Tampilkan postingan dengan label Kesusastraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesusastraan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2020

Fabel Pembangun Karakter: TAK ADA YANG PATUT DISESALI


 Oleh : Farichin


Fabel dengan judul "Tak Ada yang Patut Disesali" merupakan sebuah fabel karakter. Karakter yang paling kuat muncul dalam fabel ini adalah rasa syukur atas segala karunia yang telah Tuhan berikan. Tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu fabel ini mengajarkan kita untuk bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

D

i sebuah dahan beringin, seekor gagak tengah berdiam diri di balik rimbunnya daun. Matanya sayu dengan sorot kesedihan. Tatapannya lurus pada ranting pohon mahoni tak jauh dari tempatnya bersembunyi.

Sepasang merpati tengah asyik bercanda di situ. Bulu abu-abu kebiruan tampak berkilau terkena sinar matahari pagi. Kepalanya yang mungil terus bergerak membuat bulu-bulu di lehernya tampak berkilauan. Sementara sang jantan dengan setianya menemani betinanya. Keserasian hidup yang membahagiakan.

Tanpa sadar gagak menitikkan air mata. Ia menyesali nasibnya yang dirasakan menyedihkan. Bagaimana tidak, tampilannya hitam legam tak seperti merpati dengan bulu halus dan berkilauan. Lagi pula dia juga hidup sendiri. Rasanya tak ada yang mau menjadi teman hidupnya.

Tak kuat menahan kesedihan, gagak terbang meninggalkan burung merpati. Dia tak mau berlama-lama menyaksikan kejadian yang membuat iri hati. Lagi pula semakin lama dia di sana mengamati merpati akan semakin membuat penyesalan diri. Dia tidak mau kesedihannya diketahui oleh makhluk lain.

Cukup jauh gagak terbang menjauh dari merpati. Dia hinggap di sebuah ranting sebuah pohon yang tumbuh di pinggir danau. “Ah, di sini rasanya tempat yang cocok. Aku tak perlu melihat kelebihan burung-burung lain. Sangat menyakitkan” bisik hati Gagak.

Belum lama Gagak bertengger, tiba-tiba lewat seekor angsa di tengah danau. Tubuhnya besar dan kekar. Bulunya yang putih bersih sangat anggun dan indah sekali. Paruhnya yang kuning tampak serasi berpadu dengan putihnya bulu-bulu yang begitu indah. “Betapa indahnya angsa ini” bisik hati Gagak.

Gagak bersiap untuk terbang. Ia tidak ingin hatinya kembali sedih melihat keindahan dan kebahagian angsa. Namun belum sempat dia terbang, angsa terlanjur melihat.

“Hai, Gagak. Sedang apa sendirian di situ? Mari ke sini. Kita ngobrol-ngobrol” sapa angsa ramah.

Gagak bertemu dengan angsa yang indah

 

 

Mendengar sapaan angsa. Gagak dengan terpaksa turun menghampiri angsa di pinggir danau. Dia tidak ingin dicap sebagai burung buruk rupa yang sombong, angkuh, dan tak tahu diri. Mereka ngobrol bertanya kabar masing-masing. Sampai pada suatu saat Gagak tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Kenapa tiba-tiba kau tampak murung, Gagak?” tanya angsa penuh perhatian.

“Ah, tak apa-apa,” jawab Gagak singkat.

“Kalau kau mau berbagi kesedihan denganku, aku siap kok mendengarkan. Siapa tahu dapat mengurangi beban kesedihanmu itu” ucap angsa tulus.

“E.... sebenarnya aku iri padamu Angsa,”

“Iri? Padaku? Apa yang kau irikan dari aku Gagak. Ada-ada saja kamu?” kata Angsa sambil tersenyum ramah. Tak sedikitpun ada rasa kesal mendengar pengakuan Gagak.

“Coba kau perhatikan aku. Aku hitam, kotor, dan suaraku juga keras menakutkan,” kata Gagak sambil menunjuk pada diri sendiri.

Angsa mengamati Gagak dengan seksama. Tapi tak dilihatnya ada kekurangan yang pantas dijadikan alasan untuk bersedih.

“Menurutku kamu tidak seburuk yang kamu ucapkan,” kata Angsa.

“Tidak buruk bagaimana? Lihat dirimu. Bulumu putih, bersih, dan kekar. Jalanmu juga terlihat anggun,” jelas Gagak.

“Kalau fisik yang kau jadikan patokan, seharusnya aku juga iri pada Merak,”

“Merak?”

“Ya, Merak,” jelas Angsa.

“Seperti apa dia?” tanya Gagak penasaran.

“Sulit untuk digambarkan. Kalau kau melihat dia pasti engkau akan terkagum-kagum. Dulu aku juga pernah iri terhadapnya, tapi setelah aku pikir-pikir, buat apa aku iri,” jelas Angsa.

“Di mana aku bisa bertemu dengan Merak yang kau ceritakan?” tanya Gagak penasaran.

“Kau bisa menemuinya di Kebun Binatang tak jauh dari hutan ini,” jelas Angsa.

Gagak kemudian berpamitan. Tekadnya bulat untuk melihat Merak. Dia ingin memastikan bahwa merak itu burung terindah yang pasti kehidupannya sempurna.

Tak berapa lama berselang, tibalah Gagak di kandang Merak. Dari atas ranting pohon yang tumbuh tak jauh dari kandang Merak, dia mengamati Merak yang sangat indah. Tubuhnya besar dan gagah. Yang lebih menakjubkan lagi adalah ekornya dapat dikembangkan seperti sebuah kipas. Saat dikembangkan, wow.... tampaklah corak dan pola yang sangat indah. Hijau kebiruan dengan pola bulat-bulat menyerupai mata. Dan pola bulat-bulat itu terlihat berkilauan seperti permata yang tersusun rapi.

Gagak ingin sekali melihatnya lebih dekat. Namun banyak orang yang berada di sekitarnya. Mereka mengagumi keindahan merak. Ada yang mengambil foto ada pula yang berdecak kagum.

Lama Gagak menunggu waktu yang tepat untuk berbincang dengan Merak. Setelah agak sepi, Gagak memberanikan diri menghampiri merak.

Gagak menemui merak

 

“Selamat siang Merak,” sapa Gagak.

“Selamat siang. Eh, Gagak. Ada apa? Tumben kamu main ke sini?” tanya Merak ramah. Tampak dari wajahnya terlihat kelelahan. Namun dia berusaha untuk berlaku ramah.

“Eh, Merak boleh aku tanya sesuatu?” tanya Gagak setelah berbasa-basi sekadarnya.

“Boleh. Mau tanya apa?”

“Bagaimana rasanya memiliki bulu seindah bulu itu? Pasti rasanya senang.... sekali. Engkau dipuji dan dipuja seluruh makhluk. Bahkan manusia pun rela datang ke sini hanya untuk melihat keindahanmu itu,” kata Gagak dengan mata berbinar seolah dia telah memiliki keindahan  bulu seperti merak.

Merak terdiam. Pandangannya jauh menatap ke luar kandang tempat tinggalnya.

“Merak, kenapa diam?” suara Gagak mengagetkan.

“Eh, iya. Maaf. Aku bingung harus berkata apa. Kalau dibilang senang, aku senang. Keindahanku banyak dikagumi orang. Tapi keindahnku tersebut membuat aku lelah. Orang-orang itu menginginkan aku terus menari di depan mereka. Engkau tahu, seharian menari membuat tubuhku capek sekali,” terang Merak.

“Tapi capek yang membahagiakan kan? Memiliki Keindahan bulu seperti tubuhmu yang tiada duanya itu pasti menyenangkan”  kata Gagak lagi.

“Kalau keindahan bulu menjadi satu patokan kebahagiaan, seharusnya aku iri pada cenderawasih. Dialah yang sepantasnya hidup paling bahagia,” terang Merak.

“Cenderawasih?” tanya Gagak penasaran.

“Ya, Cenderawasih. Engkau kenal dia?” tanya Merak lagi.

“Tidak. Tapi aku pernah mendengar cerita tentang dia, tentang keindahan bulu-bulunya, tentang kecantikan rupanya dan lain-lain. Tapi setelah aku melihat kamu, aku pikir kamulah yang paling cantik,” kata Gagak masih dengan kekaguman kepada Merak.

“Kamu salah Gagak. Ada yang lebih cantik lagi dibandingkan aku. Dialah cenderwasih,”jelas Merak.

“Benarkah?”

“Benar,” kata Merak mantap.

“Di mana aku bisa menemuinya?”

“Kebetulan dia juga tinggal di kebun binatang ini. Cobalah kau terbang ke arah timur. Di sana engkau akan menjumpai kandang cenderwasih.

Gagak kembali terbang. Hatinya dipenuhi rasa penasaran untuk melihat keindahan Cenderawasih yang diceritakan Merak. Tak lama kemudian, dia bertemu dengan sebuah kandang yang terbuat dari kawat besar.

Di dalam kandang tampak seekor burung yang sangat cantik. Betul kata Merak, dia lebih cantik. Tubuhnya tidak terlalu besar memang. Tapi bulu-bulunya yang halus dan panjang dengan warna coklat kemerahan dan kuning keemasan. Pantas sekali kalau dia dijuluki sebagai burung surga.

Gagak masih terus asyik menatap keindahan cenderawasih. Rasanya dia semakin yakin bahwa dia adalah burung dengan nasib terburuk. “Rasanya malu sekali melihat diri ini” bisik hatinya.

“Ya Tuhan, mengapa Engkau ciptakan aku dalam keadaan serupa ini? Apakah ini adil?” Gagak menangis histeris. Suaranya terdengar sampai ke telinga Cenderawasih.

 

Gagak bertemu dengan Cenderawasih

Cenderawasih menghampiri Gagak dari balik kandangnya.

“Hai, bukankah engkau Gagak?” Tanya Cenderawasih.

Gagak kaget mendengar suara Cenderawasih yang nyaring itu. Dia heran, mengapa burung seindah Cenderawasih mengenal dirinya yang begitu buruk.

“Ya, betul.” Jawab Gagak gugup. “Kamu kenal aku?” tanya Gagak ragu.

“Ya. Semua burung yang ada di kebun binatang ini kenal kamu.” Jelas Cenderawasih.

“Ah, masak?” tanya Gagak tak percaya.

“Betul. Buat apa aku bohong,” kata Cenderawasih meyakinkan.

“Aku tak percaya, burung seindah dirimu mengenal aku yang buruk rupa,” kata Gagak pelan.

“Kata siapa kamu buruk?” Cenderawasih balik bertanya.

“Tidak ada sih. Tapi aku sadar diri. Lihat tubuhku yang hitam legam dan terlihat kusam dan kotor. Suaraku juga keras memekakkan telinga,” ucap Gagak sedih. “Bahkan orang-orang akan takut jika aku berada di sekitar mereka,” lanjut Gagak lagi.

“Itulah Gagak. Mengapa kami yang tinggal di kebun binatang ini mengenalmu?”

“Karena penampilanku kan?”

“Bukan. Cobalah engkau berpikir positif dari keadaan dirimu itu. Semua orang takut jika engkau dekati. Dengan demikian, engkau menjadi burung paling bebas di muka bumi ini. Engkau tak perlu khawatir akan keselamatanmu dan anak keturunanmu. Tidak seperti kami,” jelas Cenderawasih.

“Tapi aku tak punya keindahan bulu seperti kalian,” kata Gagak.

“Buat apa memiliki bulu yang indah kalau kita hidup terkungkung. Kamu lihat aku sekarang, Gagak. Keindahan buluku menjadikan aku hidup dalam kandang yang sempit. Lebih parah lagi, saudara-saudaraku yang masih hidup di hutan juga harus terus bertarung nyawa dengan kejaran para pemburu. Mereka menginginkan bulu-bulu kami tanpa pernah memikirkan kehidupan kami. Hanya demi kesenangan, mereka membantai kami untuk dijadikan topi atau hiasan kepala” Cenderawasih menitikan air mata.

“Begitukah?”

“Ya. Seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu seperti sekarang ini. Tidak ada yang ingin lahir buruk. Tidak pula aku ingin dilahirkan dalam keadaan diburu orang. Kalau aku boleh memilih, aku ingin menjadi seperti kamu, Gagak. Hidup bebas, terbang kemana aku suka. Dan keluargaku aman dari perburuan orang yang tak bertanggung jawab”

Gagak tersadar. Ternyata apa yang dilihat orang tidaklah seperti apa yang dipikirkan kita. Kebahagiaan yang kita lihat ternyata tidak selalu benar adanya. Bersyukur atas apa yang terjadi ternyata akan menjadi lebih membahagiakan.

Ternyata tidak ada makhluk yang sempurna. Pun dengan dirinya. Makhluk lain memiliki kelebihan, Gagak pun memiliki kelebihan. Yang lain memiliki kekurangan, dia pun memiliki kekurangan. Namun kelebihan dan kekurangan setiap makhluk tidaklah sama.


READ MORE - Fabel Pembangun Karakter: TAK ADA YANG PATUT DISESALI

Selasa, 09 Juni 2020

Senin, 08 Juni 2020

MENGENAL FABEL

READ MORE - MENGENAL FABEL

Jumat, 05 Juni 2020

PENYESALAN KUPU-KUPU

Oleh: Farichin 

    D

i sebuah hutan, kupu-kupu sedang asyik mengagumi keindahan sayapnya. Dia tengah berkaca pada sebutir embun di atas sebuah daun. Permukaan embun yang jernih dengan kilauan sinar matahari semakin indah memantulkan bayangan kupu-kupu.

            “Ah, rasanya tak ada makhluk lain yang mampu menandingi keindahanku” gumam kupu-kupu pada bayangannya.

Kupu-kupu berputar-putar di depan cermin embun tersebut. Kadang tersenyum, memeringkan kepalanya, menjauhkan tubuh dari cermin kemudian mendekatinya lagi.

Saking asyiknya kupu-kupu berkaca mengagumi dirinya sendiri, dia tak menyadari seekor siput tanpa cangkang menghampirinya.

“kdubraaaak”

Kupu-kupu terpelesat dan jatuh ke tanah dengah keras. Lendir yang ditinggalkan oleh siput itu telah membuatnya jatuh dengan bebasnya. Sayapnya yang indah menjadi kotor.

Siput melihat Kagum pada Kupu-kupu

Siput kaget dan takut. Dia merasa telah membuat kupu-kupu jatuh. Dia ingin minta maaf, tapi melihat kemarahan kupu-kupu siput tak berani berkata-kata.

“Hai, Siput jelek dan menjijikkan. Apa yang kamu lakukan di sini? Gara-gara kamu, aku terjatuh tahu!” bentak kupu-kupu marah.

“Ma…maa… maafkan aku,” kata siput lirih.

“Apa, maaf katamu? Setelah kaubuat aku terjatuh dan sayapku yang indah ini kotor, kamu hanya minta maaf? Dasar tidak tahu diri!” bentak kupu semakin marah.

“T….tet…tetapi…aku tidak sengaja,” bela siput ketakutan.

“Ya, aku tahu kau tidak sengaja. Tapi badanmu yang jelek dan berlendir itulah yang menjadikan aku sepertiini.” Bentak kupu-kupu sambal menunjuk dengan jijik pada badan siput yang mengkilap karena lendir. “lagi pula kamu ngapain sih ke sini?”

“Aku ingin menjadi temanmu kupu-kupu. Agar aku bisa meniru keindahanmu,” kata siput ragu.

“jadi temanku….?”

“Iya,” Siput mengangguk

“ha…..ha…..ha…..” kupu-kupu tertawa mengejek. “Hai Siput, ngaca dong. Apakah kamu merasa pantas berteman denganku yang cantik dan anggun ini, Hah?”

Siput menggeleng pelan. Dia hanya mampu terdiam dan menunduk. Dia sangat malu dihina serupa ini. Untung tidak ada orang yang melihat.

Siput pergi meninggalkan kupu-kupu. Hatinya hancur. Bukan karena dia ditolak menjadi teman oleh kupu-kupu tetapi karena kata-kata kupu-kupu yang menghinakandirinya.

Sepeninggal Siput, Kupu-kupu segera membersihkan dirinya. Dia tak mau ada penduduk hutan itu yang tahu dirinya tampil tidak sempurna dengan sayap yang kotor. Apa jadinya kalau dia tampil dengan sayap yang kotor dan berdebu.

Kekesalannyamasihmenguasaidirinya. Sesekalidiamengomelsendiri.

“Ada apaKupu-kupu? Dari tadisayalihatkamukokngomeeelterus. Nggakbaiklohpagi-pagisudahmarah-marah. Nanticepattua,” sapaMerpatiPutih.

“Eh, kamu. Nggakapa-apakok. Cumakesalsajasamasiput.

“Siput? Memangkenapadia?” Tanya merpatiingintahu.

“lendirnya yang menjijikantelahmembuatakuterpelesetdanjatuh. Kotor dehsayapku,” terangKupu-kupu.

“Oh…” gumamMerpatipendek.

“KokCuma oh?” kata kupu-kupukesal.

“Loh, memangnyaaku harus bilangapa? Akupikiradamasalahserius, taktahunyacumaterpeleset,” terangMerpati.

“Inijugamasalahserius, Mer. Masalahbesar,” kesalsuaraKupu-Kupu.

“Kamuhanyaterpelesatdanitukamuanggapsebagaimasalahbesar? Yang benarsaja,” belaMerpati.

“Bagaimanabukanmasalahbesar, badankusakitdansayapkujadikotor, tahu….” Bela Kupu-Kupu.

“Sayapmu, akulihatbaik-baiksaja. Masihbersih,” kata Merpati sambal mengamatisayapkupu-kupu.

“Iyasekarangbersih, tadi? Kotor tahu!”

“Tapisekarangkantidak. Artinyajatuhnyakamubukanmasalahbesardantidakperludibesar-besarkan.

“Sudah...! sudah...! kamu tak perlu menggurui aku. Aku tahu, Kamu iri dengan keindahanku. Bahkan kamu mungkin berharap agar sayapku patah bukan sekadar kotor seperti sekarang ini,” Kupu-kupu memojokkan Merpati.

“Kupu.... bukan...!”

“Cukup bicaramu, Merpati. Aku tahu niat busukmu itu. Kamu ingin aku memaafkan Siput dan berteman dengan siput kan? Dengan demikian aku bisa sering terjatuh dan nanti sayapku jadi rusak atau bahkan patah. Saat sayapku rusak, lalu kamu menjadi hewan paling cantik di hutan ini kan?” tuding Kupu-Kupu dengan kemarahan yang semakin memuncak.

“itu sama sekali tidak pernah aku pikirkan,” bela Merpati.

“Alah.... jangan sok baik kamu Merpati. Kamu berpura-pura baik demi niat busukmu menjadi yang paling cantik di hutan ini,” tuduh kupu-kupu keji.

“Demi Tuhan, aku tak ada niat sejahat itu,”

“Aku tak percaya!”

“Bagaimana caranya agar kamu bisa percaya dengan ucapanku itu?” tanya Merpati.

“Bersumpah?”

“Bersumpah bagaimana maksud kamu?”

“Kamu harus melakukan sumpah di atas batu suci dengan disaksikan oleh seluruh penduduk hutan ini. Jika sumpahmu bohong maka bulu-bulumu yang putih akan rontok dan kamu tidak akan memiliki bulu lagi.

“Baiklah. Bukan hanya aku yang tidak punya bulu, tetapi anak keturunanku juga tidak akan punya bulu jika apa yang aku katakan tadi dusta. Tapi....”

“Tapi apa...?” tanya Kupu.

“Tapi, jika aku berkata benar, maka keturunan kamu tidak akan memiliki keindahan sepertimu sekarang,” tantang Merpati.

“Tidak bisa. Aku tidak mau,” tolak kupu-kupu.

“Paling tidak untuk memiliki keindahan sepertimu sekarang, keturunanmu harus merasakan dulu penderitaan dihina oleh makhluk lain. Bagaimana?” tantang Merpati.

“Tidak mau,” tolak kupu-kupu.

“Loh, kalau kamu tidak mau. Aku pun tidak akan mau bersumpah seperti yang kau inginkan,” terang Merpati.

Kupu-kupu terdiam. Dia sangat yakin bahwa Merpati memeiliki niat jahat terhadap dirinya. Kupu-kupu yakin tantangan yang diberikannya itu hanya merupakan cara agar dia tidak mengucapkan sumpah di atas batu suci. Dengan demikian dia akan selamat dari kutukan sumpahnya sendiri.

Kupu-kupu mengangguk mengerti siasat licik Merpati. Dia terima saja tantangan Merpati. Rasanya dia tak sabar lagi melihat Merpati yang menjadi saingannya menjadi gundul tanpa bulu. Kupu-kupu tersenyum penuh kemenangan.

“Baiklah, aku terima tantanganmu,” jawab kupu-kupu tegas.

“Kamu yakin akan melakukan itu, Kupu-kupu?” tanya Merpati tidak percaya.

“Kamu takut kan karena apa yang aku katakan benar adanya?” kupu-kupu semakin yakin bahwa Merpati memiliki niat jahat terhadap dirinya.

 

Merpati dan kupu-kupu melakukan sumpah di batu ajaib

 

Mereka pergi menuju tempat batu suci berada. Penduduk hutan telah berkumpul mendengar panggilan gajah yang menjadi saksi sumpah yang akan Merpati lakukan.

Merpati dan Kupu-kupu telah berdiri di atas batu suci. Mereka sangat yakin bahwa mereka akan selamat dari sumpah yang akan mereka ucapkan tersebut.

“Hadirin, hari ini kita akan menyaksikan sumpah yang akan disampaikan oleh Merpati dan Kupu-Kupu. Kupu-kupu telah menuduh merpati memiliki niat jahat terhadap dirinya. Sementara itu Merpati merasa tak ada sedikit pun niat jahat terhadap kupu-kupu. Jika Merpati berbohong, maka dia dan keturunannya tidak akan memiliki bulu lagi. Namun jika di benar, keturunan kupu-kupu harus berjuang dengan susah payah dan terhina untuk dapat memiliki keindahan sayapnya.” Jelas gajah pada penghuni hutan.

Semua terdiam. Ada kecemasan yang mencekam pada seluruh penduduk hutan.

“ikuti kata-kataku Hai Merpati dan Kupu-Kupu” perintah Gajah.

“Baik,”

“Aku bersumpah.”

“Aku bersumpah,” Merpati dan Kupu-kupu mengikuti.

“Semua yang aku katakan adalah benar. Jika aku berbohong, maka aku akan menerima akibat seperti yang telah disepakati.”

Merpati dan Kupu-kupu mengikuti sumpah yang disampaikan oleh gajah sampai selesai.

Tiba-tiba batu suci tersebut bergetar dahsyat. Terdengar suara “Kraaaak” seperti batu yang terbelah. Batu mengeluarkan asap putih. Semakin lama semakin tebal. Merpati dan kupu-kupu yang berada di atas batu tertutup oleh asap putih yang tebal tersebut.

Asap semakin tebal. Berputar perlahan. Semakin lama putaran tersebut semakin kencang. Merpati dan kupu-kupu tidak terlihat lagi.

Penonton terdiam menahan napas. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi dengan Merpati dan Kupu-kupu.

Tak lama kemudian asap tebal hilang. Kupu-kupu dan Merpati masih berada di atas batu suci. Mereka baik-baik saja. Seakan tak pernah terjadi apa-apa. Siapa yang salah tak ada yang tahu.Penduduk hutan membubarkan diri.

Hari berganti hari. Penduduk hutan masih belum tahu hasil dari sumpah yang dilakukan oleh Merpati dan Kupu-kupu. Sampai pada suatu saat mereka dikejutkan oleh suara tangisan yang menyanyat hati. Tangisan kesedihan dari kupu-kupu.

Semua mendatangi kediaman kupu-kupu. Ternyata kupu-kupu baru melahirkan anaknya. Tapi mereka terkejut. Ternyata yang dilahirkan kupu-kupu bukanlah bayi kupu-kupu yang lucu dan imut, tetapi sebutir telur yang lengket. Telur-telur itu kemudian terbelah dan menjadi suatu makhluk yang menjijikan. Makhluk seperti monster dengan gigi dan duri tajam. Dialah ulat bulu, sang anak kupu-kupu.

Penduduk hutan mengerti sudah. Ternyata Merpati benar. Dia tak punya niat jahat terhadap orang lain.

Kupu-kupu menyesali kelakuannya. Keangkuhan, kesombongan, dan prasangka buruk telah menyengsarakan dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi. Dia harus mengubah sifat menjadi lebih santun dan baik agar anak-anaknya kelak memiliki kesempatan mendapatkan keindahan yang sejati.

Kupu-kupu harus mengajarkan pada anaknya, sang ulat bulu, agar kerakusannya dia hentikan dan segera dia bertapa untuk mendapatkan ujudnya yang sebenarnya. Kesombongan dan kedengkian kupu-kupu harus ia tebus dengan pengorbanan yang sangat berat.


READ MORE - PENYESALAN KUPU-KUPU

Kamis, 04 Juni 2020

TANDA CINTA BUAT EMAK



Mengenang Ibundaku tercinta. Terima kasih, engkau telah memberikan aku sesuatu yang berharga untuk bisa mengerti dunia dan mensyukurinya. Beristirahatlah dengan tenang Bunda. Doa-doa kami akan menemanimu setiap helaan nafas. Semoga.

( OLEH : FARICHIN )

 Mak, aku tak tahu, apakah aku harus menangis atau tersenyum, melihat engkau terbujur dingin. Nyawa yang selama ini mengaitkan engkau antara dunia fana dan hidup abadi, kini telah sirna. Tubuh kurusmu begitu ringkih menahan beban hidup yang begitu menyakitkan. Tubuhmu akhirnya harus merelakan nyawa satu-satunya yang engkau miliki kembali ke haribaan sang khalik. Mak, mungkinkah engkau merasa lega dengan jemputan malaikat maut yang baru saja engkau terima? Kulihat engkau tersenyum begitu manisnya. Tak secuil pun gambar kesakitan dan ketakutan tergores di pipimu yang keriput. Keikhlasan begitu tergambar dari senyummu yang begitu damai menghadapi sang maut. Dan senyum itu tak pernah aku lihat sepanjang engkau hidup bersamaku, Mak. Aku yakin engkau akan bertemu Tuhan dengan pertemuan yang begitu syahdu. Yah, mungkin perjalanan abadimu kini lebih berarti tinimbang terus menyaksikan hidup yang serba tak menentu.

            Mak, manakala kutatap wajahmu yang semakin dingin itu, ada rasa yang entah. Rasa kosong dan hampa yang tiba-tiba menekan dada, nafas, dan otakku. Aku tak tahu, Mak. Mengapa aku tidak menangis seperti layaknya orang-orang yang ditinggal mati oleh kerabatnya. Aku hanya bisa terpaku bisu. Air mata terasa begitu kering. Yang ada hanya duka diri kehilangan orang yang biasa diajak berbagi. Kehilangan orang yang sering menyadarkan aku kala kekufuran menyergap diri.tapi, bukankah tangisku juga tak kan mengubah apa yang telah terjadi. Aku tak ingin menyusahkanmu lagi dengan isak tangis yang hanya basa-basi.

 Masih terbayang jelas dalam benakku ,Mak ketika kau tiba-tiba jatuh sakit. Disentri telah menyerangmu. Penyakit itu memang penyakit kampungan kata orang-orang, tapi penyakit itu juga yang mampu menjadi sarana engkau pergi untuk selamanya. Engkau kesakitan dengan sakit yang teramat sangat. Aku tahu itu dari raut mukamu yang sulit dilukiskan, meskipun engkau berusaha untuk menyembunyikan sakit itu dariku. Mak, engkau memang perempuan luar biasa. Tak pernah sekalipun engkau mengatakan sakit  meskipun akhirnya engkau kalah oleh sakit itu. Engkau nikmati semua derita yang menimpa dengan kenikmatan yang sebenarnya.

            Maaf, Mak. Kalau saat itu aku tak dapat membawamu berobat ke dokter, tabib, atau dukun. Engkau pasti tahu betul karena untuk berobat ke sana juga butuh biaya. Sementara penghasilanku dengan mengumpulkan rongsokan tak pernah bisa lebih dari lima ribu perak sehari. Itupun kalau aku sedang beruntung memperoleh barang-barang bekas. Maafkan anakmu,Mak, kalau aku hanya bisa membelikanmu pil disentri seharga enam ribu perak sebutir. Itupun dengan pengorbanan cucu dan menantumu. Mereka terpaksa puasa, Mak, agar aku dapat membelikan pil itu untukmu. Namun panggilan Tuhan ternyata lebih dulu menjemputmu daripada usahaku membeli pil itu di kota kecamatan. Pil itu kini masih aku genggam, tapi sudah tak berguna lagi untukmu. Engkau sudah tak memerlukannya lagi kan,Mak. Tapi tak mengapa, semoga sebutir pil ini bisa menunjukkan tanda baktiku padamu. Ya, hanya itulah yang bisa aku berikan padamu,Mak.

            Mak, maafkan aku. Sebagai anak aku mungkin tak bisa membahagiakanmu di dunia. Selama engkau tinggal bersamaku, tak sekalipun engkau kuberikan kebahagiaan. Kekurangan adalah sahabat kita. Kalau dalam sehari kita tidak merasa kekurangan rasanya kok aneh. Kita memang orang yang hebat,Mak. Kita cukup makan sekali dalam sehari sementara orang-orang harus tiga kali. Kita juga bisa bertahan hidup tanpa listrik, televisi, atau hiburan lain sementara orang ribut kalau benda-benda itu tidak tersedia di rumah-rumah mereka. Tapi kita tak pernah bersedih dan berduka.  Itu   anjuranmu kan, Mak. Masih jelas dalam kepalaku engkau pernah berkata

“Nardi, jadi orang itu harus sabar, menerima dengan syukur. Tidak usah iri dengan rejeki tetangga. Kita boleh saja tidak punya apa-apa, tapi jangan harga diri kita engkau gadaikan untuk keperluan dunia” begitu katamu, Mak sambil menjemur gaplek di depan gubuk kita.

Aku juga masih ingat saat engkau memarahiku saat aku mencoba protes kepada kepala desa karena kita tidak terdaftar sebagai penerima BLT.

“Nardi, gak usah minta-minta sumbangan kepada orang. Jangan sekali-kali kamu berharap pada orang. Ingat, Nardi, kita sudah miskin, tapi jangan lantas kita merasa tidak punya apa-apa. kita masih  punya harga diri, akankah engkau gadaikan harga dirimu itu dengan uang seratus ribu perbulan? Malu Nar,malu. Emakmu malu kalau anaknya harus ribut untuk menjadi pengemis pada pemerintah.” begitu katamu saat itu. Kemarahan dan kedukaan tergambar jelas dalam raut mukamu yang kelam.

“tapi ,Mak kita tidak makan dengan harga diri. Yang kita makan nasi, dan untuk nasi kita butuh uang. Bukankah BLT itu diperuntukan untuk orang-orang miskin,Mak? Kita ini miskin, bahkan barangkali termiskin sekecamatan. Tapi mengapa kita tidak menerima bantuan itu. Apa mereka buta? Atau kita dianggap tidak ada?” protesku mendengar nasihatmu.

“Jangan suka menghina diri sendiri Nardi. Kita memang miskin, tapi kita masih bisa bekerja. Kalau butuh uang ya  usaha.Bukan memint-minta yang bukan jatah kita” lanjutmu untuk mencegah langkahku saat itu. Gaplek yang saat itu sedang kau jemur, terus tergenggam erat di tangan. Gemetar tanganmu menahan gejolak dalam dadamu saat itu.

“Mak, keluarga pak lurah yang sudah mampu saja mendapatkan BLT, mengapa kita yang kesusahan malah tidak dapat,Mak. Itu namanya tidak adil” kataku mulai melemah melihat amarahmu yang terpendam.

“Nardi, kalau kamu mengharap keadilan di dunia ini, sama saja kamu berharap dimasukkan kembali ke perut emakmu. Apakah itu mungkin?” Katamu ,Mak sambil tertatih meninggalkanku sendiri.

Aku terhenyak mendenga perkataanmu. Aku tersadar, betapa aku telah keliru mengharap pada manusia. Maaf ,Mak kalau saat itu aku terus membantah perkataanmu.

                                                            ☻☺☻☺☻

 

Mak, maaf. Kalau sejak engkau menghembuskan nafasmu yang terakhir, baru ada dua orang yang datang. Jangan bersedih ,Mak. Mungkin mereka sibuk urusan dunia mereka atau mereka khawatir gubuk kita akan penuh sesak dan akhirnya roboh apabila mereka datang. Mereka telah berbaik hati untuk tidak membuat gubuk kita roboh. Lagi pula apa yang dapat mereka peroleh dari kta ya, Mak?

            Mak sabar ya, untuk segera berangkat ke alam keabadianmu. Aku masih menunggu satu orang lagi untuk dimintai pertolongan mengangkatkan keranda jenazahmu. Mudah-mudahan mereka mau ya, Mak. Tapi kalaupun mereka tidak mau, mak aku pun sanggup menggendongmu ke kuburan seorang diri. Toh berat tubuhmu tidak terlalu berat dan juga kuburan untukmu yang telah aku siapkan juga tidak jauh dari gubuk kita.

O, iya maaf ,Mak. Kuburanmu terpaksa tidak di pemakaman umum. Uangku tidak cukup lagi untuk membayar ongkos penguburan di pemakaman umum. uangku sudah habis buat membeli pil seharga enam ribu rupiah sebutir yang kini berada di kantong kolorku dan secarik kain kafan kasar untuk pakaian terakhirmu. Tak ada biaya lagi untuk menguburkanmu di tanah pemakaman umum karena untuk menguburkan di situ harus mengeluarkan beberapa ratus ribu rupiah. Kalau aku punya uang sebanyak itu Mak tentunya aku tak cuma membelikanmu pil disentri yang seharga enam ribu perak tapi aku pasti akan membawamu berobat ke mantri atau dokter sehingga engkau pun mungkin dapat tertolong. Dunia  memang aneh, Mak sampai-sampai untuk mati saja harus jadi orang kaya. Lah, kita yang miskin memang harusnya tidak dilahirkan ya, Mak. Tapi mengapa Tuhan menciptakan orang miskin seperti kita?  Berarti kita sebenarnya ada manfaatnya juga di dunia. Ah, bodo amat lah, dengan orang lain yang menganggap kita tak berarti. Yang penting Tuhan menganggap kita berarti.

Mak, Kuburanmu aku buatkan di samping gubuk kita, di tempat biasa engkau mengupas singkong yang akan engkau buat menjadi gaplek. Mudah-mudahan engkau senang. Bukankah tempat itu tidak asing lagi buatmu, Mak? Ambil hikmahnya saja ya,Mak. Dengan kuburanmu yang dekat dengan rumah, aku bisa kapan saja berkunjung ke rumahmu yang baru. Aku yakin, rumahmu yang baru akan lebih besar daripada gubuk kita. Lebih luas dan lebih indah. Bukankah begitu, Mak kata pak ustad yang sering mengisi pengajian di masjid, meskipun kita hanya mendengar dari balik tembok keliling masjid yang kokoh itu. Meskipun yang tampak hanya sepetak tanah yang ditanami berbagai macam palawija tanamanmu. Singkong, ketela rambat, talas, bayam, dan cabai yang kautanam masih tetap kubiarkan agar engkau tidak merasa asing. Lagipula itu adalah warisanmu yang harus selalu kurawat demi kesejahteraan anak dan cucumu.

Hari semakin sore, mendung begitu tebal menyelimuti angkasa. Hujan belum turun, hanya sesekali kilat di langit atas menampakkan cahaya. Pelayat yang telah datang, Paijo dan Karmin, sudah pulang. Tak ada lagi orang yang datang untuk membantu menguburkan mak Pariyem. Mayat mak Pariyem sudah dimandikan oleh Nardi anak semata wayangnya dibantu oleh istri dan anaknya yang drop out dari kelas lima sekolah dasar. Alam tampak bersedih. Angin semilir seolah mengajak Nardi anaknya untuk segera menguburkan mayat ibunya. Orang-orang kampung sudah tidak dapat diandalkan. Mereka lebih tertarik berbicara tentang politik, uang, dan apa yang akan mereka peroleh dari tenaga yang mereka keluarkan.

Dengan khusuk Nardi memimpin sholat mayat untuk emaknya diikuti lastri, istrinya, dan Jamal ,anaknya, dengan bacaan sebisanya. Dia memang tak pernah belajar agama secara khusus. Guru agamanya hanyalah bapaknya dan ibunya yang semuanya kini sudah tiada. Sesekali memang Nardi mengikuti pengajian di masjid tetapi hanya di balik masjid. Dia sadar betul tubuh dan bajunya yang kotor tak layak untuk masuk ke masjid yang suci itu. Di samping itu, trauma masa kecilnya diusir dari masjid oleh pak ustad saat ia kecil gara-gara ia mau belajar sholat tetapi badan kotor dan bau cukup membuatnya jera untuk masuk rumah Tuhan yang suci itu. Ia tak mendendam. Kesadaran akan dirinyalah yang akhirnya menguasai hari-harinya untuk jauh dari tempat suci itu. Sebagai seorang muslim, nardi paham betul bahwa mengurus jenazah merupakan fardu kifayah dimana apabila sudah ada satu orang yang mengurusnya maka gugurlah kewajiban bagi muslim yang lainnya. Kini dia hanya ingin menggugurkan kewajiban muslim di sekitar rumahnya. Dia juga malu apabila nanti arwah ibunya bertemu malaikat dan ditanya tentang saudara muslimnya. Apa yang harus emak katakan? Memang kami menganganggap semua muslim adalah saudara kami, tapi apakah mereka mau mengakui kami sebagai saudara mereka.

Diangkatnya tubuh ringkih emaknya yang sudah tak bernyawa dari keranda bambu buatannya sendiri. Nardi masih kuat untuk mengangkat tubuh ibunya yang hanya memiliki berat tiga puluh kilogram. Dilangkahkannya kakinya pelan. Tubuh ibunya terasa begitu melekat pada tubuhnya yang semakin lemah karena puasa. Pelan tapi pasti. Tiba-tiba ada rasa haru yang menyergap relung hatinya. Dadanya penuh dengan rasa itu. Mata mulai memanas, dan akhirnya sebulir kristal air matanya turun berlahan melewati kelopak mata dan meluncur melalui pipinya yang hitam. Butir air mata itu terus meluncur dan berhenti di dagunya yang kasar. Ingin ia mengusap butir air itu, tapi ia tak memiliki kekuasan. Tangannya tengah sibuk menggendong tubuh emaknya. Dalam hatinya Nardi berdoa, “ya, Tuhan. Jangan biarkan air mata ku jatuh di kain kafan emakku. Biarkan kain itu bersih karena kain itu merupakan kain satu-satunya yang akan emakku pakai untuk menghadap-Mu.” Lalu diusapkan janggutnya pada lengan kanannya untuk menghilangkan air mata Nardi sambil terus berjalan menuju pemakaman untuk emaknya di belakang gubuk reyot mereka. Nardi berhenti sesaat. Diamatinya tubuh emaknya dalam gendongannya, memastikan air matanya tak mengotori kain kafan emaknya. Setelah diyakininya betul kain kafan emaknya masih seperti semula, ia melanjutkan perjalanannya ke makam ibunya yang tinggal beberapa langkah.

Sampailah rombongan pengantar jenazah itu sampai di makam ibunya. Ditatapnya lubang kubur untuk ibunya yang telah ia gali tadi pagi. Nardi tercenung sesaat. Siapa nanti yang akan turun di bawah lubang kubur dan siap pula yang akan memegangkan jenazah emaknya.Betapa akan tertolongnya dia apabila kang paijo atau kang Karmin masih di sini, bisik hati Nardi. Namun, segera ditepisnya pikiran itu jauh-jauh. Maaf , Mak aku telah mengeluh meski dalam hati. Engkau pasti tidak suka kalau eku mengeluh, apalagi saat mengantarkanmu untuk terakhir kalinya. Dipanggilnya istri dan anaknya untuk membopong jenazah emaknya, kemudian Nardi segera turun masuk ke lubang kubur emaknya. Beberapa saat kemudian selesailah prosesi pemakaman sederhana seorang perempuan sederhan dengan pola pikir sederhan dan acara sederhana. Nardi dan keluarganya segera meninggalkan kuburan emaknya. “Selamat jalan, Mak. Hidupmu kini lebih indah dari hidupmu yang lalu. Sampaikan rindu kami untuk menyusulmu pada, Tuhan agar kami bisa bertemu dengan keadilan yang hakiki”


READ MORE - TANDA CINTA BUAT EMAK

Sabtu, 25 Juni 2016

HUAN

hujan masih setia menyapa
Meski bulan kian menua
Ramalan tak seperti harapan
Karena ramalan hanya bisa-bisanya manusia.
Ujungnya Allohlah eksekutirnya.

Hujan itu berkah
Bagi petani yg segera mensnam benih.
Hujan itu penghalang
Bagi penghobi petualang
Hujan itu musibah
Bagi para korban bencana

Tapi hujan adalah kurnia
Dengan hujan tumbuh aneka pohon dengan berbagai warna, dengan berbagai rasa
Dengan hujan mengalir mata air yabg membadah sumur kita sehingga bisa mandi, cuci, dan beristinja.

READ MORE - HUAN

Rabu, 18 Mei 2016

PANTUN

Oleh : Farichin

pernah dengar kata pantun. Yap. Pantun adalah sejenis puisi lama asli Melayu. Karena asli Melayau, maka tidak heran daerah-daerah yang kental dengan budaya Melayu seperti Palembang, Riau, dan juga Betawi terdapat budaya berbalas pantun. Pantun memiliki beberapa ciri. Ciri pantun ini yang nantinya akan membedakan jenis puisi ini dengan puisi yang lainnya. Ciri-ciri pantun adalah:
1. Setiap bait terdiri dari 4 baris.
2. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
3. Memiliki rima silang (ab ab)
4. Baris 1 dan 2 berupa sampiran
5. Baris 3 dan 4 berupa isi.

berikut ni adalah contoh pantun:

Ada laron ada ngengat
Hinggap di kayu jendela
Ayo kawan kita semangat
Agar hidup lebih bermakna

Itulah sebait pantun yang jika dianalis, akan dapat diperoleh hal sebagai berikut:
dari jumlah baris, sudah empat sehingga sesuai ciri pertama.Dari jumlah suku kata dapat dianalisis sebagai berikut:
(1) A-da la-ron a-da nge-ngat (8 suku kata)
(2) Hing-gap di ka-yu jen-de-la (8 suku kata)
(3) A-yo ka-wan ki-ta se-ma-ngat (8 suku kata)
(4) A-gar hi-dup le-bih ber-mak-na (9 suku kata)

dari rima juga dapat diketahui bahwa puisi tersebut memiliki rima silang. Ditinjau dari isi, isi atau maksud yang ingin disampaikan terdapat pada baris 3 dan 4. perhatikan lagi analisis berikut ini:

Ada laron ada ngengat (a)
Hinggap di kayu jendela (b)
Ayo kawan kita semangat (a)
Agar hidup lebih bermakna (b)


Ok. itu saja semoga berguna.

paling enak makan ketupat
sayurnya gulai dan rendang
kalau tulisan ini tidak manfaat
mohon jangan anda buang
READ MORE - PANTUN

Senin, 27 Mei 2013

PROSA NONFIKSI



        Ditinjau dari kata pembentuknya, prosa nonfiksi terdiri dari dua kata yaitu prosa dan nonfiksi. Prosa merupakan suatu karya sastra (karangan) yang ditulis dengan menggunakan kalimat-kalimat secara bebas. Sedangkan nonfiksi berarti dibuat berdasarkan data – data yang otentik. Dengan demikian prosa nonfiksi adalah karangan yang didasarkan pada data-data otentik atau sesuai fakta.
         Dilihat dari proses pembuatannya, ada perbedaan antara prosa fiksi dan nonfiksi. Prosa fiksi bersifat fiktif (tidak nyata) dan dibuat dengan mengandalkan daya imajinasi pengarang. Sementara prosa nonfiksi dibuat atas dasar kenyataan yang ada. Hal ini senada dengan pendapat yang mengatakan bahwa Prosa nonfiksi adalah karangan yang berisi hal-hal yang bersifat faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan si pengarang . Jenis karangan ini diungkapkan secara sistematis, kronologis atau kilas balik dengan menggunakan bahasa semiformal. (http://vikryuniversity.blogspot.com/2012/10/prosa-nonfiksi.html) ini dari prosa nonfiksi adalah sifatnya yang faktual atau sesuai dengan kenyataan.
          Lebih lanjut yang membedakan antara prosa fiksi dan nonfiksi adalah bentuk karangan yang dijadikan sebagai sarana. Karangan ini berbentuk eksposisi, persuasi, deskripsi,  atau campuran. Prosa nonfiksi disebut juga karangan semiilmiah. Karena sifatnya yang semiilmiah itu, prosa nonfiksi mendasarkan pada kaidah yang ada seperti bersifat objektif, menggunakan bahasa yang semiformal, sistematis, dan kronologis. (http://dewapancasakti.blogspot.com/2011/11/prosa-nonfiksi.html)
             Ada beberapa jenis prosa yang dikelompokkan ke dalam prosa nonfiksi. Jenis tersebut antara lain artikel, tajuk rencana, opini,  feature, tips, biografi, reportase, iklan, pidato. Untuk lebih jelas terkait dengan jenis prosa nonfiksi tersebut, berikut ini adalah penjelasan yang telah diolah dari beberapa sumber.
1.      Artikel
Artikel adalah karangan yang berisi uraian atau pemaparan. Artikel memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.    isi karangan bersumber pada fakta bukan sekadar realita
b.     bersifat faktual dengan mengungkapkan data-data yang diketahui pengarang bukan yang sudah umum diketahui (realita)
c.    uraian tidak sepenuhnya merupakan hasil pemikiran pengarang, tapi mengungkapakan fakta sesuai objek atau narasumbernya  isi artikel dapat memaparkan hal apa saja seperti, pariwisata
Artikel terbagi menjadi dua yaitu artikel jurnalistik dan artikel ilmiah.

Artikel Jurnalistik
Membaca artikel di surat kabar (kecuali dalam rubrik seperti seni atau kehidupan). Anda akan menemukan kesamaan informasi disusun secara hati-hati dalam struktur sedemikian sehingga pembaca mendapatkan fakta-fakta utama sesaat setelah membaca: yakni tentang siapa, apa, kapan, dan dimana; biasanya pada kalimat pertama. Setelah itu, artikel jurnalistik meluas secara bertahap, menambahkan unsur-unsur mengapa dan sesuatu terjadi. Ini dilakukan sedemikian rupa sehingga seberapa banyak pun dipotong agar muat dalam ruang koran, artikel tersebut akan tetap memuat informasi yang penting.
            Tentu saja ada beberapa jenis jurnalisme disamping berita koran. Cerita feature dan artikel majalah cenderung tidak tersrtruktur secara kaku, dan memberikan ruang bagi kreativitas. Artinya dan tumpang-tindih antara jurnalisme dan ninfiksi kretif, dan batasan itu tergantung pada pendapat Anda.

Artikel Ilmiah
Seperti artikel jurnalistik, artikel ilmiah disusun untuk secara efektif menyajikan informasi. Mirip seperti esai, artikel ilmiah umumnya dibuka dengan ringkasan tentang apa yang hendak disampaikan, kemudian menyertakan bukti dan argumentasi atau informasi yang mendukung, yang diakhiri dengan ringkasan dan kesimpulan. Artikel ilmiah biasanya ditemukan dalam jurnal ilmiah, yang dipublikasikan untuk kalangan terbatas maupun masyarakat umum. Contohnya, Medika, jurnal kedokteran di Indonesia. Jurnal seperti ini umumnya diterbitkan oleh asosiasi ilmuwan dan profesi.
Karena artikel-artikelnya ditujukan untuk pembaca dari kalangan terbatas dan ditujukan untuk menyampaikan informasi secara spesifik, hanya ada sedikit ruang untuk kreativitas (meskipun masih memberikan kesempatan untuk tulisan yang baik). Seperti halnya artikel koran dan breaking news, artikel ilmiah yang kreatif hanya digunakan untuk mengkomunikasikanisi artikel


Sebenarnya masih ada lagi banyak prosa nonfiksi. salah satunya yang kamu baca sekarang ini. 

Ok. semoga bermanfaat.
READ MORE - PROSA NONFIKSI