Hari ini tgl 15 Agustus 2016. Dua hari ke depan bangsa Indonesia meryakan.hari kemerdekaannya yg ke-71. Yap, tak terasa umur negara kita sdh semakin renta. (Coba bayangkan kalU manusia?). Tapi menukil sajak Chairil Anwar, maka kita tersadar kita belum bisa memberi makna pada kata merdeka, belum dapat memberikan arti pada 4-5 ribu nyawa yg telah rela berkorban demi satu kata merdeka.
Sobat muda, coba kita tengok diri kita, apa saja yg telah kita beri untuk bangsa dan negeri ini? Rasanya saya malu pada orang2 yg telah mengharumkan.nama bangsa dg prestasi dunia. Ada tim.olimpiade yg meski belum semua, patut kita beti apresiasi. Ada pelajar yg mengukir prestasi di ajang kompetisi tk dunia. Namun, tak bis dipungkiri nasih ada di antara kita yg enggan berkarya. Kerja hanya kalau diupah itupun dg malas tak bergairah. Penyelewengan hukum di mana-mana. Guru dikeroyok oleh murid.
Jika guru saja tak diapresiasi oleh orang tua murid, bagaimana mungkin murid akan menaruh hormat pada guru. Lalu bagaimana mungkin pendidikan akan mencapai hasil yang maksimal.
Hari ini dalam.peringatan.hut RI mari kita belajar utk memaknai kemerdekaan dengan lebih baik agar Indonesia menjadi lebih bermartabat. DIRGAHAYU RI KE 71 Sekali merdeka tetap merdeka.
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Agustus 2016
MAKNA HUT RI
Selasa, 13 Mei 2014
TEH untuk "MOCI"
Oleh : Farich
Anda pasti kenal teh. Ya, teh merupakan satu minuman herbal yang memiliki banyak manfaat. Jepang saja sebagai negeri modern, memperlakukan teh dengan sangat istimewa. Di sana acara minum teh menjadi acara resmi menyambut tamu kehormatan. Kalau Indonesia acara minum teh tidak terlalu istimewa. Suasana keakraban dan kekeluargaan menjadi inti dari kegiatan minum teh.
Di Tegal ada satu kegiatan yang namanya Moci. Tegal sebagai "Kota Poci" memang kental sekali dengan teh. Ada beberapa pabrik teh yang berdiri di Tegal baik di Kabupaten maupun di wilayah perkotaan. Nah, kembali ke "Moci". Moci merupakan acara minum teh dengan teman dan keluarga dalam situasi keakraban. Acara [pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dengan cara lesehan. Sajiannya adalah teh "Wasgitel" Wangi Sepet Legi dan Kentel. Apa maksudnya? Wangi karena biasanya teh yang disajikan adalah teh dengan aroma melati yang menyegarkan. Sepet karena rasa tehnya agak sepat sehingga jika dicampur dengan gula batu rasanya Mak Nyus, mantap sekali. Pencampuran tersebut akan menimbulkan rasa legi alias manis. Nah, kentel artinya kental.
Pada umumnya, Moci menggunakan alat yang disebut poci. Poci terbuat dari tanah yang dibuat tembikar. untuk gelasnya juga terbuat dari gelas tanah. Aroma tanah dan teh bercampur menimbulkan sensasi yang luar biasa. Tapi jangan salah dulu, aroma tanah di sisni tidak terasa seperti tanah karena tentunya aroma tanah yang menyengat tidak akan membuat minuman nikmat.
Sebagai teman teh, biasanya disajikan gorengan seperti tempe goreng, tahu goreng, bakwan, atau gorengan lainnya. Kondisi ini akan mantap saat dilakukan di bawah naungan sinar bulan. Ngobrol untuk membicarakan hal-hal remah sampai lobi-lobi politik akan lebih menimbulkan suasana akrab dengan Moci.
Mau Coba? Yuk.............................
READ MORE - TEH untuk "MOCI"
Anda pasti kenal teh. Ya, teh merupakan satu minuman herbal yang memiliki banyak manfaat. Jepang saja sebagai negeri modern, memperlakukan teh dengan sangat istimewa. Di sana acara minum teh menjadi acara resmi menyambut tamu kehormatan. Kalau Indonesia acara minum teh tidak terlalu istimewa. Suasana keakraban dan kekeluargaan menjadi inti dari kegiatan minum teh.
Di Tegal ada satu kegiatan yang namanya Moci. Tegal sebagai "Kota Poci" memang kental sekali dengan teh. Ada beberapa pabrik teh yang berdiri di Tegal baik di Kabupaten maupun di wilayah perkotaan. Nah, kembali ke "Moci". Moci merupakan acara minum teh dengan teman dan keluarga dalam situasi keakraban. Acara [pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dengan cara lesehan. Sajiannya adalah teh "Wasgitel" Wangi Sepet Legi dan Kentel. Apa maksudnya? Wangi karena biasanya teh yang disajikan adalah teh dengan aroma melati yang menyegarkan. Sepet karena rasa tehnya agak sepat sehingga jika dicampur dengan gula batu rasanya Mak Nyus, mantap sekali. Pencampuran tersebut akan menimbulkan rasa legi alias manis. Nah, kentel artinya kental.
Pada umumnya, Moci menggunakan alat yang disebut poci. Poci terbuat dari tanah yang dibuat tembikar. untuk gelasnya juga terbuat dari gelas tanah. Aroma tanah dan teh bercampur menimbulkan sensasi yang luar biasa. Tapi jangan salah dulu, aroma tanah di sisni tidak terasa seperti tanah karena tentunya aroma tanah yang menyengat tidak akan membuat minuman nikmat.
Sebagai teman teh, biasanya disajikan gorengan seperti tempe goreng, tahu goreng, bakwan, atau gorengan lainnya. Kondisi ini akan mantap saat dilakukan di bawah naungan sinar bulan. Ngobrol untuk membicarakan hal-hal remah sampai lobi-lobi politik akan lebih menimbulkan suasana akrab dengan Moci.
Mau Coba? Yuk.............................
Minggu, 02 September 2012
TERSELAMATKAN DARI KERETA API KARENA SEDEKAH
Alhamdulillahi
Robbil ‘alamin.
Memang Alloh
Robbul Jalal tidak pernah berbohong dengan apa yang telah dijanjikannya.
Sedekah yang pernah diberikan pada seseorang terbukti telah menyelamtkan Aku
dalam kemungkinan tertabrak kereta api. Kisah ini merupakan kisah nyata yang
saya alami sendiri. Alhamdulillah Alloh masih memberikan saya kesempatan hidup.
Semoga kesempatan ini dapat saya gunakan dengan bijak untuk mendapatkan ridlo
Alloh SWT.
Cerita berawal
dari pagi. Saat itu hari Sabtu tapi saya lupa tanggalnya. Pagi begitu cerah, dengan sinar mentari yang
hangat. Embun pagi masih setia bergelayut di dedaunan di depan rumah. Saya telah
siap untuk melaksanakan kewajibanku sebagai guru di salah satu SMP negeri di
Kabupaten Tegal. Sepeda motor telah aku bersihkan
dan dipanaskan. Jaket dan helm telah aku siapkan. Menjelang berangkat, istriku
cerita kalau salah satu tetangga kami mendapatkan musibah, smentara mau berobat
tidak punya uang. Saat itu pula jatuh rasa iba dan kasihan dalam diri saya. Tanpa
pikir panjang aku keluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah kemudian
menyuruh istri saya memberikan pada dia. Saya pikir uang itu cukup untuk
berobat di dokter umum yang berada di kota kecamatan atau pada mantri yang ada
di desa kami.
Saya berangkat
ke sekolah dengan sepeda motor. Waktu itu saya juga sekalian pamit pada karena
selepas pulang sekolah akan menghadiri syukuran khitanan anak teman saya yang
berada di daerah pagonga, Tegal. Jarak tempuh
hanya sekitar lima menit karena sekolah
dengan rumah sangat dekat.
Tanpa terasa
waktu pulang sekolah hampir tiba. Jam dinding menunjukkan pukul 11.15. Kebutulan sekali dua jam terakhir saya tidak
ada jadwal mengajar. Karena jarak yang cukup jauh antara Bojong dengan
Pagongan, saat itu saya memberanikan diri untuk izin pada kepala sekolah untuk
pulang lebih awal. Alhamdulillah, kepala sekolah mengizinkan.
Segera saya
kenakan jaket dan helm kemudian motor segera dikeluarkan dari tempat parkir. Motor
segera kustater dan segera melaju dengan diawali basmalah. Tanpa terasa satu
jam telah kulalui dalam deru kendaraan yang meramakan lalu lintas. Sampailah motor
saya di pertigaan Kodim di daerah Pagongan. Saya segera membelokkan motor ke arah barat
samapailah pada rel kereta api. Dari situ saya harus berbelok ke arah utara
sekitar dua meter kemudian harus menyeberangi rel kereta untuk sampai ke rumah
teman saya.
Karena jalan becek, yang
tergenang air, saya memilih jalan yang dekat rel kereta api karena daerah itu
agak tinggi. Sesaat sebelum belokan untuk menyeberangi rel kereta api, terjadi
suatu keajaiban. Tanpa bisa dikontrol
sepeda motor saya berbelok ke arah menjauhi rel kereta api. Selang beberapa
detik melajulah kereta api dengan kecepatan yang cukup tinggi. Subhanallah,
astaghfirullah, Allohu akbar. Sungguh jantung terasa berhenti berdetak.
Bagaimana tidak, kereta sedekat itu, dari arah di hadapan saya, saya tidak
mendengar suara apapun dan juga tidak melihat kereta sebesar itu. Selisih sekian detik kalau motor saya jadi
menyebarangi rel kereta api, tamatlah riwayat saya. Rasa syukur di antara rasa
lemas dan deg-degan menyelimuti seluruh
perasaan. Ya Rob, terima kasih telah engkau berikan saya kesempatan untuk
menikmati seluruh karunia-Mu.
Sabtu, 21 April 2012
MINUM TEH ALA INDONESIA
Teh, siapa yang tidak mengenal minuman satu ini. Teh, yang berasal dari dedaunan kering ini sudah mengalami kemajuan pesat. Teh ternya tidak hanya berasal dari daun teh yang kita kenal selama ini. Akan tetapi, teh sekarang bisa berasal dari bunga-bunga kering. Teh dari bunga kering ini terbukti dengan beredarnya teh mawar, teh melati, teh kamboja dan lain lain.
secara manfaat teh, konon mengandung antioksidan yang mampu melawan kuman, bakteri, atau virus tertentu. Maka tak heran ada beberapa teh yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit ganas seperti kanker.
nagi kita penikmat teh, selamat menikmati secangkir teh untuk menjaga kesehatan. Namun, jangan berlebihan karena semua yang berlebihan akan berakibat buruk. selamat menikmati.
READ MORE - MINUM TEH ALA INDONESIA
Minggu, 15 April 2012
MENYIKAPI UJIAN NASIONAL YANG "JUJUR"
Ujian Nasional tahun 2012 akan dimulai besok tanggal 16 April 2012 untuk tingkat SMA/SMK/MA kemudian akan dilanjutkan lagi pada tanggal 23 April Ujian Nasional untuk tingkat SMP/MTs. Pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional mengembar-gemborkan agar pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2012 dilaksanakan secara "JUJUR". Di beberapa iklan di media elektronik iklan itu terus ditayangkan seolah-olah pemerintah benar-benar ingin menciptakan suasana "JUJUR" dalam ujian Nasional tahun ini.
Tapi..... ada sedikit keprihatinan di sela-sela harapan menciptakan ujian nasional yang "JUJUR" tersebut. sebenarnya, pemerintah sudah tahu bahwa ujian nasional tahun-tahun kemarin masih banyak dicurangi oleh sebagian sekolah yang tidak bertanggung jawab. Biaya milyaran rupiah akhirnya jadi sia-sia karena yang diharapkan pemerintah potret kualitas pendidikan yang ada tetapi yang diperoleh adalah potret semu.
dari mana pemerintah tahu kecurangan tersebut? Orang BODOH juga pasti tahu bahwa soal Ujian Nasional itu sudah melalui tahap validasi tes. Soal yang valid itu TIDAK MUNGKIN dijawab oleh seluruh siswa dalam satu sekolah dengan jawaban yang sama. Itu baru satu soal. Lah, kalau 35 s.d. 45 soal dijawab oleh seluruh siswa dalam satu sekolah dengan jawaban yang sama? itu pasti sekolah main-main. Lalu darimana mereka tahu. Ah, INDONESIA kita ini kan masih banyak yang tega menjual "rahasia negara" demi menambah pundi-pundi rekeningnya. Alih-alih membantu siswa katanya.
Yah, tinggal kita tunggu tahun ini. Apakah pemerintah mau dan berani bertindak "TEGAS" atau masih sama dengan kemarin, "KEMAYU DAN GAK MAU TAHU"
READ MORE - MENYIKAPI UJIAN NASIONAL YANG "JUJUR"
Tapi..... ada sedikit keprihatinan di sela-sela harapan menciptakan ujian nasional yang "JUJUR" tersebut. sebenarnya, pemerintah sudah tahu bahwa ujian nasional tahun-tahun kemarin masih banyak dicurangi oleh sebagian sekolah yang tidak bertanggung jawab. Biaya milyaran rupiah akhirnya jadi sia-sia karena yang diharapkan pemerintah potret kualitas pendidikan yang ada tetapi yang diperoleh adalah potret semu.
dari mana pemerintah tahu kecurangan tersebut? Orang BODOH juga pasti tahu bahwa soal Ujian Nasional itu sudah melalui tahap validasi tes. Soal yang valid itu TIDAK MUNGKIN dijawab oleh seluruh siswa dalam satu sekolah dengan jawaban yang sama. Itu baru satu soal. Lah, kalau 35 s.d. 45 soal dijawab oleh seluruh siswa dalam satu sekolah dengan jawaban yang sama? itu pasti sekolah main-main. Lalu darimana mereka tahu. Ah, INDONESIA kita ini kan masih banyak yang tega menjual "rahasia negara" demi menambah pundi-pundi rekeningnya. Alih-alih membantu siswa katanya.
Yah, tinggal kita tunggu tahun ini. Apakah pemerintah mau dan berani bertindak "TEGAS" atau masih sama dengan kemarin, "KEMAYU DAN GAK MAU TAHU"
Kamis, 09 Februari 2012
DEGRADASI MORAL MELALUI TELEPON SELULAR
Zaman sekarang, tidak asing lagi dengan telepon selular. dar kakek nenek sampai anak TK bisa mengoperasikan telepon selular. Bahkan, seorang bayi pun ternyata menyukai telepon selular sebagai mainannya. Telepon jenis ini marak penggunaannya seiring dengan pasar bebas. Voba bayangkan, telepon selular denan fitur yang begitu komplit cukup dibayar dengan mengeluarkan tiga-empat lembar uang ratusan ribu rupiah.
senang? yah ada senangnya tentu manakala kita bisa membeli telepon selular tersebut dengan harga murah meriah tersebut. Dengannya kit bisa lebih dekat dengan saudara yang jauh. Tapi, pernahkah kita menyadari apa yang telah diperbuat oleh anak-anak kita dengan telepon selular tersebut.
Bapak. Ibu, karena mudanya telepon selular untuk akses internet, maka banyak pula kemungkinan yang muncul dengan penggunaa telepon selular oleh anak-anak kita. Ada games, gambar-gambar dan film porno yang selayaknya belum pantas dilihat mereka. Bahkan naudzubillah di antara gambar dan film tersebut, anak kita yang jadi pelakunya.
hanya tangis dan tangis yang bisa kita lakukan Bapak, Ibu. Lalu salah siapa kalau seperti itu sudah terjadi? Bukan salah lingkungan atau si anak sendiri. Tapi salah kita selaku orang tua. Kita tidak mampu memberikan benteng keimanan yang kokoh buat mereka. Sementara kita tahu, berzina adalah dosa besar kepada Alloh yang cenderung akan berulang dan berulang terus tindakan pelakunya.
Oleh karena itu, mari kita jaga generai kita menjadi generasi Islami dengan melakukan beberapa cara.
1. jangan beri anak fasilitas yang serba canggih kalau kita tidak bisa mengontrol mereka.
2. lakukan kontrol pada telepon selular mereka, komputer mereka, atau alat yang lain yang memungkinkan mereka berbuat tidak baik.
3. Jadilah orang tua yang cerdas, tidak gaptek karena untuk melakukan pekerjaan antisipasi no 2 diperlukan orang yang tidak ga[tek.
4. berilah bekal keimanan dan contoh yang baik. Ini adalah yang paling utama.
semoga kita terhindar dari marabahaya yang menimpa anak-anak kita. Amin
semoga bermanfaat.
READ MORE - DEGRADASI MORAL MELALUI TELEPON SELULAR
senang? yah ada senangnya tentu manakala kita bisa membeli telepon selular tersebut dengan harga murah meriah tersebut. Dengannya kit bisa lebih dekat dengan saudara yang jauh. Tapi, pernahkah kita menyadari apa yang telah diperbuat oleh anak-anak kita dengan telepon selular tersebut.
Bapak. Ibu, karena mudanya telepon selular untuk akses internet, maka banyak pula kemungkinan yang muncul dengan penggunaa telepon selular oleh anak-anak kita. Ada games, gambar-gambar dan film porno yang selayaknya belum pantas dilihat mereka. Bahkan naudzubillah di antara gambar dan film tersebut, anak kita yang jadi pelakunya.
hanya tangis dan tangis yang bisa kita lakukan Bapak, Ibu. Lalu salah siapa kalau seperti itu sudah terjadi? Bukan salah lingkungan atau si anak sendiri. Tapi salah kita selaku orang tua. Kita tidak mampu memberikan benteng keimanan yang kokoh buat mereka. Sementara kita tahu, berzina adalah dosa besar kepada Alloh yang cenderung akan berulang dan berulang terus tindakan pelakunya.
Oleh karena itu, mari kita jaga generai kita menjadi generasi Islami dengan melakukan beberapa cara.
1. jangan beri anak fasilitas yang serba canggih kalau kita tidak bisa mengontrol mereka.
2. lakukan kontrol pada telepon selular mereka, komputer mereka, atau alat yang lain yang memungkinkan mereka berbuat tidak baik.
3. Jadilah orang tua yang cerdas, tidak gaptek karena untuk melakukan pekerjaan antisipasi no 2 diperlukan orang yang tidak ga[tek.
4. berilah bekal keimanan dan contoh yang baik. Ini adalah yang paling utama.
semoga kita terhindar dari marabahaya yang menimpa anak-anak kita. Amin
semoga bermanfaat.
Kamis, 05 Januari 2012
SISI HITAM PADA UJIAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Ujian Nasional 2012 sebentar lagi akan dilaksanakan. tinggal hitungan empat bulanan ke depan. Padahal tahun baru 2012 baru saja bergulir lima hari. Dunia pendidikan mulai berbenah menyiapkan anak didiknya agar siap dan sukses ujian nasional. Tak terkecuali baik sekolah negeri maupun suasta.
Namun setiap kali gema Ujian Nasional bergaung, terkuak kembali dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, Ujian nasional selalu dikotori dengan ulah para oknum di dunia pendidikan yang membocorkan jawaban ujian nasional. dan yang lebih menyakitkan lagi pemerintah dengan perpanjangan tangannya Kemendiknas dan jajaran ke bawahnya selalu membutakan mata terhadap perilaku curang tersebut.
Memang sangat memprihatinkan kondisi di hampir semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Yang salah seolah menjadi raja, sementara yang benar selalu hanya mendapatkan cerca. Sekolah dengan kelulusan tinggi dan nilai luar biasa selalu dipuja baik oleh dinas pendidikan maupun oleh masyarakat tanpa mau peduli apakah mereka berlaku jujur atau tidak. Sementara itu , sekolah yang dengan semangat menegakkan kejujuran pada siswa kemudian mendapatkan hasil yang tidak bagus mendapatkan caci maki serta gelar sebagai sekolah tak bermutu. Apakah mutu sekolah hanya dengan hasil ujian nasional seperti itu? Apakah proses dan penanaman nilai-nilai tidak lagi bermanfaat? Kalau memang begitu, benar kata orang-orang curang itu, bahwa menegakkan kejujuran tunggu saja saat kehancuran.
kalau kondisi seperti itu terus dibiarkan, pemerintah saat ini sedang memasang ranjau untuk kehancuran negara kesatuan republik Indonesia. karena sekian tahun yang akan datang mereka yang dicekoki dengan kecurangan akan menjadi pucuk pimpinan di negara ini. pendidikan karakter menjadi tak punya arti lagi manakala semua itu hanya sampai di deretan kata-kata di buku, poster, atau bibir penuh dusta.
Astaghfirullohal adzim.
READ MORE - SISI HITAM PADA UJIAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Namun setiap kali gema Ujian Nasional bergaung, terkuak kembali dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, Ujian nasional selalu dikotori dengan ulah para oknum di dunia pendidikan yang membocorkan jawaban ujian nasional. dan yang lebih menyakitkan lagi pemerintah dengan perpanjangan tangannya Kemendiknas dan jajaran ke bawahnya selalu membutakan mata terhadap perilaku curang tersebut.
Memang sangat memprihatinkan kondisi di hampir semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Yang salah seolah menjadi raja, sementara yang benar selalu hanya mendapatkan cerca. Sekolah dengan kelulusan tinggi dan nilai luar biasa selalu dipuja baik oleh dinas pendidikan maupun oleh masyarakat tanpa mau peduli apakah mereka berlaku jujur atau tidak. Sementara itu , sekolah yang dengan semangat menegakkan kejujuran pada siswa kemudian mendapatkan hasil yang tidak bagus mendapatkan caci maki serta gelar sebagai sekolah tak bermutu. Apakah mutu sekolah hanya dengan hasil ujian nasional seperti itu? Apakah proses dan penanaman nilai-nilai tidak lagi bermanfaat? Kalau memang begitu, benar kata orang-orang curang itu, bahwa menegakkan kejujuran tunggu saja saat kehancuran.
kalau kondisi seperti itu terus dibiarkan, pemerintah saat ini sedang memasang ranjau untuk kehancuran negara kesatuan republik Indonesia. karena sekian tahun yang akan datang mereka yang dicekoki dengan kecurangan akan menjadi pucuk pimpinan di negara ini. pendidikan karakter menjadi tak punya arti lagi manakala semua itu hanya sampai di deretan kata-kata di buku, poster, atau bibir penuh dusta.
Astaghfirullohal adzim.
Rabu, 22 Juni 2011
JILBAB DAN TERORISME
Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu persis tentang jilbab. Jilbab atau kerudung merupakan identitas wanita muslimah. Identitas muslimah ini secara langsung diperintah Alloh azza wa jalla. Masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduk beragama Islam tentunya sudah taka sing lagi dengan Jilbab. Banyak ibu-ibu yang entah karena gaya atau menutupi uban di rambutnya, ramai-ramai memakai menutup kepala mereka dengan jilbab. Berjilbab dengan modifikasi yang cantik. Mereka menyebutnya sebagai jilbab gaul.
Sementara itu, di sudut kota yang lain terdapat muslim yang minoritas dengan tradisi dan gaya yang berbeda dari kalangan masyarakat umum. Seperti halnya masyarakat lain yang menutup rambutnya dengan jilbab, kelompok masyarakat yang satu ini juga menutup rambutnya dengan jilbab. Bedanya jilbab mereka lebih syar’i. jilbab yang dipakai lebih besar ukurannya dengan warna yang tidak mencolok. Mereka meyakini bahwa jilbab yang benar bukan sekadar menutup rambutnya yang merupakan aurat wanita muslimah, tetapi lebih dari itu. Jilbab tersebut juga harus menutup bagian dada mereka secara sempurna sehingga tonjolan di dada wanita muslimah tidak akan tampak.
Kondisi berbedaan semacam ini sebenarnya sudah lazim kita jumpai. Tak ada perselisihan atau permusuhan di anatara keduanya. Perbedaan tersebut hanya pada perbedaan gaya. Keyakinan mereka tetap yaitu al Islam yang bertuhankan Alloh SWT, berrasul Muhammad SAW, berkitab Alquran, dan berkiblat baitulloh. Keharmonisan yang damai dirasakan.
Namun, masihkan itu terjadi sekarang? Sulit rasanya. Jujur saja kita akan memandang berbeda orang-orang yang mengenakan jilbab Syar’i atau lebih-lebih yang memakai cadar atau penutup muka. Kita sadar atau tidak menganggap mereka beraliran berbeda, bukan lagi Islam yang sebenarnya. Bahkan mungkin tanpa sadar kita pernah mengeluarkan ucapan dari mulut awam kita bahwa mereka beraliran Islam ini, Islam itu, atau bahkan aliran sesat dan teroris. Naudzubillah. Astaghfirullohal adzim.
Yang lebih miris lagi, serangan tersebut bukan hanya ditujukkan pada wanita muslimah tersebut. Akan tetapi juga pada lelaki muslim yang kebetulan berpenampilan yang berbeda dari lelaki yang lain. Perbedaan tersebut bisa terjadi karena mereka memelihara jenggot dan tidak memelihara kumis, bercelana lebih tinggi, berjubah, atau dijidatnya berwarna hitam. Tuduhan dan cap sebagai "KELUARGA TERORIS" makin terasa meyakinkan manakala mereka tidak mau mengikuti ajaran yang bersifat tradisi seperti tidak mau mengikuti tahlilan kematian, Khaul, selamatan dan lainnya.
Astaghfirullohal adzim.
Sadarlah wahai saudaraku seiman Islam. Jangan karena kesalahan beberapa orang yang bertindak anarkis, terus orang yang berpenampilan serupa dikatakan sama. Karena berpenampilan seperti pakaian orang-orang yang pernah meneror Indonesia lantas kita sah mengatakan bahwa orang tersebut juga teroris tanpa meneliti lebih jauh lagi. Teroris bukanlah muslimin sejati karena Islam tidak mengajarkan peperangan dan kekerasan. Islam hanya memperbolehkan perang apabila kaum muslimin didzolimi oleh orang-orang kafir.
Tengoklah keluarga kita sekarang. Mungkin anak-anak kita, adik atau kakak kita, orang tua kita, saudara kita berpenampilan sama seperti orang-orang nasrani, Yahudi, atau majusi. Bahkan mungkin di antara keluarga kita bukan hanya sama dalam pakain, tetapi juga pola piker dan tindak-tanduknya. Mereka berpakaian tanpa menutupi aurat. Mereka berpikir hanya dengan mengandalkan logika tanpa iman. Mereka berbuat cabul, freesex, atau lainnya. Sekarang pertanyaan kita adalah “MAUKAH KITA DIKATAKAN SEBAGAI NASRANI, YAHUDI, ATAU MAJUSI????????” tentu jawabannya adalah “TIDAK!!”. Nah, kalau yang sama dalam pakaian, pola pikir, dan tindak-tanduk saja tidak mau diidentifikasikan dengan yang lainnya, apalagi yang sekadar sama dalam pakaian.
Zaman memang sudah gila. Orang tua lebih khawatir anaknya yang memakai pakaian jilbab syar’I daripada yang memakai pakaian dengan menugumbar aurat. Orang tua lebih khawatir melihat anaknya yang mengikuti kajian Islam daripada yang suka jalan-jalan di mall, konser, atau tempat hiburan. Lebih parah lagi, mengadakan acara kajian Islam harus seizing RT/RW sementara tontonan dangdut di kampong bebas tanpa izin malah mendapatkan sokongan dana dari warga masyarakat. Kiamat memang sudah dekat. Bersiaplah
Saya teringat sebuah hadits. Rasululloh pernah bersabda bahwa di hari akhir nanti, orang memegang iman Islam seperti layaknya memegang bara api yang sangat panas sehingga ingin segera dilepaskannya. Sekarang ini kondisi tersebut tengah terjadi. Orang ingin menegakkan Islam atau berpakaian Islami yang syar’I saja harus berlawanan dengan pandangan masyarakat. Dan mereka harus siap dicaci maki, dicerca, dikatakan aliran sesat, atau bahkan TERORIS. Yang membuat sedih lagi adalah, yang menagatakan semuanya itu adalah bibir dan mulit masyarakat Islam itu sendiri.
READ MORE - JILBAB DAN TERORISME
Sementara itu, di sudut kota yang lain terdapat muslim yang minoritas dengan tradisi dan gaya yang berbeda dari kalangan masyarakat umum. Seperti halnya masyarakat lain yang menutup rambutnya dengan jilbab, kelompok masyarakat yang satu ini juga menutup rambutnya dengan jilbab. Bedanya jilbab mereka lebih syar’i. jilbab yang dipakai lebih besar ukurannya dengan warna yang tidak mencolok. Mereka meyakini bahwa jilbab yang benar bukan sekadar menutup rambutnya yang merupakan aurat wanita muslimah, tetapi lebih dari itu. Jilbab tersebut juga harus menutup bagian dada mereka secara sempurna sehingga tonjolan di dada wanita muslimah tidak akan tampak.
Kondisi berbedaan semacam ini sebenarnya sudah lazim kita jumpai. Tak ada perselisihan atau permusuhan di anatara keduanya. Perbedaan tersebut hanya pada perbedaan gaya. Keyakinan mereka tetap yaitu al Islam yang bertuhankan Alloh SWT, berrasul Muhammad SAW, berkitab Alquran, dan berkiblat baitulloh. Keharmonisan yang damai dirasakan.
Namun, masihkan itu terjadi sekarang? Sulit rasanya. Jujur saja kita akan memandang berbeda orang-orang yang mengenakan jilbab Syar’i atau lebih-lebih yang memakai cadar atau penutup muka. Kita sadar atau tidak menganggap mereka beraliran berbeda, bukan lagi Islam yang sebenarnya. Bahkan mungkin tanpa sadar kita pernah mengeluarkan ucapan dari mulut awam kita bahwa mereka beraliran Islam ini, Islam itu, atau bahkan aliran sesat dan teroris. Naudzubillah. Astaghfirullohal adzim.
Yang lebih miris lagi, serangan tersebut bukan hanya ditujukkan pada wanita muslimah tersebut. Akan tetapi juga pada lelaki muslim yang kebetulan berpenampilan yang berbeda dari lelaki yang lain. Perbedaan tersebut bisa terjadi karena mereka memelihara jenggot dan tidak memelihara kumis, bercelana lebih tinggi, berjubah, atau dijidatnya berwarna hitam. Tuduhan dan cap sebagai "KELUARGA TERORIS" makin terasa meyakinkan manakala mereka tidak mau mengikuti ajaran yang bersifat tradisi seperti tidak mau mengikuti tahlilan kematian, Khaul, selamatan dan lainnya.
Astaghfirullohal adzim.
Sadarlah wahai saudaraku seiman Islam. Jangan karena kesalahan beberapa orang yang bertindak anarkis, terus orang yang berpenampilan serupa dikatakan sama. Karena berpenampilan seperti pakaian orang-orang yang pernah meneror Indonesia lantas kita sah mengatakan bahwa orang tersebut juga teroris tanpa meneliti lebih jauh lagi. Teroris bukanlah muslimin sejati karena Islam tidak mengajarkan peperangan dan kekerasan. Islam hanya memperbolehkan perang apabila kaum muslimin didzolimi oleh orang-orang kafir.
Tengoklah keluarga kita sekarang. Mungkin anak-anak kita, adik atau kakak kita, orang tua kita, saudara kita berpenampilan sama seperti orang-orang nasrani, Yahudi, atau majusi. Bahkan mungkin di antara keluarga kita bukan hanya sama dalam pakain, tetapi juga pola piker dan tindak-tanduknya. Mereka berpakaian tanpa menutupi aurat. Mereka berpikir hanya dengan mengandalkan logika tanpa iman. Mereka berbuat cabul, freesex, atau lainnya. Sekarang pertanyaan kita adalah “MAUKAH KITA DIKATAKAN SEBAGAI NASRANI, YAHUDI, ATAU MAJUSI????????” tentu jawabannya adalah “TIDAK!!”. Nah, kalau yang sama dalam pakaian, pola pikir, dan tindak-tanduk saja tidak mau diidentifikasikan dengan yang lainnya, apalagi yang sekadar sama dalam pakaian.
Zaman memang sudah gila. Orang tua lebih khawatir anaknya yang memakai pakaian jilbab syar’I daripada yang memakai pakaian dengan menugumbar aurat. Orang tua lebih khawatir melihat anaknya yang mengikuti kajian Islam daripada yang suka jalan-jalan di mall, konser, atau tempat hiburan. Lebih parah lagi, mengadakan acara kajian Islam harus seizing RT/RW sementara tontonan dangdut di kampong bebas tanpa izin malah mendapatkan sokongan dana dari warga masyarakat. Kiamat memang sudah dekat. Bersiaplah
Saya teringat sebuah hadits. Rasululloh pernah bersabda bahwa di hari akhir nanti, orang memegang iman Islam seperti layaknya memegang bara api yang sangat panas sehingga ingin segera dilepaskannya. Sekarang ini kondisi tersebut tengah terjadi. Orang ingin menegakkan Islam atau berpakaian Islami yang syar’I saja harus berlawanan dengan pandangan masyarakat. Dan mereka harus siap dicaci maki, dicerca, dikatakan aliran sesat, atau bahkan TERORIS. Yang membuat sedih lagi adalah, yang menagatakan semuanya itu adalah bibir dan mulit masyarakat Islam itu sendiri.
Sabtu, 04 Juni 2011
Parmin mempertanyakan tentang Hasil kelulusan
Malam itu pak Parmin dengan langkah tertunduk masuk ke sebuah mushola di RT 1 RW 2 di desa Kebagusan tempat dia tinggal. Hatinya gundah, karena tadi siang dia dengan hati teriris-iris menyaksikan anak didiknya di SMP 2 menerima hasil kelulusan. Hatinya perih, karena kejujuran yang selama ini dia agung-agungkan dan dia tanamkan pada siswa-siswanya berbuah pahit. Enam siswanya dinyatakan tidak lulus dalam menempuh ujuan Nasional tahun 2011 ini. Kegundahan itu kini semakin dalam dan terluka manakala terbayang kecurangan yang telah dilakukan oleh beberapa sekolah baik negeri maupun swasta di wilayah tempat dia mengajar.
Kesedihan yang nyata kini ia rasakan adalah hatinya merasa didzolimi tapi entah oleh siapa. Apakah oleh sikapnya yang "sok menjunjung tinggi kejujuran", ataukah oleh sekolah yang berbuat curang, atau.... bahkan oleh pemerintah yang TIDAK TEGAS dalam menyikapi hasil ujian nasional.
Parmin berpikir keras, untuk meyakinkah bahka keputusannya untuk berbuat jujur dan mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya adalah benar. Agama manapun akan mengatakan jujur adalah benar. Tapi kalau memang kejujuran adalah benar, mengapa kejujuran yang diagung-agungkan menjadi "Musibah" untuk murid-muridnya.
Kalau kejadian ini terjadi karena kesalahan sekolah-sekolah yang berbuat curang, bukankah mereka tidak berhubungan secara langsung dengan sekolahnya atau dengan siswanya? Kecurangan yang mereka lakukan kan hanya berhubungan dengan Alloh yang melihat dan maha mengetahui. Biarlah hukum Alloh yang akan menghakimi mereka.
Lalu, slah siapa? pemerintah? Entahlah. Pemerintah juga terasa adem ayem saja melihat kondisi tersebut. Mereka asyik-asyik saja melihat fenomena yang ada di masyarakat. Kecurangan demi kecurangan dianggap barang yang biasa saja.
"Pak guru ko wajahnya ditekuk saja kayak dompet tanggung bulan? Bukankah sekarang baru tanggal empat alias tanggal muda?" celetuk Kang Paijo tetangganya yang suka clatak-cletuk.
"Gak papa kok Jo" Jawab Parmin dengan tidak bersemangat.
"Eh, Pak. Bukankah tadi pagi kelulusan siswa kelas sembilan? Lulus berapa Pak guru murid sampeyan?" tanya Sanusi yang selalu memandang sinis terhadap sekolah umum semacam SMP 2 di desanya itu. Muncul juga pertanyaan yang sangat ia benci setiap kali pengumuman kelulusan sekolah.
"Alhamdulillah yang gak lulus cuma enam?" jawab Parmin dengan lesu. Hatinya berpikir bahwa kegagalan tersebut karena dirinya dan hanya dirinya. Sanusi tersenyum sinis.
"Kok beda yah, dengan MTs. di sana setiap tahun lulusannya selalu 100% dengan nilai yang bagus-bagus lagi" sindir Sanusi.
"Yah, biarkan saja toh, Mas" Jawab Parmin sekenanya.
"Berarti sekolah panjengan kualitasnya kalah jauh dari MTs. di desa anu dan anu itu dong"
Parmin emosi mendengan sekolahnya dijelekkan se[erti itu. Baginya sekolah tempat ia mengabdi tersebut sudah seperti dirinya sendiri. Menjelakkan sekolah sama artinya menjelekkan dirinya.
"Loh, kamu tahu prosesnya gak toh Si, sehingga bisa ngomong kayak gitu? seolah-olah kamu tahu persis prosesnya sehingga di MTs bisa lulus 100%? serang Parmin dengan masih mengendalikan diri.
"ya, gak perlu tahu prosesnya toh pak guru. Yang terpenting kan hasil akhirnya. Iya gak ?" ucap Paijo meminta dukungan dari teman lainnya.
"Ya, gak bisa begitu mas Sanusi. Nih saya kasih tahu yah. MTs. bisa lulus 100% karena membocorkan jawaban soalnya. Mereka memberikan siswanya jawaban sejumlah 35-40 soal padahal soalnya hanya 40-50 soal. Ya, wajar toh mereka nilainya bagus-bagus dan lulus semua." bela Parmin.
"Loh, kalau begitu, kenapa di sekolah Bapak tidak seperti itu? Kalau mereka bisa mengapa Bapak tidak?" celoteh Paijo. Sanusi merasa menang.
"Apa kalian kira Alloh itu buta sehingga tidak bisa melihat kecurangan yang dilakukan?" bela Parmin.
"Tapi kan untuk membantu pak guru. Kasian anak-anak. Alloh kan maha pengampun?"
Parmin terhenyak. Ya, benar Alloh maha pengampun tapi apakah bukan sebuah pelecehan kalau kita selalu berbuat salah dan minta ampun terus mengulang hal yang sama. Ya, Robb, tunjukkan kuasa-Mu atas mereka. Tunjukkan bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalaninya. Dan yang bathil itu bathil dan berilah kamu kekuatan untuk menghindarinya. Parmin menunduk lesu. Dunia sudah tua dan pikun sampai kebenaran yang ada tidak dapat dilihat oleh orang banyak.
READ MORE - Parmin mempertanyakan tentang Hasil kelulusan
Kesedihan yang nyata kini ia rasakan adalah hatinya merasa didzolimi tapi entah oleh siapa. Apakah oleh sikapnya yang "sok menjunjung tinggi kejujuran", ataukah oleh sekolah yang berbuat curang, atau.... bahkan oleh pemerintah yang TIDAK TEGAS dalam menyikapi hasil ujian nasional.
Parmin berpikir keras, untuk meyakinkah bahka keputusannya untuk berbuat jujur dan mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya adalah benar. Agama manapun akan mengatakan jujur adalah benar. Tapi kalau memang kejujuran adalah benar, mengapa kejujuran yang diagung-agungkan menjadi "Musibah" untuk murid-muridnya.
Kalau kejadian ini terjadi karena kesalahan sekolah-sekolah yang berbuat curang, bukankah mereka tidak berhubungan secara langsung dengan sekolahnya atau dengan siswanya? Kecurangan yang mereka lakukan kan hanya berhubungan dengan Alloh yang melihat dan maha mengetahui. Biarlah hukum Alloh yang akan menghakimi mereka.
Lalu, slah siapa? pemerintah? Entahlah. Pemerintah juga terasa adem ayem saja melihat kondisi tersebut. Mereka asyik-asyik saja melihat fenomena yang ada di masyarakat. Kecurangan demi kecurangan dianggap barang yang biasa saja.
"Pak guru ko wajahnya ditekuk saja kayak dompet tanggung bulan? Bukankah sekarang baru tanggal empat alias tanggal muda?" celetuk Kang Paijo tetangganya yang suka clatak-cletuk.
"Gak papa kok Jo" Jawab Parmin dengan tidak bersemangat.
"Eh, Pak. Bukankah tadi pagi kelulusan siswa kelas sembilan? Lulus berapa Pak guru murid sampeyan?" tanya Sanusi yang selalu memandang sinis terhadap sekolah umum semacam SMP 2 di desanya itu. Muncul juga pertanyaan yang sangat ia benci setiap kali pengumuman kelulusan sekolah.
"Alhamdulillah yang gak lulus cuma enam?" jawab Parmin dengan lesu. Hatinya berpikir bahwa kegagalan tersebut karena dirinya dan hanya dirinya. Sanusi tersenyum sinis.
"Kok beda yah, dengan MTs. di sana setiap tahun lulusannya selalu 100% dengan nilai yang bagus-bagus lagi" sindir Sanusi.
"Yah, biarkan saja toh, Mas" Jawab Parmin sekenanya.
"Berarti sekolah panjengan kualitasnya kalah jauh dari MTs. di desa anu dan anu itu dong"
Parmin emosi mendengan sekolahnya dijelekkan se[erti itu. Baginya sekolah tempat ia mengabdi tersebut sudah seperti dirinya sendiri. Menjelakkan sekolah sama artinya menjelekkan dirinya.
"Loh, kamu tahu prosesnya gak toh Si, sehingga bisa ngomong kayak gitu? seolah-olah kamu tahu persis prosesnya sehingga di MTs bisa lulus 100%? serang Parmin dengan masih mengendalikan diri.
"ya, gak perlu tahu prosesnya toh pak guru. Yang terpenting kan hasil akhirnya. Iya gak ?" ucap Paijo meminta dukungan dari teman lainnya.
"Ya, gak bisa begitu mas Sanusi. Nih saya kasih tahu yah. MTs. bisa lulus 100% karena membocorkan jawaban soalnya. Mereka memberikan siswanya jawaban sejumlah 35-40 soal padahal soalnya hanya 40-50 soal. Ya, wajar toh mereka nilainya bagus-bagus dan lulus semua." bela Parmin.
"Loh, kalau begitu, kenapa di sekolah Bapak tidak seperti itu? Kalau mereka bisa mengapa Bapak tidak?" celoteh Paijo. Sanusi merasa menang.
"Apa kalian kira Alloh itu buta sehingga tidak bisa melihat kecurangan yang dilakukan?" bela Parmin.
"Tapi kan untuk membantu pak guru. Kasian anak-anak. Alloh kan maha pengampun?"
Parmin terhenyak. Ya, benar Alloh maha pengampun tapi apakah bukan sebuah pelecehan kalau kita selalu berbuat salah dan minta ampun terus mengulang hal yang sama. Ya, Robb, tunjukkan kuasa-Mu atas mereka. Tunjukkan bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalaninya. Dan yang bathil itu bathil dan berilah kamu kekuatan untuk menghindarinya. Parmin menunduk lesu. Dunia sudah tua dan pikun sampai kebenaran yang ada tidak dapat dilihat oleh orang banyak.
Senin, 16 Mei 2011
LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL
Zaman memang sudah gila, lha, bagaimana tidak, perzinaan seakan sudah menjadi barang biasa. Pelaku perzinaan seakan gak merasa bersalah. kayak kang Seri itu. Lelaki tua yang umurnya tinggal menunggu giliran saja masih doyan sama perempuan. lebih parahnya lagi, yang jadi incaran kali ini Yu Pahing, istrinya kang wirid, yang bekerja jadi tukang becak di Jakarta. Yu Pahing rupanya sudah gak tahan jadi jablai karena Kang Wirid waktunya habis untuk menaiki becak, sementara istrinya dianggurin saja. Sementara Kang Seri, yang wajahnya selalu berseri-seri masih dengan gairah mudanya dalam casing tubuh yang sudah keriput membutuhkan pelabuhan hasratnya. Istrinya sudah tidak mampu melayaninya lagi. Sudah menopouse katanya.
pucuk dicintai ulam pun tiba. Sama-sama butuh. "Gendul ketemu cupuny" kata orang Jawa bilang. terjadilah perselingkuhan yang diharapkan oleh setan (padahal mereka yang mengharapkan). gilanya lagi, istri Kang Seri sudah mengendus kelakuan suaminya. gila....gila..... agama sudah pada kemana ya?
akhirnya sepandai-pandai menyimpan bangkai, terbongkar juga baunya. Kang Wirid tahu, istrinya, Yu Pahing, berselingkuh dengan kang Seri yang katanya masih bau sodara. Kang Wirid naik pitam. Dengan semangat empat lima penuh amarah dia pulang dari Jakarta meninggalkan becak kesayangannya. hatinya panas, terbakar.
setelah lama perjalanan dari Jakarta sampai rumah, kang Wirid masih menyimpan amarahnya yang kini dibungkus tenaga yang kian loyo. istrinya menyambut dengan muka cemberut menampakkan sikap siap didamprat suaminya. tiba-tiba muncul juga kata-kata dari mulut kang Wirid.
"Kamu tuh apa gak malu melakukan perzinaan dengan kang Seri?"
"Pake, gak usah marah-marah gitu deh. Ini juga salah sampean." potong Yu Pahing.
"lha salahku apa? wong aku kerka keras banting tulang di Jakarta kok!" bela kang Wirid.
"Ya, memang. tapi apa pernah sampean kirim untuk anak istri? kami butuh uang pak, butuh duit.!!!!"
"lalu apa hubungannya kamu butuh duit dengan selingkuhnya kamu?" bentak kang Wirid mencoba menyudutkan.
"Lha kang Seri kan ngasih duit ke aku. sebagai imbalannya, ya, dia juga kan butuh pelampiasan. aku pikir daripada aku banyak utang, dan juga aku kan butuh itu, mengapa tidak?"
"Apa................"
Kang Wirid tertegun. Sebagai suami dia merasa tidak bertanggung jawab. Lalu diambinya tas kresek bawaannya dan segera diserahkan pada Yu Pahing tanpa berkata-kata lagi. dipakainya sendal cepit kesayangannya kemudian segera beranjak ke luar. kembali ke Jakarta menemui becak kesayangannya.
Contoh tadi adalah sekelumit kisah yang sering kita jumpai di masyarakat. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan fenomena perselingkugan dan perzinaan. Pandangan minir terhadap pelaku hany sesaat. Pelaku pun tidak merasa berdosa ataupun bersalah telah menodaoi norma agama dan norma kemasyarakatan.
Benarkah dunia sudah semakin renta, sehingga kondisi seperti itu sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat atas dengan pola aksi yang lebig axelent. Sementara masyarakat bawah, dengan pola yang lebih sederhana yaitu uang sex. Bukankah kedua hal tersebut adalah pola terprimitif yang akan mendorong orang menerobos batas norma yang ada,
READ MORE - LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL
pucuk dicintai ulam pun tiba. Sama-sama butuh. "Gendul ketemu cupuny" kata orang Jawa bilang. terjadilah perselingkuhan yang diharapkan oleh setan (padahal mereka yang mengharapkan). gilanya lagi, istri Kang Seri sudah mengendus kelakuan suaminya. gila....gila..... agama sudah pada kemana ya?
akhirnya sepandai-pandai menyimpan bangkai, terbongkar juga baunya. Kang Wirid tahu, istrinya, Yu Pahing, berselingkuh dengan kang Seri yang katanya masih bau sodara. Kang Wirid naik pitam. Dengan semangat empat lima penuh amarah dia pulang dari Jakarta meninggalkan becak kesayangannya. hatinya panas, terbakar.
setelah lama perjalanan dari Jakarta sampai rumah, kang Wirid masih menyimpan amarahnya yang kini dibungkus tenaga yang kian loyo. istrinya menyambut dengan muka cemberut menampakkan sikap siap didamprat suaminya. tiba-tiba muncul juga kata-kata dari mulut kang Wirid.
"Kamu tuh apa gak malu melakukan perzinaan dengan kang Seri?"
"Pake, gak usah marah-marah gitu deh. Ini juga salah sampean." potong Yu Pahing.
"lha salahku apa? wong aku kerka keras banting tulang di Jakarta kok!" bela kang Wirid.
"Ya, memang. tapi apa pernah sampean kirim untuk anak istri? kami butuh uang pak, butuh duit.!!!!"
"lalu apa hubungannya kamu butuh duit dengan selingkuhnya kamu?" bentak kang Wirid mencoba menyudutkan.
"Lha kang Seri kan ngasih duit ke aku. sebagai imbalannya, ya, dia juga kan butuh pelampiasan. aku pikir daripada aku banyak utang, dan juga aku kan butuh itu, mengapa tidak?"
"Apa................"
Kang Wirid tertegun. Sebagai suami dia merasa tidak bertanggung jawab. Lalu diambinya tas kresek bawaannya dan segera diserahkan pada Yu Pahing tanpa berkata-kata lagi. dipakainya sendal cepit kesayangannya kemudian segera beranjak ke luar. kembali ke Jakarta menemui becak kesayangannya.
Contoh tadi adalah sekelumit kisah yang sering kita jumpai di masyarakat. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan fenomena perselingkugan dan perzinaan. Pandangan minir terhadap pelaku hany sesaat. Pelaku pun tidak merasa berdosa ataupun bersalah telah menodaoi norma agama dan norma kemasyarakatan.
Benarkah dunia sudah semakin renta, sehingga kondisi seperti itu sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat atas dengan pola aksi yang lebig axelent. Sementara masyarakat bawah, dengan pola yang lebih sederhana yaitu uang sex. Bukankah kedua hal tersebut adalah pola terprimitif yang akan mendorong orang menerobos batas norma yang ada,
Minggu, 01 Mei 2011
PARMIN MENGGUNGAT UJIAN NASIONAL
Kamis tanggal 28 April 2011, Parmin pulang dengan muka bersungut-sungut. Tampak jelas di wajahnya yang kusam tersembul sebuah amarah yang di tahan. Mak Saodoh melihat gejala suaminya kayak gitu diam saja. Ada sedikit takut di hati Saodah siang itu. Jam dinding masih menunjukkan pukul 10.30 WIB. Saodah mereka-reka dalam hati, apa karena dia belum masak sesiang itu sehingga Parmin suaminya memasang muka angker. Ah, tidak biasanya dia seperti itu. Sebagai seorang guru, Parmin merupakan contoh guru yang baik, bersih dalam bertingkah dan berbuat. Baginya pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia. Tak pernah sekalipun Parmin pulang dengan muka masam seperti itu meskipun sebelumnya habis diomelin kepala sekolah.
Saodah dengan takut-takut mendatangi Parmin. Parmin masih diam saja. Mukanya masih dilipat dalam. Bibirnya yang agak dower semakin dower dilihatnya saat itu.
"Mas, lapar?" tanya Saodah mencoba mengorek duduk permasalahan yang tengah terjadi pada Parmin, suaminya. Parmin diam saja. Hanya gelengan saja sebagai jawaban pertanyaan Saodah. Saodah kembali berbicara.
"Maaf, Mas. saya belum masak. Habis Yu, Jum tukang sayur langgananku belum lewat juga. Apa dia sakit yah?
"Nda papa. Lagian saya juga tadi dah makan" jawab Parmin mulai bersuara. Saodah girang. Rupanya permasalahan yang menimpa Parmin tidak berkenaan dengannya.
"Lalu,... kenapa Mas Parmin mukanya dilipat kayak dompet tanggung bulan. Sabar toh, Mas. Sekarang kan sudah tanggal 28, sebentar lagi juga tanggal satu. Mas kan gajian. Apa lagi denger-denger bulan depan gajian naik ya Mas?"
"Tahu!" Jawab Parmin singkat menanggapi kata-kata Saodah yang panjang kayak kereta. Saodah paham benar kelakuan Parmin. Kalau sudah begitu biasanya ada masalah yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.
"Ada masalah apa toh, Mas? mbok yao crita sama aku. Siapa tahu bisa mengurangi beban" kata Saodah dengan penuh pengertian sebagai seorang istri solihah.
"Aku lagi mangkel, Dah. mangkel bin jengkel bin enek. kurang ajar itu orang-orang" ucap Parmin emosi.
"Loh, mangkel kenapa apa?" yanya Saodah bingung.
"Sudah empat hari aku ngawasi ujian nasional di MTs di dekat kantor kecamatan, Dah. Selama itu pula aku menemukan kecurangan-kecurangan. Hari pertama pada pelajaran Bahasa Indonesia, lah wong soal baru dibagi lima menitan, kok lembar jawaban sudah banyak yang diisi. Awalnya aku ndak curiga. Aku pikir mereka pintar-pintar. Hari kedua pelajaran matematika. Eh, lebih gila, Dah. mereka sudah bisa mengisi semua pertanyaan tanpa harus melakukan penghitungan di kertas oret-oretan. Apa mereka dukun semua sehingga bisa menghitung sesuatu hanya dengan semedi atau umas-umis saja. hari ketiga pelajaran bahasa Inggris. Dah-dah mereka bawa kepekan jawaban soal. Tahu gak Dah berapa jawaban soal yang mereka bawa. 40 soal dah, 40. Sementara jumlah soal semuanya hanya 50. aku tanya, dari mana jawaban itu mereka dapatkan. Eh, mereka jawab dari gurunya. Astaghfirulloh. Seorang guru telah merusak hakikat dari pendidikan. Lalu akan menjadi apa mereka dah kalau sejak SMP mereka sudah diajari hal-hal yang tidak benar. Lalu hari keempat saat pelajaran IPA, aku juga menemukan kepekan jawaban sebanyak 30 soal. Padahal itu di ruang yang berbeda. Aku kembali bertanya sama mereka. Mereka menjawab yang memberikan jawaban itu adalah kepala sekolahnya. Gila................ Seorang kepala sekoloh yang seharusnya jadi pemimpin yang baik malah menjadi koordinaor tindak kecurangan semacam itu. dan lebih gila lagi dah, itu terjadi di sebuah MTs., sekolah agama Dah! Apa mereka pikir Alloh buta apa? aku masih menahan geram sama guru-guru di sekolah itu. Hilang sudah penghormatanku kepada mereka yang kerap aku panggil ustad kalau bertemu mereka. Yang lebih gila lagi Dah, Pak Haji Mardi, itu loh guru di SMP 1 Angin-angin, mengatakan sama aku itu sudah biasa dan menyuruh sekolahku juga melakukan hal seperti itu. Mereka menyalahkan sekolahku yang berbuat jujur dalam melaksanakan ujian nasional. Haji Mardi mengatakan bahwa sekolahku lugu, pantas saja banyak yang tidak lulus. Dasar brengsek itu haji. Tidak pantas kata-kata itu keluar dari mulut orang yang bermartabat, apalagi dia kan guru, sudah haji lagi"
"Katanya sekarang paketnya dah 5 paket, kok masih bisa begitu?" tanya Saodah heran.
"Mau paket soal 5 atau 20 sekalipun, kalau pembagian soalnya dah diatur, sama saja bohong. Tabiat setannya masih melihat peluang untuk berbuat curang"
"ya, laporkan saja ke Dinas pendidikan kabupaten!" saran Saodah membela suaminya.
"tahunkemarin menemukan kasus seperti itu dan sudah dilaporkan, tapi hasilnya NOL BESAR. Mereka ndak mau tahu tentang hal itu. Bagi mereka kalu di kabupaten tingkat kelulusannya tinggi berarti prestasi mereka bagus"
"Lalu?" tanya Saodah bingung.
"Au ah gelap. tunggu saja 10 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi apa. Bukankah 10 tahun ke depan merekalah yang akan menjadi generasi penerus pembangunan. Siap-siap saja Gayus bukan hanya satu, tapi seratus juta Gayus di Indonesia."
"Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh?????????" Saodah hanya melongo.
READ MORE - PARMIN MENGGUNGAT UJIAN NASIONAL
Saodah dengan takut-takut mendatangi Parmin. Parmin masih diam saja. Mukanya masih dilipat dalam. Bibirnya yang agak dower semakin dower dilihatnya saat itu.
"Mas, lapar?" tanya Saodah mencoba mengorek duduk permasalahan yang tengah terjadi pada Parmin, suaminya. Parmin diam saja. Hanya gelengan saja sebagai jawaban pertanyaan Saodah. Saodah kembali berbicara.
"Maaf, Mas. saya belum masak. Habis Yu, Jum tukang sayur langgananku belum lewat juga. Apa dia sakit yah?
"Nda papa. Lagian saya juga tadi dah makan" jawab Parmin mulai bersuara. Saodah girang. Rupanya permasalahan yang menimpa Parmin tidak berkenaan dengannya.
"Lalu,... kenapa Mas Parmin mukanya dilipat kayak dompet tanggung bulan. Sabar toh, Mas. Sekarang kan sudah tanggal 28, sebentar lagi juga tanggal satu. Mas kan gajian. Apa lagi denger-denger bulan depan gajian naik ya Mas?"
"Tahu!" Jawab Parmin singkat menanggapi kata-kata Saodah yang panjang kayak kereta. Saodah paham benar kelakuan Parmin. Kalau sudah begitu biasanya ada masalah yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.
"Ada masalah apa toh, Mas? mbok yao crita sama aku. Siapa tahu bisa mengurangi beban" kata Saodah dengan penuh pengertian sebagai seorang istri solihah.
"Aku lagi mangkel, Dah. mangkel bin jengkel bin enek. kurang ajar itu orang-orang" ucap Parmin emosi.
"Loh, mangkel kenapa apa?" yanya Saodah bingung.
"Sudah empat hari aku ngawasi ujian nasional di MTs di dekat kantor kecamatan, Dah. Selama itu pula aku menemukan kecurangan-kecurangan. Hari pertama pada pelajaran Bahasa Indonesia, lah wong soal baru dibagi lima menitan, kok lembar jawaban sudah banyak yang diisi. Awalnya aku ndak curiga. Aku pikir mereka pintar-pintar. Hari kedua pelajaran matematika. Eh, lebih gila, Dah. mereka sudah bisa mengisi semua pertanyaan tanpa harus melakukan penghitungan di kertas oret-oretan. Apa mereka dukun semua sehingga bisa menghitung sesuatu hanya dengan semedi atau umas-umis saja. hari ketiga pelajaran bahasa Inggris. Dah-dah mereka bawa kepekan jawaban soal. Tahu gak Dah berapa jawaban soal yang mereka bawa. 40 soal dah, 40. Sementara jumlah soal semuanya hanya 50. aku tanya, dari mana jawaban itu mereka dapatkan. Eh, mereka jawab dari gurunya. Astaghfirulloh. Seorang guru telah merusak hakikat dari pendidikan. Lalu akan menjadi apa mereka dah kalau sejak SMP mereka sudah diajari hal-hal yang tidak benar. Lalu hari keempat saat pelajaran IPA, aku juga menemukan kepekan jawaban sebanyak 30 soal. Padahal itu di ruang yang berbeda. Aku kembali bertanya sama mereka. Mereka menjawab yang memberikan jawaban itu adalah kepala sekolahnya. Gila................ Seorang kepala sekoloh yang seharusnya jadi pemimpin yang baik malah menjadi koordinaor tindak kecurangan semacam itu. dan lebih gila lagi dah, itu terjadi di sebuah MTs., sekolah agama Dah! Apa mereka pikir Alloh buta apa? aku masih menahan geram sama guru-guru di sekolah itu. Hilang sudah penghormatanku kepada mereka yang kerap aku panggil ustad kalau bertemu mereka. Yang lebih gila lagi Dah, Pak Haji Mardi, itu loh guru di SMP 1 Angin-angin, mengatakan sama aku itu sudah biasa dan menyuruh sekolahku juga melakukan hal seperti itu. Mereka menyalahkan sekolahku yang berbuat jujur dalam melaksanakan ujian nasional. Haji Mardi mengatakan bahwa sekolahku lugu, pantas saja banyak yang tidak lulus. Dasar brengsek itu haji. Tidak pantas kata-kata itu keluar dari mulut orang yang bermartabat, apalagi dia kan guru, sudah haji lagi"
"Katanya sekarang paketnya dah 5 paket, kok masih bisa begitu?" tanya Saodah heran.
"Mau paket soal 5 atau 20 sekalipun, kalau pembagian soalnya dah diatur, sama saja bohong. Tabiat setannya masih melihat peluang untuk berbuat curang"
"ya, laporkan saja ke Dinas pendidikan kabupaten!" saran Saodah membela suaminya.
"tahunkemarin menemukan kasus seperti itu dan sudah dilaporkan, tapi hasilnya NOL BESAR. Mereka ndak mau tahu tentang hal itu. Bagi mereka kalu di kabupaten tingkat kelulusannya tinggi berarti prestasi mereka bagus"
"Lalu?" tanya Saodah bingung.
"Au ah gelap. tunggu saja 10 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi apa. Bukankah 10 tahun ke depan merekalah yang akan menjadi generasi penerus pembangunan. Siap-siap saja Gayus bukan hanya satu, tapi seratus juta Gayus di Indonesia."
"Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh?????????" Saodah hanya melongo.
Sabtu, 23 April 2011
NASIHAT UNTUK ANAKKU
Nak,
Tiga tahun sudah kalian bersamaku di sini, di sekolah ini. Bersama menempa diri dengan tenaga dan pikiran yang sederhana yang aku miliki. Dengan alat sederhana, dengan kata-kata sederhana untuk meraih tujuan mulia.
Nak, tanpa terasa waktu begitu cepat meninggalkan kita. Kini sehari lagi kalian akan berjumpa dengan "Ujian Nasional". Tak perlu takut dan tak perlu risau karena dia hanyalah sebuah ciptaan seperti juga dirimu. Tiga tahun engkau telah menempa diri meski hanya dengan cara yang sederhana. Tiga tahun telah enkau aku bekali tuk menghadapi saat seperti ini.
Ujian, ya ujian. Sebuah kata yang kini menjadi momok dalam duniamu saat ini. Tapi tidakkah engkau menyadari, apa yang akan kau jumpai hanya beberapa lembar kertas dengan beberapa pertanyaan yang harus kau jawab. Bukankah itu sudah biasa kita lakukan akhir-akhir ini. Aku yakin, engkau sanggup menjawabnya karena telah engkau buktikan saat engkau mengerjakan soal sejenis meski dengan suasana yang lain.
Ya, suasana yang akan membedakannya. Hanya suasana. Tapi...., bukankah yang akan menentukan bisa dan tidaknya engkau menjawab adalah bekal kalian yang telah kami berikan??? bukan lagi suasana. Suasana hanyalah kabut yang akan menjadi apa saja tergantung pikiran kalian. Dia akan menjadi indah manakala kalian berpikir positif. Begitu pula dia akan menjadi menakutkan apabila kalian berpikiran negatif.
Nak, setelah tiga tahun kau tempa diri di sekolah ini, janganlah engkau akhiri dengan air mata duka. Duka itu akan terus terbayang di kepala kami. Berilah akhir perjalananmu dengan senyum dan tawa ceria agar kami turut berbangga. Bisakah semua ini terjadi.....???????
Nak, aku yakin bisa. Engkau telah menempa diri dengan sekuat tenaga. Enkau telah meminta dengan doa-doa pada yang Mahakuasa. yakinlah, bahwa Alloh azza wa jalla akan mengabulkan doa kita. Bukankah Alloh telah berfirman "Ud unii asytajib lakum" (maaf kalau ada kekeliruan redaksi) yang artinya, Memintalah engkau pada-Ku (Alloh) niscaya akan Aku akan mengabulkannya. Bukankah Alloh tak pernah berbohong....?
Selamat belajar anakku, Mantapkan dalam hatimu bahwa Alloh akan menolongmu. Tersenyumlah menanti ambang keberhasilanmu.
READ MORE - NASIHAT UNTUK ANAKKU
Tiga tahun sudah kalian bersamaku di sini, di sekolah ini. Bersama menempa diri dengan tenaga dan pikiran yang sederhana yang aku miliki. Dengan alat sederhana, dengan kata-kata sederhana untuk meraih tujuan mulia.
Nak, tanpa terasa waktu begitu cepat meninggalkan kita. Kini sehari lagi kalian akan berjumpa dengan "Ujian Nasional". Tak perlu takut dan tak perlu risau karena dia hanyalah sebuah ciptaan seperti juga dirimu. Tiga tahun engkau telah menempa diri meski hanya dengan cara yang sederhana. Tiga tahun telah enkau aku bekali tuk menghadapi saat seperti ini.
Ujian, ya ujian. Sebuah kata yang kini menjadi momok dalam duniamu saat ini. Tapi tidakkah engkau menyadari, apa yang akan kau jumpai hanya beberapa lembar kertas dengan beberapa pertanyaan yang harus kau jawab. Bukankah itu sudah biasa kita lakukan akhir-akhir ini. Aku yakin, engkau sanggup menjawabnya karena telah engkau buktikan saat engkau mengerjakan soal sejenis meski dengan suasana yang lain.
Ya, suasana yang akan membedakannya. Hanya suasana. Tapi...., bukankah yang akan menentukan bisa dan tidaknya engkau menjawab adalah bekal kalian yang telah kami berikan??? bukan lagi suasana. Suasana hanyalah kabut yang akan menjadi apa saja tergantung pikiran kalian. Dia akan menjadi indah manakala kalian berpikir positif. Begitu pula dia akan menjadi menakutkan apabila kalian berpikiran negatif.
Nak, setelah tiga tahun kau tempa diri di sekolah ini, janganlah engkau akhiri dengan air mata duka. Duka itu akan terus terbayang di kepala kami. Berilah akhir perjalananmu dengan senyum dan tawa ceria agar kami turut berbangga. Bisakah semua ini terjadi.....???????
Nak, aku yakin bisa. Engkau telah menempa diri dengan sekuat tenaga. Enkau telah meminta dengan doa-doa pada yang Mahakuasa. yakinlah, bahwa Alloh azza wa jalla akan mengabulkan doa kita. Bukankah Alloh telah berfirman "Ud unii asytajib lakum" (maaf kalau ada kekeliruan redaksi) yang artinya, Memintalah engkau pada-Ku (Alloh) niscaya akan Aku akan mengabulkannya. Bukankah Alloh tak pernah berbohong....?
Selamat belajar anakku, Mantapkan dalam hatimu bahwa Alloh akan menolongmu. Tersenyumlah menanti ambang keberhasilanmu.
Langganan:
Postingan (Atom)
