustaka
b) Lampiran-lampiran

Tinjauan Ilmiah hasil gagasan sendiri (makalah) :
A. Bagian Pendahuluan
- Halaman judul
-Kata pengantar
-Daftar isi
-Abstrak
B. Bagian Isi
Bab I : Pendahuluan berisi uraian mengenai hal yang dipermasalahkan
Bab II : Kajian teori dan fakta mengenai hal yang dipermasalahkan
Bab III : Tinjaun /ulasan
Bab IV : Kesimpulan

C. Bagian penunjang
Daftar pustaka
Lampiran-lampiran

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN HASIL PTK

A. Bagian Pembuka
1. Halaman Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel (bila ada)
6. Daftar Gambar ( bila ada)
7. Daftar Lampiran
8. Abstrak (ringkasan)

B. Bagian Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
B. Penelitian yang relevan
C. Kerangka Berfikir
D. Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
B. Subyek Penelitian
C. Sumber Data
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
E. Validasi Data
F. Analisis Data
G. Indikator Kinerja
H. Prosedur Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
B. Deskripsi Siklus I
C. Deskripsi Siklus II, dst
D. Pembahasan Tiap Siklus dan antar Siklus
E. Hasil Penelitian

BAB V PENUTUP
A. Simpulan
B. Implikasi/Rekomendasi
C. Saran

C. Bagian Penunjang
1. Daftar Pustaka
2. lampiran-lampiran

demikian semoga bermanfaat.
READ MORE - SISTEMATIKA KARYA TULIS

TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

A. Mengapa perlu membahas teori belajar?
Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk belajar. Sudah banyak teori belajar yang telah diungkapkan oleh banyak pakar. Perbedaan teori tentunya muncul di sana-sini. Namun, perbedaan tersebut tentunya sebagai wahana bagi kita untuk memperluas keilmuan dalam bidang pendidikan. Hal tersebut karena teori-teori tersebut tentunya memberi manfaat bagi kita.
Lalu apa sebenarnya manfaat kite mempelajari teori belajar? Ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari teori belajar. Di antaranya adalah teori belajar bermanfaat untuk:
1. membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar,
2. membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran,
3. memandu guru untuk mengelola kelas,
4. membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri, serta hasil belajar siswa yang telah dicapai,
5. membantu proses belajar lebih efektif, efisien, dan produktif, serta
6. membantu guru dalam memberikan motivasi kepada siswa sehingga dapat mencapai prestasi yang maksimal.
Sebegitu banyak manfaat dari teori belajar yang dapat kita gunakan dalam memikul tugas sebagai pendidik sekaligus orang tua. Lalu apa saja yang harus kita ketahui terlebih dahulu agar kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat tersebut dengan benar. Hal tersebut adalah
1. konsep dasar teori, prinsip, serta ciri-ciri yang melingkupinya,
2. bagaimana sikap dan peran guru dalam proses pembelajaran jika teori tersebut diterapkan,
3. bagaimana implikasi teori dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, serta
4. bagaimana relevansinya dengan pedagogik tranformatif.

B. Konsep Dasar Teori Humanistik
1. Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.(Sugihartono, dkk).
Tujuan belajar ini ingin memperbaiki sikap para pendidik yang dinilai membunuh karakter siswa. Masih banyak para pendidik yang memberikan label jelek pada murid, seperti anak bodoh, anak nakal, siswa bandel, atau julukan negatif yang lainnya. Dengan teori belajar humanistik, diharapkan kita dapat mengubah paradigma tersebut dan lebih memanusiakan siswa.
2. Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. (Sugihartono, dkk). Perbedaan kecepatan belajar bukan lagi menjadi alasan guru untuk meninggalkan siswa dengan kecepatan belajar rendah. Hasil akhir dari pembelajaran yang diinginkan adalah ketercapaian kompetensi pembelajaran secara menyeluruh.
3. Manusia adalah subjek/pribadi yang memiliki cipta, rasa, karsa yang mengerti dan menyadari akan keberadaan dirinya yang dapat mengatur, menentukan, dan menguasai dirinya, memiliki budi dan kehendak, memiliki dorongan untuk mengembangkan pribadinya menjadi lebih baik dan lebih sempurna. (Driyarkara). Guru selaku pendidik menjadi fasilitator dan motivator agar siswa dapat mengembangkan cipta, rasa, dan karsa yang telah dimilikinya.
Lalu bagaimanakah guru yang fasilitatif? Guru yang fasilitatif memiliki beberapa ciri yaitu
 merespon perasaan siswa,
 menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang,
 berdialog dan berdiskusi dengan siswa,
 menghargai siswa,
 menyesuaikan antara kata dengan perbuatan,
 menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa, dan
 tersenyum kepada siswa.

C. Prinsip Dasar Teori Humanistik
1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan siswa mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
5. Belajar diperlancar bila siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
6. Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
7. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengoreksi dirinya sendiri, sedangkan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
8. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus-menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.(Rogers)

D. Aplikasi Pembelajaran Humanistik di Kelas

Setelah kita mengetahui prinsip dasar humanistik tersebut, tibalah saatnya kita mulai proses pembelajaran dengan pendekatan humanistik di kelas.
Langkah-langkah umum yang biasa dilakukan dalam pengaplikasian teori pembelajaran humanistik di kelas adalah:
1. Guru merumuskan tujuan belajar yang jelas;
2. Guru mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat: jelas, jujur, dan positif;
3. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupannya untuk belajar atas inisiatif sendiri;
Guru mendorong siswa untuk bebas mengemukaan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan;
4. Guru merumuskan tujuan belajar yang jelas;
5. Guru mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat: jelas, jujur, dan positif;
6. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupannya untuk belajar atas inisiatif sendiri;
Guru mendorong siswa untuk bebas mengemukaan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan;
Lalu bagaimanakah kondisi pemebalajaran di kelas yang mengaplikasikan pendekatan humanistik di kelas? Ada beberapa ciri aplikasi pembelajaran humanistik di kelas. Ciri-ciri tersebut adalah
1. memberi kesempatan seluasnya agar siswa mengembangkan diri secara potensi, pribadi, sikap, berkembang menuju taraf yang lebih baik/sempurna,
2. Ada proses pemanusiaan manusia,
3. Siswa memiliki peran, dan
4. Proses yang berlangsung adalah pembelajaran bukan pengajaran.

Apakah Anda merasa sudah melakukan ini? Kalau sudah, selamat! Berarti Anda selangkah lebih maju dengan memperlakukan siswa lebih baik.
Setelah kita melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan humanistik, tentunya kita berharap pembelajaran tersebut berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran humanistik dianggap berhasil apabila :
1. Siswa merasa senang.
2. Siswa bergairah dalam belajar.
3. Siswa berinisiatif dalam belajar.
4. Siswa mengalami perubahan pola pikir.
5. Siswa merasa bebas atau tidak tertekan dalam mengikuti keseluruhan proses pembelajarn.
6. Siswa berani menyampaikan gagasan dan mengekspresikan diri.
7. Siswa tidak terikat oleh pendapat orang lain.
8. Siswa mengatur pribadi secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan dan norma.
9. Siswa berdisiplin.
10. Siswa mengikuti etika yang berlaku.



Farichin
Disarikan dari beberapa sumber.
READ MORE - TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA