Senin, 16 Mei 2011

LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL

Zaman memang sudah gila, lha, bagaimana tidak, perzinaan seakan sudah menjadi barang biasa. Pelaku perzinaan seakan gak merasa bersalah. kayak kang Seri itu. Lelaki tua yang umurnya tinggal menunggu giliran saja masih doyan sama perempuan. lebih parahnya lagi, yang jadi incaran kali ini Yu Pahing, istrinya kang wirid, yang bekerja jadi tukang becak di Jakarta. Yu Pahing rupanya sudah gak tahan jadi jablai karena Kang Wirid waktunya habis untuk menaiki becak, sementara istrinya dianggurin saja. Sementara Kang Seri, yang wajahnya selalu berseri-seri masih dengan gairah mudanya dalam casing tubuh yang sudah keriput membutuhkan pelabuhan hasratnya. Istrinya sudah tidak mampu melayaninya lagi. Sudah menopouse katanya.

pucuk dicintai ulam pun tiba. Sama-sama butuh. "Gendul ketemu cupuny" kata orang Jawa bilang. terjadilah perselingkuhan yang diharapkan oleh setan (padahal mereka yang mengharapkan). gilanya lagi, istri Kang Seri sudah mengendus kelakuan suaminya. gila....gila..... agama sudah pada kemana ya?

akhirnya sepandai-pandai menyimpan bangkai, terbongkar juga baunya. Kang Wirid tahu, istrinya, Yu Pahing, berselingkuh dengan kang Seri yang katanya masih bau sodara. Kang Wirid naik pitam. Dengan semangat empat lima penuh amarah dia pulang dari Jakarta meninggalkan becak kesayangannya. hatinya panas, terbakar.

setelah lama perjalanan dari Jakarta sampai rumah, kang Wirid masih menyimpan amarahnya yang kini dibungkus tenaga yang kian loyo. istrinya menyambut dengan muka cemberut menampakkan sikap siap didamprat suaminya. tiba-tiba muncul juga kata-kata dari mulut kang Wirid.
"Kamu tuh apa gak malu melakukan perzinaan dengan kang Seri?"
"Pake, gak usah marah-marah gitu deh. Ini juga salah sampean." potong Yu Pahing.
"lha salahku apa? wong aku kerka keras banting tulang di Jakarta kok!" bela kang Wirid.
"Ya, memang. tapi apa pernah sampean kirim untuk anak istri? kami butuh uang pak, butuh duit.!!!!"
"lalu apa hubungannya kamu butuh duit dengan selingkuhnya kamu?" bentak kang Wirid mencoba menyudutkan.
"Lha kang Seri kan ngasih duit ke aku. sebagai imbalannya, ya, dia juga kan butuh pelampiasan. aku pikir daripada aku banyak utang, dan juga aku kan butuh itu, mengapa tidak?"
"Apa................"
Kang Wirid tertegun. Sebagai suami dia merasa tidak bertanggung jawab. Lalu diambinya tas kresek bawaannya dan segera diserahkan pada Yu Pahing tanpa berkata-kata lagi. dipakainya sendal cepit kesayangannya kemudian segera beranjak ke luar. kembali ke Jakarta menemui becak kesayangannya.

Contoh tadi adalah sekelumit kisah yang sering kita jumpai di masyarakat. Masyarakat sudah tidak asing lagi dengan fenomena perselingkugan dan perzinaan. Pandangan minir terhadap pelaku hany sesaat. Pelaku pun tidak merasa berdosa ataupun bersalah telah menodaoi norma agama dan norma kemasyarakatan.

Benarkah dunia sudah semakin renta, sehingga kondisi seperti itu sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat atas dengan pola aksi yang lebig axelent. Sementara masyarakat bawah, dengan pola yang lebih sederhana yaitu uang sex. Bukankah kedua hal tersebut adalah pola terprimitif yang akan mendorong orang menerobos batas norma yang ada,
READ MORE - LEGALITAS PERSELINGKUHAN DALAM SOSIOKULTURAL

Sabtu, 14 Mei 2011

SINONIM DAN ANTONIM

Oleh : Farichin

Mendengar kata sinonim dan antonim tentunya tidak asing lagi bagi telinga kita. Sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, kita telah diperkenalkan dengan istilah sinonim dan antonim. Kata bapak atau ibu guru SD kita dulu, sinonim adalah persamaan kata sedangkan antonim adalah lawan kata. Apakah memang seperti itu yang terjadi di lapangan? Bukankah kalau kata yang sama yang berarti satu kata bukan dua kata. Smentara itu apa benar kata yang berantonim itu berlawanan? Nah, untuk lebih jelasnya kita akan kupas satu demi satu sinonim dan antonim tersebut.

SINONIM
Kata sinonim berasal dari bahasa Yunani yaitu syn yang berarti dengan dan onoma yang berarti nama. Jadi kalau digabung menjadi sama dengan. Artinya suatu kata memiliki maksud yang sama dengan kata yang lainnya. Yang sama dalam sinonim adalah maksud atau artinya bukan katanya. Dengan melihat penegertian itu maka dikatakan sinonim adalah dua kata yang maksudnya sama atau kurang lebih sama.
Mengapa dikatakan kurang lebih? Dalam bahasa Indonesia setiap kata memiliki keunikan sendiri. Kedalaman dan nilai rasa setiap kata berbeda satu dengan lainnya. Dengan demikian, tidak ada satu kata yang tepat 100% menggantikan kata yang lainnya dalam konteks kalimat. Coba perhatikan contoh berikut ini:
Bapak bersinonim dengan ayah, papah, papi
Dalam konteks tertentu, kata-kata tersebut dapat saling menggantikan.
Kalimat //Bapak Ali bernama Rudi// dapat diganti dengan
//Ayah Ali bernama Rudi//; atau //Papi Ali bernama Rudi// AKan tetapi, dalam konteks yang lain kata-kata tersebut tidak dapat saling menggantikan. Kalimat //Bapak Bupati melakukan kunjungan ke desa// secara sepakat terterima dalam bahasa Indonesia. Namun, kalimat *//Ayah Bupati melakukan kunjungan ke desa// tidak dapat terterima.

ANTONIM
Antonim berasal dari kata anti yang berarti melawan dan onoma yang berarti nama. Dari definisi ini disimpulkan bahwa antonim berarti kata-kata yang maknanya dianggap berlawanan. Perlawanan maknanya tersebut tentunya berbeda-beda tingkat keberlawanannya. Oleh karena itu, antonim terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Antonim Mutlak
2. Antonim semu
a. Antonim majemuk
b. Antonim gradual

Antonim Mutlak
Antonim kembar adalah antonim yang sifatnya keantonimannya mutlak hanya terjadi pada dua kata yang berantonim. Antonim jenis ini tidak dapat digantikan oleh kata yang lainnya. Pada beberapa buku, antonim jenis ini disebut antonim kembar. Perhatikan contoh berikut ini
Hidup >< mati Dua kata tersebut berantonim secara mutlak karena tidak ada kondisi antara hidup dan mati. Orang dalam kondisi koma sekalipun tetap dikatakan masih hidup. Contoh yang lainnya adalah Jantan >< betina Diam >< bergerak Antonim majemuk Antonim jenis ini memungkinkan sebuah kata berantonim dengan kata yang lainnya selain pasangan sebelumnya. Perhatikan contoh berikut: Merah >< putih (diasosiasikan dengan warna bendera Indonesia) Merah >< hitam (diasosiasikan dengan warna tua) Merah >< hijau (diasosiasikan dengan warna lampu lalu lintas) Antonim Gradual atau tingkatan Yaitu jenis antonim dengan memasangkan sebuah kata dengan kata atau kelompok kata yang sifatnya bertingkat. Perhatikan contoh berikut ini: Gemuk >< kerempeng Gemuk >< kurus Gemuk >< langsing Dilihat dari kata yang berantonim, sebuah antonim dapat terjadi antara kata dengan kata dasar, kata dengan kata berafiks atau kata dengan frase. Sebagai contoh perhatikan antonim berikut ini: 1. Ibu >< bapak 2. Murah >< mahal 3. Prapanen >< Pascapanen 4. Indikasi >< kontraindikasi 5. Guru >< bukan guru 6. Makan >< tidak makan Pada contoh 1 dan 2 antonim terjadi anatar kata dengan kata yang lainnya. Pada contoh 3 dan 4 antonim terjadi antara kata berafiks dengan kata lainnya baik yang berafiks maupun yang tidak. Afiks pada Antonim ini biasanya berupa prefiks atau awalan. Prefiks yang sering dipakai merupakan prefiks serapan. Beberapa prefiks yang dapat dijadikan contoh antonim adalah pra>< …, tuna >< …., nir >< …., non >< …., in >< eks, Sementara pada contoh 5 dan 6 antonim terjadi antara kata dengan frase atau kelompok kata.
READ MORE - SINONIM DAN ANTONIM

Rabu, 11 Mei 2011

CARA MEMBUAT DAFTAR ISI SECARA OTOMATIS PADA WORD 2007

Dalam Office word, terdapat fasilitas pembuatan daftar isi secara otomatis. Namun, banyak kita yang belum mau dan atau mampu memanfaatkan fasilitas tersebut. Kita sering membuatnya secara manual dengan terlebih dahulu mencetak tulisan kita secara keseluruhan baru kemudian kita membuat daftar isinya. Tentunya kondisi ini akan mengakibatkan beberapa kelemahan yaitu apabila pada bagian isi terjadi perubahan halaman, mengharuskan kita membuat daftar isi ulang.
Lalu bagaimana membuat daftar isi secara otomatis? Untuk bisa membuat daftar isi secara otomatis ada beberapa persyaratan. Persyaratan yang harus dipenuhi adalah:
1. File secara keseluruhan dari awal sampai akhir disatukan.
2. File sudah diberi nomor baik yang menggunakan angka romawi maupun yang angka arab. (Kalau bingung, baca juga bagaimana cara membuat dua model penomoran dalam satu file di blog ini juga)
3. File ditata dengan style sbb:
a. Judul bab atau yang dianggap seperti judul bab menggunakan style heading 1
b. Judul subbab menggunakan style heading 2
c. Judul subsubbab menggunakan style heading 3 dst
d. Badan file menggunakan style normal.
Yang ditulis menggunakan heading akan muncul di bagian daftar isi. Apabila ada sudah membuat file tapi belum diset dengan style tersebut maka Anda dapat melakukan langkah-langkah sbb:
a. Klik tab home
b. Blok judul bab atau sub bab yang akan diset stylenya.
c. Klik jenis style yang sesuai dengan kondisi judul bab yang diblok (lihat penataan file)

Nah kalau sudah memenuhi persyaratannya, kini tinggal kita membuat daftar isi secara otomatis. Ikuti langkah-langkah ini yah,
1. Letakkan kursor pada halaman yang kita inginkan untuk daftar isi
2. Klik tab references
3. Klik table of contents kemudian muncul menu model pilihan
4. Pilih model yang diinginkan
5. Gantilah judul Table of Contents dengan Daftar Isi
Apabila terjadi perubahan jumlah halaman pada tulisan yang kita buat, kita bisa menyesuaikan daftar isi dengan cara update table. Cara termudah adalah klik tab references kemudian update table. Daftar isi secara otomatis akan menyesuaikan dengan penomoran yang baru.

Ok. Selamat mencoba
READ MORE - CARA MEMBUAT DAFTAR ISI SECARA OTOMATIS PADA WORD 2007

CARA MEMBUAT DUA MODEL PENOMORAN DALAM SATU FILE



                Anda telah membaca posting tentang cara membuat daftar isi secara otomatis pada blog ini? Kemudian Anda tertarik untuk membuatnya? Akan tetapi, Anda bingung untuk membuat penomoran file-file tersebut? Nah, ini cara termudah yang bisa dilakukan.
1.       File jadikan satu dari awal sampai akhir.
2.       Klik tab insert kemudian lihat page number pada menu header & footer.
3.       Klik page number
4.       Klik format page number
5.       Ubahlah  number format dengan I,ii,iii
6.       Isilah start at dengan i
7.       Klik ok
Nah sekarang secara keseluruhan, file Anda telah berubah nomornya menggunakan angka romawi karena dianggap satu section. Untuk bisa membuat dua model penomoran, file tersebut harus dibuat menjadi 2 section dengan cara
1.       Letakkan kursor dibagian paling akhir tulisan section 1
2.       Klik page layout
3.       Klik breaks
4.       Klik next page pada section breaks
Kok tidak berubah nomor halamannya? Sabar dulu. Section file Anda sekarang sudah menjadi dua. Section 1 menggunakan penomoran angka romawi dan section 2 yang juga masih menggunakan nomor romawi. Sekarang langkah yang ketiga adalah mengubahpenomoran pada section kedua. Langkahnya adalah:
1.       Letakkan kursor pada section 2.
2.       Klik tab insert kemudian lihat page number pada menu header & footer.
3.       Klik page number
4.       Klik format page number
5.       Ubahlah  number format dengan 1,2,3..
6.       Isilah start at dengan 1
7.       Klik ok
Sekarang file Anda telah memiliki dua penomoran. Silahkan mencoba di rumah.
READ MORE - CARA MEMBUAT DUA MODEL PENOMORAN DALAM SATU FILE

Selasa, 10 Mei 2011

SISTEMATIKA KARYA TULIS

Sistematika karya tulis yang benar seperti apa sih? jawaban yang baku barangkali sulit ditentukan. Hal tersebut terjadi karena setiap lembaga yang terkait dengan penulisan karya tulis tersebut memiliki aturan sendiri-sendiri. Sebagia contoh sistematika karya tulis dari UNNES agak berbeda dengan UNY, UNJ, UI, atau yang lainnya. demikian pula sistematika penulisan karya tulis untuk pengajuan angka kredit bagi guru dan dosen berbeda dengan sistematika untuk lomba. Sistematika untuk lomba pun sering kali berbeda antara satu penyelenggara dengan penyelenggara lainnya.
Lalu bagaimana yang benar? semuanya benar tergantung dari tujuan kita melakukan penelitian. Kalau kita bertujuan untuk mengikuti lomba, tentunya sistematika tersebut harus mengikuti aturan lomba yang berlaku. Demikian pula saat kita bertujuan untuk kenaikan pangkat.
untuk sekadar contoh, berikut ini adalah beberapa contoh sistematika penulisan PTK dan atau karya tulis ilmiah.
SISTEMATIKA LAPORAN PTK VERSI LPMP
A Bagian Pembuka
a) Halaman judul
b)Lembar Pengesahan
c)Kata Pengantar
d) Daftar isi
e) Daftar lampiran
B. Bagian Isi
Bab I Pendahuluan
a)Latar Balakang masalah
b)Identifikasi masalah
c)Pembatasan dan rumusan Masalah
c)Tujuan Penelitian
d)Manfaat hasil penelitian

Bab II Kajian Pustaka
a) Kajian teori
b) Kajian hasil penelitian
c) Kerangka Pemikiran
d) Hipotesis Tindakan

Bab III Metodologi/Metode penelitian
a) Objek tindakan
b) Setting/Lokasi/Subjek penelitian
c) Metode pengumpulan data
d) Metode analisis data
e) Cara pengambilan kesimpulan
f) Prosedur Penelitian

Bab IV Hasil Penelitian
a) Gambaran Selintas tentang setting
b) Uraian penelitian secara umum/keseluruhan
c) Penjelasan persiklus
d) Proses menganalisis data
e) Pembahasan dan pengambilan kesimpulan

Bab V Kesimpulan dan saran
a) Kesimpulan
b) Saran untuk tindakan lebih lanjut

C. Bagian Penunjang
a) Daftar pustaka
b) Lampiran-lampiran

Tinjauan Ilmiah hasil gagasan sendiri (makalah) :
A. Bagian Pendahuluan
- Halaman judul
-Kata pengantar
-Daftar isi
-Abstrak
B. Bagian Isi
Bab I : Pendahuluan berisi uraian mengenai hal yang dipermasalahkan
Bab II : Kajian teori dan fakta mengenai hal yang dipermasalahkan
Bab III : Tinjaun /ulasan
Bab IV : Kesimpulan

C. Bagian penunjang
Daftar pustaka
Lampiran-lampiran

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN HASIL PTK

A. Bagian Pembuka
1. Halaman Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel (bila ada)
6. Daftar Gambar ( bila ada)
7. Daftar Lampiran
8. Abstrak (ringkasan)

B. Bagian Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
B. Penelitian yang relevan
C. Kerangka Berfikir
D. Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
B. Subyek Penelitian
C. Sumber Data
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
E. Validasi Data
F. Analisis Data
G. Indikator Kinerja
H. Prosedur Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
B. Deskripsi Siklus I
C. Deskripsi Siklus II, dst
D. Pembahasan Tiap Siklus dan antar Siklus
E. Hasil Penelitian

BAB V PENUTUP
A. Simpulan
B. Implikasi/Rekomendasi
C. Saran

C. Bagian Penunjang
1. Daftar Pustaka
2. lampiran-lampiran

demikian semoga bermanfaat.
READ MORE - SISTEMATIKA KARYA TULIS

TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

A. Mengapa perlu membahas teori belajar?
Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk belajar. Sudah banyak teori belajar yang telah diungkapkan oleh banyak pakar. Perbedaan teori tentunya muncul di sana-sini. Namun, perbedaan tersebut tentunya sebagai wahana bagi kita untuk memperluas keilmuan dalam bidang pendidikan. Hal tersebut karena teori-teori tersebut tentunya memberi manfaat bagi kita.
Lalu apa sebenarnya manfaat kite mempelajari teori belajar? Ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari teori belajar. Di antaranya adalah teori belajar bermanfaat untuk:
1. membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar,
2. membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran,
3. memandu guru untuk mengelola kelas,
4. membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri, serta hasil belajar siswa yang telah dicapai,
5. membantu proses belajar lebih efektif, efisien, dan produktif, serta
6. membantu guru dalam memberikan motivasi kepada siswa sehingga dapat mencapai prestasi yang maksimal.
Sebegitu banyak manfaat dari teori belajar yang dapat kita gunakan dalam memikul tugas sebagai pendidik sekaligus orang tua. Lalu apa saja yang harus kita ketahui terlebih dahulu agar kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita dapat tersebut dengan benar. Hal tersebut adalah
1. konsep dasar teori, prinsip, serta ciri-ciri yang melingkupinya,
2. bagaimana sikap dan peran guru dalam proses pembelajaran jika teori tersebut diterapkan,
3. bagaimana implikasi teori dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, serta
4. bagaimana relevansinya dengan pedagogik tranformatif.

B. Konsep Dasar Teori Humanistik
1. Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.(Sugihartono, dkk).
Tujuan belajar ini ingin memperbaiki sikap para pendidik yang dinilai membunuh karakter siswa. Masih banyak para pendidik yang memberikan label jelek pada murid, seperti anak bodoh, anak nakal, siswa bandel, atau julukan negatif yang lainnya. Dengan teori belajar humanistik, diharapkan kita dapat mengubah paradigma tersebut dan lebih memanusiakan siswa.
2. Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. (Sugihartono, dkk). Perbedaan kecepatan belajar bukan lagi menjadi alasan guru untuk meninggalkan siswa dengan kecepatan belajar rendah. Hasil akhir dari pembelajaran yang diinginkan adalah ketercapaian kompetensi pembelajaran secara menyeluruh.
3. Manusia adalah subjek/pribadi yang memiliki cipta, rasa, karsa yang mengerti dan menyadari akan keberadaan dirinya yang dapat mengatur, menentukan, dan menguasai dirinya, memiliki budi dan kehendak, memiliki dorongan untuk mengembangkan pribadinya menjadi lebih baik dan lebih sempurna. (Driyarkara). Guru selaku pendidik menjadi fasilitator dan motivator agar siswa dapat mengembangkan cipta, rasa, dan karsa yang telah dimilikinya.
Lalu bagaimanakah guru yang fasilitatif? Guru yang fasilitatif memiliki beberapa ciri yaitu
 merespon perasaan siswa,
 menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang,
 berdialog dan berdiskusi dengan siswa,
 menghargai siswa,
 menyesuaikan antara kata dengan perbuatan,
 menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa, dan
 tersenyum kepada siswa.

C. Prinsip Dasar Teori Humanistik
1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan siswa mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
5. Belajar diperlancar bila siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
6. Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
7. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengoreksi dirinya sendiri, sedangkan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
8. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus-menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.(Rogers)

D. Aplikasi Pembelajaran Humanistik di Kelas

Setelah kita mengetahui prinsip dasar humanistik tersebut, tibalah saatnya kita mulai proses pembelajaran dengan pendekatan humanistik di kelas.
Langkah-langkah umum yang biasa dilakukan dalam pengaplikasian teori pembelajaran humanistik di kelas adalah:
1. Guru merumuskan tujuan belajar yang jelas;
2. Guru mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat: jelas, jujur, dan positif;
3. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupannya untuk belajar atas inisiatif sendiri;
Guru mendorong siswa untuk bebas mengemukaan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan;
4. Guru merumuskan tujuan belajar yang jelas;
5. Guru mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat: jelas, jujur, dan positif;
6. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupannya untuk belajar atas inisiatif sendiri;
Guru mendorong siswa untuk bebas mengemukaan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan;
Lalu bagaimanakah kondisi pemebalajaran di kelas yang mengaplikasikan pendekatan humanistik di kelas? Ada beberapa ciri aplikasi pembelajaran humanistik di kelas. Ciri-ciri tersebut adalah
1. memberi kesempatan seluasnya agar siswa mengembangkan diri secara potensi, pribadi, sikap, berkembang menuju taraf yang lebih baik/sempurna,
2. Ada proses pemanusiaan manusia,
3. Siswa memiliki peran, dan
4. Proses yang berlangsung adalah pembelajaran bukan pengajaran.

Apakah Anda merasa sudah melakukan ini? Kalau sudah, selamat! Berarti Anda selangkah lebih maju dengan memperlakukan siswa lebih baik.
Setelah kita melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan humanistik, tentunya kita berharap pembelajaran tersebut berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran humanistik dianggap berhasil apabila :
1. Siswa merasa senang.
2. Siswa bergairah dalam belajar.
3. Siswa berinisiatif dalam belajar.
4. Siswa mengalami perubahan pola pikir.
5. Siswa merasa bebas atau tidak tertekan dalam mengikuti keseluruhan proses pembelajarn.
6. Siswa berani menyampaikan gagasan dan mengekspresikan diri.
7. Siswa tidak terikat oleh pendapat orang lain.
8. Siswa mengatur pribadi secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan dan norma.
9. Siswa berdisiplin.
10. Siswa mengikuti etika yang berlaku.



Farichin
Disarikan dari beberapa sumber.
READ MORE - TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MENULIS BAGIAN PEMBUKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Bagian Pembuka suatu karya tulis seperti PTK memiliki beberapa bagian.
Bagian awal Penelitian tindakan kelas pada umumnya berisi hal-hal berikiut ini:
A. Bagian Pembuka
1. Halaman Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel (bila ada)
6. Daftar Gambar ( bila ada)
7. Daftar Lampiran
8. Abstrak (ringkasan)

HALAMAN JUDUL
Halaman judul paling tidak memuat informasi tentang judul laporan penelitian yang kita lakukan, tujuan penulisan, identitas peneliti, instansi tempat peneliti tersebut bekerja.
Cara Penulisan Halaman Judul
1. Judul Penelitian ditulis dengan huruf kapital semua
2. Halaman judul bisa ditulis dengan rata kiri atau center. Namun, bentuk center biasanya lebih sering dipakai.
3. Ukuran huruf disesuaikan dengan tata letak yang tersedia. Judul penelitian umumnya ditulis dengan lebih ditonjolkan dari yang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbesar “font size” atau dengan menebalkan huruf tersebut.
LEMBAR PENGESAHAN
Lembar ini berisi keterangan pengesahan tentang kebenaran pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan. Lembar pengesahan untuk PTK guru biasanya ditandatangani oleh kepala sekolah tenpat sekolah tersebut dilakukan yang tentunya juga tempat guru tersebut bekerja. Di samping itu, apabila laporan PTK yang dibuat akan dijadikan koleksi perpustakaan sekolah, maka tanda tangan kepala atau petugas perpustakaan juga diperlukan.
Lembar pengesahan paling tidak berisi tentang
1. Nomor surat keterangan pengesahan
2. Pembuka yang menyhatakan bahwa surat tersebut ditandatangani kepala sekolah.
3. Judul penelitian
4. Identitas peneliti
5. Tanggal pengesahan
6. Tanda tangan yang mengesahkan



KATA PENGANTAR
Kata pengantar bertujuan mengantarkan pembaca terhadap isi laporan penelitian yang sedang dibaca. Dengan kata pengantar tersebut, sebisa mungkin pembaca akan mengetahui informasi awal tentang penelitian yang telah dilakukan.
Beberapa hal yang bisa ditulis dalam bagian kata pengantar adalah
1. Ucapan syukur kepada Tuhan YME
2. Judul penelitian
3. Garis besar isi penelitian
4. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah membantu pelaksanaan penelitian
DAFTAR ISI
Daftar isi berisi seluruh bab dan subbab yang terdapat dalam laporan penelitian kita disertai dengan nomor halaman tempat bab atau subbab tersebut berada. Beberapa hal yang berkaitan dengan penomoran halaman adalah:
1. Bagian pembuka menggunakan angka romawi kecil seperti I, iii, vii, xi
2. Bagian isi sampai lampiran menggunakan angka arab (angka yang biasa kita pakai) dari 1, 2, sampai selesai.
3. Nomor pada bagian pembuka diletakkan di bagian bawah tengah sedangkan bagian isi sampai selesai diletakkan di bagian atas kanan. Bagian isi yang terdapat judul bab, nomor halaman diletakkan di bagian bawah tengah.
Tips. Untuk mempermudah pembuatan daftar isi yang kemungkinan isinya berubah-ubah nomor halamannya, daftar isi dibuat secara otomatis. Dengan pembuatan secara otomatis, perubahan nomor halaman akan dapat diupdate dalam waktu hitungan detik. Bila Anda belum tahu pembuatan daftar isi secara otomatis, baca bagian pembuatan daftar isi di blog ini juga.

DAFTAR TABEL , DAFTAR GAMBAR, DAFTAR LAMPIRAN
Sama seperti daftar isi hanya yang ditulis adalah judul tabel, grafik, gambar , atau lampiran yang disertakan dalam laporan penelitian tersebut.

ABSTRAK
Abstrak berisi informasi laporan penelitian secara lengkap yang ditulis dangan singkat dan padat. Diawali dari judul sampai pada kesimpulan penelitian. Untuk contoh abstrak dapat Anda lihat pada posting contoh abstrak di blog ini juga.

(Farichin)
READ MORE - MENULIS BAGIAN PEMBUKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS