Minggu, 03 April 2011

WAWANCARA

Kompetensi Dasar :
2.1 Ber¬wa¬wan¬-cara de¬ngan nara¬sumber dari berbagai kalangan dengan perhatikan etika ber-wawancara

Indikator :
• Mampu membuat daftar pokok-pokok pertanyaan untuk wawancara
• Mampu melakukan wawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara

Wawancara adalah suatu dialog antara pewawancara dengan narasumber dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu.
Langkah-langkah wawancara
1. Menentukan tema
2. Menentukan tujuan wawancara. Tujuan wawancara adalah hal-hal apa saja yang ingin kita gali dalam wawancara tersebut melalui narasumber.
3. Membuat janji dengan narasumber terutama pada narasumber yang memiliki tingkat kesibukan tinggi.
4. Membuat daftar wawancara atau daftar pertanyaan wawancara.
5. Melaksanakan wawancara. Pada pelaksanaan wawancara, jangan lupa hasil wawancara didokumentasikan baik dalam catatan maupun dalam rekaman kaset.
6. Mendata hasil wawancara dan menyimpulkannya.
7. Membuat laporan hasil wawancara.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara
1. Berpakaian sopan dan rapi.
2. Jangan menyinggung perasaan narasumber.
3. Tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi di luar tujuan wawancara.
4. Tidak mendebat narasumber apabila yang disampaikannya bertentangan dengan pemahaman Anda.

LATIHAN
1. Amir akan melakukan wawancara dengan seorang petani yang sukses mengembangbiakan tanaman hias di desanya. Sebelum melaksanakan wawncara, Amir membuat daftar pokok-pokok pertanyaan.

Manakah dari pokok-pokok pertanyaan yang dibuat Amir yang sesuai dengan tujuan wawancara Amir?
a. Bagaimana awal mula Bapak membudidayakan tanaman hias?
b. Apakah Bapak tidak takut dengan harga tanaman hias yang tidak setabil?
c. Berapa putra bapak yang bisa dibiayai dengan pekerjaan Bapak seperti ini?
d. Apa sih hebatnya menjadi petani tanaman hias?
e. Tanaman hias yang Bapak budidaya biasanya dijual kemana?
f. Apakah Bapak setuju dengan poligami yang sekarang marak dibicarakan?
g. Apa kiat-kiat sukses yang Bapak alami?
h. Apakah Bapak setuju bahwa tanaman hias itu hanya pantas digauli oleh kaum perempuan?
i. Darimana Bapak memperoleh bibit tanaman hias tersebut?
j. Apakah Bapak juga melakukan penyilangan sendiri untuk memperoleh varietas baru tanaman hias?

2. Anita akan melakukan wawancara untuk mengetahui wabah demam berdarah yang terjadi di kampungnya. narasumber yang paling tepat untuk wawancara Anita tersebut adalah...

3. Bantulah Anita untuk membuat tiga pertanyaan sesuai dengan tujuan wawancaranya.
READ MORE - WAWANCARA

RPP KELAS VIII SEMESTER II

READ MORE - RPP KELAS VIII SEMESTER II

MENULIS SURAT

Kompetensi Dasar :
4.2 Menulis surat dinas berkenaan de¬ngan kegi¬atan sekolah dengan sis¬te-matika yang tepat dan bahasa baku

Indikator :
• Mampu menentukan sistematika surat dinas
• Mampu menulis surat dinas dengan bahasa baku
• Mampu menyebutkan bagian-bagian surat dinas dan penggunaan bahasanya

• Mampu menyunting surat dinas

surat dinas disebut juga surat resmi. dikatakan surat dinas karena ditulis atas nama kedinasan. sementara dikatakan surat resmi karena jenis surat ini harus menggunakan aturan resmi baik dari segi sistematika maupun dari segi bahasa.Surat dinas dikirim oleh suatu instansi/lembaga/ organisasi kepada instansi lain atau perorangan. Ciri-ciri surat dinas adalah
1 Bersifat resmi kedinasan.
2 Menggunakan bahasa baku
3 Sistematika sesuai dengan sistematika yang berlaku.
Sistematika surat
-------------------------
------------------------------(1)
-------- ----------------- (2)
------- (3)
--------

-------------
------------- (4)

------------, (5)
---------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------- (6)
--------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
----------------------------------------------

------------------------ (7)


-------------------------- (8)

-------------------- (9)

Keterangan:
(1) Kepala surat (KOP)
(2) Tanggal pembuatan surat
(3) Nomor, lampiran, hal
(4) Alamat yang dituju
(5) Salam pembuka
(6) Isi surat
a. Pembuka surat
b. Isi surat
c. Penutup surat
(7) Salam penutup
(8) Nama pengirim, tanda tangan, stempel
(9) tembusan

Sistematika surat di atas adlah sistematika surat dinas. Pada surat pribadi, sistematika hampir sama. Hanya pada beberapa bagian tidak ada. Bagian surat dinas yang tidak ada surat pribadi adalah Kepala surat, nomor, lampiran, hal, dan tembusan.
Cara Penulisan
1. Kepala surat
a. Kepala surat paling tidak berisi nama instansi atau kantor dan alamat instansi tersbut. Terkadang kepala surat boleh dilengkapi dengan logo.
b. Nama instansi pada umumnya ditulis dengan huruf kapital semua. Alamat instansi ditulis dengan cara
c. Ditulis lengkap tanpa disingkat.
d. Setiap awal bagian ditulis dengan huruf kapital.

2. Tanggal surat
a. Tanggal surat ditulis lengkap tanpa tanda baca.
b. Tanggal dan tahun ditulis dengan angka sedangkan bulan ditulis dengan huruf dengan awal kapital

3. Nomor, lampiran , hal
Nomor adalah nomor urutan surat yang dibuat oleh suatu instansi dalm satu tahun kegiatan. Nomor surat paling tidak berisi nomor urut dan tahun pembuatan surat.
Lampiran adalah lembaran selain surat yang dikirim bersama surat yang dibuat.
Perihal atau hal adalah insti isi surat yang dikirim.

4. Alamat yang dituju
Adalah orang yang akan dikirimi surat.
a. Tidak perlu mengunakan kata kepada
b. Apabila ada alamat, ditulis lengkap

5. Salam Pembuka
Salam pembuka adalah sapaan pertama sebelum kita mengungkapkan isi. Salam pembula pada surat biasanya dengan hormat. Namun dapat pula menulis salam pembuka selain itu seperti assalamu’alaikum, salam sejahtera, dan lainnya. Salam pembuka ditulis dengan awal hhuruf kapital dan diakhiri dengan tanda koma.

6. Isi surat
Isi surat baik surat dinas maupun surat pribadi terdiri dari tiga yaitu pembuka surat, inti surat, dan penutup surat. Pembuka surat pada surat dinas biasanya berupa dasar penulisan surat. Sebgai contoh
Berdasarkan surat keputusan ……….tanggal……………..tentang……………..
Dalam rangka …………………………
Menindaklanjuti edaran ………………..tentang…………………………
Menanggapi surat Saudara tanggal ………………..tentang………….

Pada surat pribadi, pembuka surat biasanya berisi tentang pemberitahuan kabar pengirim surat.
Isi inti surat
Pada surat dinas, isi surat biasanya langsung bersambung dengan pembuka surat. Pada surat pribadi, isi pada umumnya berdiri sendiri pada paragraf tersendiri.
Penutup surat pada umumnya berisi ucapan terima kasih. Yang perlu diperhatikan dalam penulisan penutup surat adalah hindarkan kata-kata yang mubazir seperti banyak-banyak terima kasih, terima kasih yang sedalam-dalamnya dan lainnya.

7. Salam penutup
Penulisan sama dengan salam pembuka. Salam penutup disesuaikan dengan salam pembuka yang dipakai. Berikut adalah contoh pasangan salam yang biasa dipakai
Salam pembuka : Sengan hormat, salam penutup: Hormat kami, atau Hormat saya,
Assalamu ‘alaikum Wr.Wb Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb

8. Nama pengirim
a. Nama pengirim ditulis lengkap sesuai dengan gelar yang ada.
b. Pada surat dinas nama pengirim biasanya disertai dengan jabatan dan nomor pegawai (kalau ada).
c. Di samping itu pada surat dinas juga harus dilengkapi dengan stempel.
d. Stempel terletak di sebelah kanan nama dan harus menyentuh nama pengirim.
e. Stempel ditempatkan pada nama pengirim yang memiliki jabatan ketua atau kepala.
f. Apabila ada dua atau lebih pengirim surat yang berjabatan ketua atau kepala,masing-masing harus diberi stempel sendiri . namun hal itu dilakukan apabila dua pengirim tersbut memiliki stempel sendiri-sendiri.
g. Nama pengirim tidak diulis dalam tanda kurung atau bergaris bawah.
9. Tembusan
Adalah salinan surat yang sama yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada instansi lain yang merupakan instansi atasan atau rekanan dari yang mengirim surat.
a. Tembusan ditulis cukup menyebutkan jabatan dari orang yang dikirimi tembusan seperti kepala Dinas P dan K Kabupaten Tegal, Kepala Sekolah dan lainnya.
b. Arsip tidak perlu dituliskan sebagai tembusan.

LATIHAN
1. …
Kami informasikan bahwa ujian nasional tahun pelajaran 2006/2007 akan dilaksanakan lebih awal yakni tanggal 24 s.d. 26 April 2007.

pembuka surat di atas yang paling tepat adalah...

2. ...
Atas perhatiannya kami sampaikan banyak-banyak terima kasih.

penutup surat dinas di atas kurang tepat. agar menjadi baik penutup surat tersebut harus diganti dengan....

3. Untuk menyukseskan program rehab mushola, kami panitia mengharap sumbangan dari para donator. Sumbangan dapat diserahkan langsung ke secretariat panitia rehab mushola atau ditransfer melalui rekening BCA no.123-10-0001……

isi surat dinas di atas adalah...

4. apabila Anda akan menulis surat dinas atas nama pengurus OSIS yang ditujukan kepada kepala SD di desamu, penulisan alamat surat yang tepat adalah...

5. Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir dalam acara pentas seni SMP Kusuma
yang akan kami selenggarakan pada
hari, tanggal : Sabtu, 29 November 2008
tempat : Aula SMP Kusuma
waktu : Pukul 09.00 s.d. 12.00
....

Kalimat yang tepat sebagai penutup surat tersebut adalah...
READ MORE - MENULIS SURAT

Sabtu, 02 April 2011

RPP KELAS VIII SEMESTER I

READ MORE - RPP KELAS VIII SEMESTER I

PROTA, PROMES,HR.EFEKTIF, RENCANA PENILAIAN, KKM

READ MORE - PROTA, PROMES,HR.EFEKTIF, RENCANA PENILAIAN, KKM

DIKTAT KELAS VIII : PUISI

PUISI
Kompetensi Dasar :
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari bu¬ku antologi puisi
Indikator : 1. Mampu mendata hal-hal yang ber¬sifat khusus dari puisi-puisi dalam antologi
2. Mampu mengidentifikasi ciri-ciri umum puisi yang terdapat di dalam antologi puisi
16.1 Menulis puisi bebas dengan mengguna-kan pilihan kata yang sesuai
16.2 Menulis puisi bebas dengan mem¬perhatikan un¬sur persa¬jakan
Indikator : 1) Mampu mendata objek yang akan dijadikan bahan menulis puisi
2) Menulis puisi dengan menggu¬nakan pilihan kata yang tepat
3) Mampu menyunting sendiri pilihan kata puisi yang ditulis


CIRI-CIRI PUISI
1. Puisi merupakan suatu jenis karya sastra yang dibuat dalam bentuk bait-bait.
2. penggunaan bahasa puisi yang menitik beratkan pada kepadatan makna, keindahan bahasa, kedalaman makna kata yang digunakanan.
3. Memiliki rima atau persajakan atau persamaan bunyi.
Untuk memperindah bahasa puisi, sering kita menggunakan bentuk-bentuk majas atau gaya bahasa. Beberapa majas yang sering digunakan dalam menulis puisi adalah
1. Majas Personifikasi
Majas ini memperlakukan benda mati seperti manusia. Artinya benda mati seolah-olah dapat melakukan kegiatan seperti kegiatan yang bisa dilakukan oleh manusia. Contoh:
a. Angin membelai rambutku dengan lembut.
b. Burung bernyanyi riang di atas ranting-ranting pinus.
c. Bintang kesepian merindu bulan.
2. Majas hiperbola yaitu majas yang mengemukakan sesuatu dengan cara dilebih-lebihkan sehingga terkesan lebih dramatis. Contoh:
a. Suaramu menggelegar membelah angkasa.
b. Korban berkubang darah segar.
c. Gempa telah meluluhlantakkan peradaban
3. Repetisi yaitu majas yang isinya mengulang kata yang dianggap penting atau memiliki maksud tertentu. Contoh:
a. Biar, biar hancur jugadiri ini
b. Usah kau tangisi, usah kau sesali hidup ini
c. Jangan, jangan kau sayat lagi.
4. Inversi atau susun balik yaitu mengedapankan predikat daripada subjek. Contoh
a. Marah aku padamu
b. Terbanglah engkau jauh

Di samping penggunaan majas, yang tidak kalah pentingnya dalam menulis puisi adalah penggunaan pilihan kata atau diksi yang memiliki makna lebih dalam atau memiliki bunyi yang lebih baik. Salah satu bentuk diksi dilakukan dengan cara:
1. Memilih kata yang bersinonim dengan kata yang dimaksudkan. Sebagai contoh
matahari = mentari, surya, bagaskara
hilang=sirna=raib=entah kemana
marah=murka=angkara
gadis=perawan=dara
2. Menggunakan ungkapan atau kata simbolis untuk menggantikan kata yang dimaksud. Misalnya:
Hijau yang berarti masih muda, belum berpengalaman
Jantung hati yang berarti orang yang sangat dicintai
Selain majas, cirri umum puisi adalah memiliki rima atau persamaan bunyi. Dilihat dari persamaan bunyi akhir setiap baris, rima dapat dikelompokkan menjadi beberapa yaitu
1. Rima silang yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [ab ab]
2. Rima sama yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [aa aa]
3. Rima berpasangan yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [aa bb]
4. Riam berpeluk yaitu persamaan bunyi akhir dengan pola [ab ba]
5. Rima patah/rusak/tak sempurna yaitu rima yang polanya selain pola di atas dengan jumlah yang berbeda
Selain lima bentuk rimadi atas, yang tak kalah menarik dari rima adalah jenis rima aliterasi. Rima ini termasuk rima tengah yaitu persamaan bunyi yang terletak di tengah. Rima aliterasi dibuat dengan cara membuat satu baris puisi yang diawali dengan bunyi atau huruf yang sama. Sebagai contoh rima aliterasi adalah
a. Bukan Beta Bijak Berperi
b. Adakah aku akan abadi?
c. Sesal sungguh seumpama surga sirna sekejab
Untuk menentukan rima akhir suatu bait puisi, harus diperhatikan prinsip berikut:
1. Rima ditentukan per bait tanpa memperhatikan bait yang lain.
2. Baris awal setiap bait memiliki kode rima (a)
3. Baris selanjutnya apabila berakhir dengan bunyi pada baris pertama berarti berkode (a) tetapi kalau tidak berarti berkode (b). demikian seterusnya sampai satu bait selesai. Perhatikan contoh berikut ini:
………………………….tidur
…………………………………mendengkur
…………………………..kubur
…………………………….takabur ………………………….tidur (a)
…………………………………mendengkur (a)
…………………………..kubur (a)
…………………………….takabur (a)

…………………………..senyap
…………………………………lelah
…………………………..merayap
………………………………..patah …………………………..senyap (a)
…………………………………lelah (b)
…………………………..merayap (a)
………………………………..patah (b)

Dilihat dari masa atau waktu munculnya puisi, puisi terbagi menjadi puisi lama dan puisi baru. Sebagian ahli sastra memisahkan pembagian puisi tersebut dengan batas puisi-puisi yang diterbitkan pada masa pujangga baru sekitar tahun 1920. Dengan demikian, puisi sebelum tahun 1920-an dikelompokkan menjadi puisi lama. Terlepas dari tahun pembuatan secara fisik bahasanya, antara puisi lama dan puisi baru terdapat beberapa perbedaan yang menonjol. Perbedaan tersbut adalah
1. Puisi lama masih taat terhadap aturan-aturan sedangkan puis baru tidak.
2. Bahasa puisi lama masih terkesan kaku sedangkan puis baru tidak.
Beberapa bentuk puisi lama yang kita kenal adalah pantun dan syair.
a. Pantun adalah puisi lama asli melayu yang masih taat dengan aturan seperti:
- Setiap bait terdiri dari 4 baris
- Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
- Bersajak silang [ab ab]
- Baris pertama dan kedua berupa sampiran sedangkan baris 3 dan 4 isi
b. Syair merupakan puisi lama yang terpengaruh oleh puisi arab. Aturan yang terdapat dalam syair adalah:
- Setiap bait terdiri dari 4 baris
- Bersajak sama [aa aa]
- Semua baris berupa isi (tanpa sampiran)
Citraan
Citraan adalah gambaran angan yang dapat ditangkap oleh alam imajinasi pembaca sehingga pembaca dapat merasakan kehadiran benda, suasana, atau rasa yang dialami oleh penulis. Ada beberapa jenis citraan
1. Citraan penglihatan yaitu benda-benda yang dapat dilihat dalam imajinasi pembaca;
2. Citraan pendengaran yaitu suara-suara yang seolah tertangkap oleh telinga pembaca;
3. Citraan penciuman yang bau atau aroma yang seolah tertangkap oleh hidung;
4. Citraan perabaan yaitu sesuatu yang seolah tertangkap oleh kulit;
5. Citraan pencecapan yaitu rasa yang seolah dapat dinikmati oleh lidah;
6. Citraan gerak yaitu sesuatu yang seolah bergerak dalam imajinasi pembaca;
7. Citraan perasaan yaitu perasaan yang tertangkap oleh pembaca

Contoh
Dibawa Gelombang
Karya Sanusi Pane

Alun membawa bidukku perlahan (citraan gerak)
Dalam kesunyian malam waktu (citraan perasaan)
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu (citraan perasaan)

Jauh di atas bintang kemilau (citraan penglihatan)
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau (citraan perasaan)
Kehidupan bumi yang kecil amat (citraan penglihatan)
Aku bernyanyi dengan suara (citraan pendengaran)
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralaun-alun (citraan gerak)

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu


LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT PUISI
Bagi seorang pemula, membuat puisi bias dikatakan susah bias pula dikatakan gampang. Tergantung dari mengalirnya perasaan kita terhadap objek atau cerita yang ingin kita sampaikan. Namun demikian, ada langkah-langkah sederhana yang dapat diikuti kalau kita akan menulis puisi. Langkah ini tentunya bukanlah harga mati yang harus diikuti 100%. Langkah tersebut adalah
1. Menentukan tema. Tema bias diperoleh dari pengalaman pribadi kita yang berkesan, peristiwa yang dialmi orang lain, atau harapan atau protes kita terhadap sesuatu yang terjadi di masyarakat.
2. Mendata hal-hal yang ingin diungkapkan. Langkah ini menyerupai kerangka karangan saat kita menulis cerpen.
3. Menuangkan hal-hal tersebut dalam larik-larik puisi. Ungkapkan saja apa yang keluar dari pikiran kita sampai habis. Jangan pedulikan bagus atau tidaknya puisi buatan kita tersebut.
4. Melakukan editing. Pada saat melakukan editing kita dapat melakukan hal-hal seperti
a. Menghapus kata-kata yang tidak perlu. Ingat puisi ditulis dengan bahasa yang padat dan penuh makna. Kata-kata yang dirasa bias dihilangkan tanpa mengubah maksud puisi tersebut dapat dihilangkan.
b. Mengganti kata-kata yang dirasa kurang memiliki nilai rasa dan makna yang sesuai dengan maksud puisi.
c. Memperhatikan penggunaan rima. Puisi memang tidak bias lepas dari keindahan kata. Salah satu cara memperindah kata dalam puisi adalah dengan penggunaan rima-rima yang bervariasi.

(Farichin)
READ MORE - DIKTAT KELAS VIII : PUISI

Antologi Puisi

SETEBAL DUKA

Entah dengan cara apa
Aku harus menyapa
Menikmati semua yang telah tercurah
Meski dera coba
Terasa enggan sirna

Kucoba berkaca
Menatap diri yang kuyu
layu

Jauh sudah langkah
Beratus jangkah tak terarah
Kembara pada padang gersang
Mentari tak lagi benderang
gelap
Semakin pekat
Padat merapat
Menusuk hati
Hari demi hari

Aku tetap berdiri
Betapa angkuh
Seakan tak terengkuh

Tiba-tiba luka menerpa
Dera itu begitu dalam menimpa
Menyeruak pada kedalaman makna di balik kata-kata
namun
Hati terlanjur kelam
Kesadaran jadi terasa tak menghunjam

Aku berdiri
Sendiri saja di sini
Kesendirian kian tanpa arti


CARA-MU MENGASIHIKU

Kita begitu renta
Goyah dalam coba
Meratap nasib diri yang kian terulur

Kenapa bukan aku yang diberi?
Meski aku takkan mampu terima ini

Letihku menjerembab
Dalam kubangan keingkaran
Jangan
Jangan biarkan kutenggelam
Kumau berdiri lagi
Tapi tolong
Hentikan itu

Aku tahu
Kasih-Mu teramat luas
Lebih luas dari apa yang bisa kutatap
Aku tahu
Sayang-Mu teramat dalam
Lebih dalam dari apa yang bisa kuselam
Aku juga tahu
Murka-Mu teramat panas
Lebih panas dari seribu matahari yang melintas

Tuhan
Biarkan kuberteduh
Dalam naung kasih-Mu




SAJAK RINDU UNTUK BUNDA

Sejak tak ada lagi kata dari mulutmu,Bunda
Tak kan ada lagi kata dari mulutmu
Aku jadi tahu,
Kata-kata menjadi sangat bermakna

Senyummu dulu
kurasakan embun mengguyur
Sejuta padang gersang
Dalam savanna di dada

Bunda,
Kalau kutahu jumpa kita itu jumpa untuk tak bertemu
Pasti kan kugayut dirimu
Dalam rengkuh kasihku yang membiru
Kan kuiring dirimu
Dengan iringan denting-denting ruhani
Dari kata-kata suci sang khalik

Maaf , Bunda
Kalau kala itu aku begitu acuh padamu
Karena aku tahu kita masih kan bertemu
Meski ternyata menjadi palsu

Pilu itu begitu ungu
Menyelimut sekujur kalbu
Air mata pun kini tak berarti lagi
Karena yang terjadi tetaplah akan terjadi
Kini atau nanti



AKHIR SEBUAH PERJALANAN

Terangkanlah
Perjalanan ini penuh duri
Menusuk di sela-sela jari
Langkah penuh dosa
Dada penuh luka
Kepala tak jua mau melata

Terangkanlah
Jiwa penuh berkabut
Terpuruk dalam selimut nafsu
Hati yang selalu mengeluh saat hilang arah
bimbing kami dalam langkah yang terarah

Sadarkanlah
Keangkuhan diri yang menguasai
Mengajak terus berlari
Jauh dari nurani suci

Ajarkanlah
Ajarkan aku membaca waktu
Detik waktu yang terus memburu
Detik yang tak pernah kembali padaku
Detik yang Cuma sekali itu
Maafkanlah
Segala noda dan dosa sebelum di akhir masa

Bila masa tlah tiada
Dan kereta kencana datang tiba-tiba
Menjemput diri yang tak pernah bersedia
Dapatkah kuberkata tidak?
Kesadaran dalam air mata dan duka
Tak kan lagi mengubah apa-apa

Hanya hening yang hampa dalam resah dan pasrah



MENUJU BATAS PENANTIAN



Roda pedati telah berputar
Berlahan
Menapaki jengkal-jengkal kehidupan
Sampai nanti
Pada tapal batas tujuan yang ditentukan

Tegar kau
Dalam terpaan angin dan topan
Lalu lalang kendara tak jua jadi penghalang

“Hai, sais
Arahkan kuda pedatimu pada marka yang benar

Teruslah melangkah
Tak perlu kau ragu
Ikuti biduk atau waluku yang siap memandu
Dia takkan pernah berbohong
Karena dia adalah sang penolong

Sais
Kalau kudamu resah
Janganlah berkeluh kesah
Karena keluh kesah hanya menambah susah
Kalau kudamu terhenti
Segera persiapkanlah diri
Batas penantian yang dijanjikan kian mendekati
Lekatkan semua bekal
Untuk hidup yang kekal

Hanya itu sais
Esok bukan lagi milikmu
READ MORE - Antologi Puisi