Kamis, 15 November 2012

MENGUTIP DAN ETIKANYA

OLEH : FARICHIN

Dalam dunia penulisan, mengutip  bukan barang langka. Tapi, apa sih sebenarnya menutip itu? Mengutip pada hakikatnya adalah mengambil sebagian teori atau pendapat orang lain dalam bukunya untuk kita jadikan rujukan atau acuan dalam tulisan yang sedang kita buat. Dengan kutipan tersebut, tulisan yang kita sampaikan lebih dapat dipercaya kebenarannya. Semakin tinggi tingkat kepakaran dari sumber yang kita kutip akan semakin menguatkan pendapat kita. Nah, dari hal itu pandai-pandailah kita mengutip dari pakar-pakar yang sudah menjadi jaminan mutu. (he....he......)

Bagaimana kita mengutip? ada dua cara kita mengutip. Yang pertama kita mengutip secara langsung yaitu kita menuliskan pendapat atau teori orang lain persis sama dengan apa yang dia tulis.Dengan kata lain, model kutipan ini seperti kita Copy Paste teori tersebut. Cara kedua adalah kutipan secara tidak langsung yaitu kita mengutip pendapat atau teori orang lain tetapi redaksi kalimatnya menggunakan bahasa kita. Model seperti ini seperti menyarikan atau menyapaikan dengan kalimat tidak langsung.

Setelah mengutip, bagaimana? Yah, agar kita tidak dianggap plagiat alias pencuri karya, kita memiliki kewajiban menuliskan catatan kaki setelah kutipan tersebut. Catatan kaki adalah catatan tentang asal atau sumber dari teori yang kita sampaikan. Catatn kaki paling tidak harus memuat nama pengarang,  tahun terbit buku serta nomor halaman tempat teori yang kita kutip berada.

Di mana sih kita menuliskan catatan kaki? untuk menulis catatan kaki ada beberapa variasi. Variasi pertama di letakkan di bagian paling bawah setiap lembar tulisan kita yang di dalamnya terdapat kutipan. Namun, model ini terasa agak merepotkan. Oleh karena itu, biasanya orang menggunakan pola cara kedua yaitu meletakkan kutipan diletakkan setelah akhir kutipan. Biasanya kutipan diletakkan dalam tanda kurung setelah akhir kutipan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:

Sebagai bentuk kegiatan produktif dan ekspresif, untuk dapat menulis sebagai suatu proses berpikir, diperlukan sebuah sumber bahan yang akan digunakan sebagai acuan saat kegiatan menulis dilakukan. Salah satu sumber bahan yang juga harus dikuasai oleh penulis adalah kemampuannya menyerap pengetahuan melalui membaca sebagai kegiatan perseptif. Jadi hampir mustahil seseorang mampu mentransfer suatu informasi atau pengetahuan kalau orang tersebut tidak memiliki pengetahuan. Hal ini sejalan dengan pendapat M. Zamakh Syarifa yang mengatakan antara kegiatan membaca dan menulis sangat berkaitan erat. Untuk bisa menulis diperlukan wawasan yang luas. Dengan membaca, wawasan kita akan menjadi semakin luas. (M. Zamakh Syarifa, 2009:19) 

Contoh di atas adalah contoh kutipan tidak langsung. Untuk kutipan langsung, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan. aturan tersebut adalah:
1. Kutipan langsung kurang dari 3 baris, ditulis dalam tanda petik dua (".........")
2. kutipan langsung lebih dari 3 baris kutipan ditulis dalam bentuk paragraf tersendiri dan ditulis dalam anak paragraf.
Nah semoga, informasi ini bermanfaat. Kalau salah, mohon kritikan yang membangun.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...