Sabtu, 09 April 2011

ALUR ATAU PLOT DALAM NOVEL

Kompetensi Dasart : 13.3 Mendes¬kripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
Indikator :
1. Mampu mendata tahap-tahap alur cerita
2. Mampu menentukan alur dengan bukti deskripsi cerita pada setiap tahapannya

Ringkasan Materi
Alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa yang membentuk satu kesatuan cerita yang utuh. Ibarat kata, alur adalah jalannya cerita yang ingin kita tampilkan. Apakah cerita itu berjalan mulus atau berbelok-belok tergantung dari bentuk alur yang akan kita tampilkan.
Secara umum alur sebuah cerita terdiri dari beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut adalah:
1. Introduce atau tahap memperkenalkan tokoh cerita. Pada tahap ini tokoh-tokoh cerita mulai kita munculkan terutama tokoh utama.
2. Action. Tahap action ini berisi mulai dimunculkannya konflik awal sebuah cerita. Yang perlu diingat, usahakan pada tahap ini menimbulkan pembaca penasaran terhadap Cerpen yang kita buat. Tahap ini akan menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh para pembaca Cerpen kita. Apabila tahap ini kurang greget, pada umumnya pembaca tidak akan meneruskan membaca Cerita yang kita suguhkan. Berikut ini adalah contoh dari tahap introduce yang dilanjutkan dengan action.
Duduk termangu seorang diri dalam sebuah kereta malam yang melaju kencang menuju Yogyakarta membuat perasaanku hanyut dalam masa silam. Kenangan manis silih berganti menyulam benakku. Putriku Salma yang baru berusia tiga tahun, tergolek di pangkuan dalam keletihan.
Sesaat ingatan pada Retno mengoyak pilu hatiku. Kugigit bibirku kuat-kuat menahan tangis. Badai kesediahan mengalir deras. Anakku yang masih kecil ini tak akan mengerti mengapa tante No yang sangat menyayanginya dan selalu memberinya hadiah tak akan pernah berkunjung lagi kerumah.
(Mimpi yang Dibawa Pergi, Dewi Priatni)
Pada penggalan cerpen di atas tampak pengarang memperkenalkan tokoh-tokoh ceritanya pada pembaca. Di situ tampak ada tokoh aku dan Retno yang akan menjadi tokoh sentral. Di samping itu pengarang juga menampilkan tokoh lain yaitu Salma. Yang tidak kalah pentingnya adalah di awal bagian cerita pengarang sudah mulai memunculkan suatu awal konflik yang membuat pembaca bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi?; Siapa sebenarnya Retno dan Aku? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat pembaca penasaran dan akan terus membaca cerita sampai selesai.

3. Rising Action. Pada tahap ini mulai dimunculkannya konflik yang memperkuat ketegangan yang kita suguhkan pada cerita yang dibuat. Tahap ini disebut juga tahap ketegangan atau perumitan. Untuk dapat menimbulkan ketegangan, kita dapat memperparah konflik utama yang telah kita tentukan dengan konflik-konflik lain sehingga permasalahan yang dialami tokoh cerita semakin kompleks. Yang perlu diingat bahwa jangan terlalu banyak konflik-konflik kecil kita ungkapkan di sini karena keterbatasan jumlah halaman sebuah cerita pendek.
4. Klimaks atau puncak konflik. Pada klimaks ini pembaca digiring secara emosi untuk mengikuti peristiwa cerita sampai puncak permasalahan. Ciri sebuah klimaks adalah munculnya ketegangan pada pembaca untuk segera mengetahui akhir penyelesaian konflik yang disajikan. Untuk menciptakan sebuah klimaks yang bagus, buatlah klimaks yang tidak seperti biasanya. Klimaks yang tidak terduga juga merupakan daya tarik tersendiri. Sebuah cerita yang akhir ceritanya sangat terbuka untuk ditebak oleh pembaca terkadang kurang diminati. Buatlah pembaca merasa puas setelah membaca cerita kita dari awal sampai akhir.
5. Ending atau penyelesaian. Setalah cerita sampai pada puncaknya, cerita membutuhkan penyelesaian. Buatlah penyelesaian yang bijaksana. Pada umumnya penyelesaian ini akan menentukan amanat atau pesan moral yang ingin kita sampaikan pada pembaca cerita kita. Berikut ini adalah contoh bagian ending sebuah cerpen
Saat kereta melaju kembali ke Jakarta, aku merasa lebih tegar dan tenang. Jiwaku telah terlepas dari himpitan satu kesedihan yang mendalam karena semuanya telah kupasrahkan pada Illahi Robbi. Tempat kembali yang paling indahadalah di sisi-Nya. Dia adalah pencipta dan pemilik keabadian.

Dilihat dari pola urutan bagian alur dalam sebuah novel atau cerita pada umumnya, alur terbagi menjadi beberapa yaitu:
1. Alur maju yang menggambarkan urutan peristiwa secara urut dari awal sampai akhir.
2. Alur mundur atau flash back atau juga dikenal dengan sorot balik. Yaitu sebuah cerita yang diawali dari ending cerita kemudian dilanjutkan dengan peristiwa awal sehingga ending tersebut terjadi. Flash back tersebut diceritakan dengan cara membayangkan kejadian sebelumnya, melalui mimpi, lamunan, atau penceritaan tokoh.
3. Alur campuran yaitu alur cerita yang diawali dari awal cerita sampai tengah. Sesampainya di tengah cerita, cerita mundur ke belakang menceritakan peristiwa yang telah lalu. Setelah itu dilanjutkan dengan kondisi sebelumnya. Demikian seterusnya sampai cerita berakhir.

LATIHAN
Bacalah novel “Dalam Mihrab Cinta” karya Habiburohman el Shirazy kemudian tentukan peristiwa yang terdapat bagian alur berikut ini!
1. Introduce (pengenalan tokoh)
2. Muncul konflik
3. Konflik memenas
4. Klimaks
5. Ending

Dilihat dari urutan peristiwanya, novel tersebut menggunakan alur apa? Berikan alasanmu!
READ MORE - ALUR ATAU PLOT DALAM NOVEL

Rabu, 06 April 2011

MENYUNTING : Kata baku dan Tidak Baku

Kegiatan menyunting memerlukan pemahaman tentang kaidah bahasa yang kompleks. Pemahaman tersebut meliputi ejaan, diksi, tata tulis, kohesi dan koherensi. Bukan itu saja, symbol-simbol penyuntingan juga harus dikuasai oleh penyunting.
Dalam pembelajaran menyunting di kelas IX SMP, materi ini tentunya harus diajarkan secara bertahap. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan bagian dari teori bahasa yang harus dikuasai oleh editor atau penyunting. Mudah-mudahan secara keseluruhan akan dapat dimuat dalam blog ini.

Kata baku
Kata baku adalah kata-kata yang benar dalam penulisan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata baku ini biasanya digunakan pada tulisan-tulisan yang sifatnya resmi atau formal. Sebagai bahan rujukan sebuah kata termasuk baku atau tidak adalah pedoman pembentukan istilah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan pedoman pembakuan kata dalam bahasa Indonesia.
Mengapa ada kata baku dan tidak baku dalam bahasa Indonesia? Jawaban yang paling tepat dari pertanyaan ini adalah sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Telah kita ketahui bersama bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Namun, coba kita bandingkan sekarang. Apakah ada perbedaan? Perbedaan tersebut dikarenakan bahasa Indonesia berkembang dengan melakukan penyerapan kata-kata dari bahasa asing di luar bahasa Indonesia. Bahasa asing tersebut bias dari bahasa Jawa, Sunda, Batak, Arab, Inggris, Belanda, Jepang, atau bahasa yang lainnya. Saat sebuah bahasa masuk dalam daftar bahasa Indonesia, tentunya mereka harus melakukan penyesuaian. Penyesuaian dimaksudkan untuk mempermudah pengucapan oleh masyarakat Indonesia yang beraneka ragam suku bangsanya. Hasil penyesuaian yang telah ditetapkan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itulah yang kita sepakati sebagai kata baku.
Ada beberapa tanda sebuah kata dikatakan baku atau tidak. Tanda tersebut adalah
1. Keseuaian penulisan.
2. Tidak adanya pengaruh bahasa daerah baik diksi maupun tatabahasa.
3. Tidak terjadi ketumpangtindihan penggunaan
4. Logis diterima oleh akal
5. Lengkap unsure pembentuknya

A. Kesesuaian penulisan
Seringkali kita dibingungkan oleh dua kata yang sama tetapi berbeda dalam penulisan. Lalu manakah yang benar. Untuk mengetahui yang benar silahkan cek pada KBBI. Sebagai contoh:
Jadual / Jadwal
Analisa / Analisis
Melegalisir / Melegalisasi
Mengkatrol / Mengatrol

Catatan :
Kata-kata yang berawal huruf /K/,/P/,/T/,/S/ apabila mendapakan prefix atau awalan yang mengandung nasal, huruf awalnya luluh berganti dengan bunyi nasal.
MeN+Kail = [Mengail] bukan *[Mengkail]
PeN+Putih = [Pemutih] bukan *[Peputih]
MeN+Tulis = [Menulis] bukan*[metulis]
peN+Sapu = [Penyapu] bukan *[pesapu]

B. Tidak Terpengaruh bahasa asing

Ada beberapa kata yang sering dipakai tetapi kata-kata tersebut terpengaruh bahasa asing.
Sebagai contoh kata enggak, kagak, yang terpengaruh bahasa Betawi
Di samping pada tataran kata, juga terjadi pada tataran kalimat.
Contoh:
Namanya siapa?
Ini merupakan kalimat yang salah karena terpengaruh bahasa Jawa. Kalimat tersebut diterjemahkan langsung dari kalimat bahasa Jawa
Jenenge sapa?
Jeneng diterjemahkan sebagai nama; sufiks –e diterjemahkan sebagai –nya; dan sapa menjadi siapa. Kalimat yang benar seharusnya
Namamu siapa?

C. Tidak Tumpang Tindih
Seringkali kita mendengar dalam pidato resmi seseorang mengatakan dua kata atau lebih yang sama artinya dalam sebuah kalimat. Tentunya inimenjadi sumber kesalahan. Mengapa harus dua tiga kata dipakai sekaligus kalau satu kata sudah cukup.
Contoh:
Disebabkan karena seharusnya disebabkan oleh atau dikarenakan oleh.
Hanya berdua saja. Seharusnya hanya berdua atau berdua saja.
Sepertri misalnya harusnya seperti atau misalnya.
Sangat pandai sekali harusnya sangat pandai atau pandai sekali.

D. Logis atau diterima akal
Terkadang terdapat kalimat yang kalau kita nalar itu tidak ketemu akal. Coba bandingkan kalimat ini:
*Amir berhasil menundukkan Ahmad.
Amir berhasil mengalahkan Ahmad.

*Anisa berhasil menduduki peringkat satu dikelas.
Anisa berhasil meraih peringkat satu di kelas.

E. Lengkap unsure pembentunya.
Dai surat kabar sering terjadi kalimat yang kurang lengkap unsure pembentunya dengan dalih penghematan. Namun, secara bahasa, alas an tersebut tetap tidak bias diterima.
Contoh:
Presidan lantik menteri kabinet persatuan.
Seharusnya
Presiden melantik menteri kabinet persatuan.



Tentukan bentuk baku kalimat berikut ini
1. Saya nggak bisa ngerjain soal itu.(3)
2. Guru BP panggil beberapa siswa-siswa bermasalah.(2)
3. Anak-anak hendak akan mengambil ijasah.(2)
4. Lagi ngapain,Bud?(2)
5. Jam pelajaran ke empat adalah ketrampilan merangkai prangko.(2)
6. Anak-anak paling terpandai mau dikasih hadiah oleh kepala sekolah.(3)
7. Bencana alam yang disbabkan karena penebangan liar seperti misalnya banjir dan longsor. (2)
8. Kita harus membikin kelas ini jadi bersih dan indah.(2)
9. Pertanggung jawaban manusia dihadapan Tuhan bersifat individu.(2)

Jawablah dengan memilih alternatif jawaban yang tersedia!
1. Lelaki yang berkacamata itu, adik ibuku. Beliau seorang tentara yang bertugas di TNI angkatan darat. Sudah lama beliau tidak berkunjung ke rumah kami,keluarga satu-satunya, di Jakarta. Oleh karena itu, beliau memanfaatkan waktu cutinya untuk menengok kami.
Kesalahan tanda baca yang terdapat pada paragraf di atas adalah…
a. Tanda koma pada kalimat pertama
b. Tanda titik pada kalimat kedua
c. Tanda koma pada kalimat ketiga
d. Tanda koma pada kalimat keempat

2. Peristiwa tabrak lari itu terjadi di depan sekolah kami. Korban dua orang dan keduanya dalam kondisi luka parah. Salah seorang saksi segera melapor kekantor polisi. Polisi segera merespon laporan tersebut dan sekarang pelaku sedang di kejar oleh polisi.
Penulisan yang salah pada paragraf di atas adalah…
a. Di depan
b. Keduanya
c. Kekantor
d. Di kejar

3. Berikut ini adalah penulisan gabungan kata yang benar…
a. Sulaiman harus mempertanggung jawabkan perbuatannya telah mencuri kambing pak Sanusi.
b. Santi dianakemaskan oleh keluarganya karena dia merupakan anak tunggal.
c. Rambut gadis itu dikepangkuda
d. Kita harus berlapangdada dalam menghadapi cobaan ini.
READ MORE - MENYUNTING : Kata baku dan Tidak Baku

KARAKTER TOKOH PADA NOVEL

Kompetensi dasar : 13.1 Mengiden¬tifikasi karak¬ter tokoh no¬vel remaja (asli atau ter¬jemahan) yang dibaca¬kan
Indikator : 1. Mampu mendata tokoh utama dan sampingan dalam cuplikan novel
2. Mampu mengidentifikasi karakter tokoh disertai dengan bukti/alasan yang logis

RINGKASAN MATERI
TOKOH DAN PERWATAKAN
Dalam sebuah cerita baik novel maupun cerpen, terdapat minimal du jenis tokoh dilihat dari perannya dalam cerita. Kedua tokoh tersebut adalah tokoh utama dan tokoh pendamping. Tokoh utama adalah tokoh sentral yang menjadi pusat cerita. Dengan kata lain tokoh utama adalah tokoh yang diceritakan. Cirri-ciri tokoh ini adalah tokoh ini muncul dari awal cerita sampai akhir. Tokoh yang lain adalah tokoh pendamping. Tokoh ini biasanya hanya mendampingi atau menyertai keberadaan tokoh utama. Peran tokoh pendamping bias dalam bentuk teman dari tokoh utama, orang tua, saudara, atau yang lainnya
Dilihat dari karakter tokoh, penokohan terbagi menjadi tokoh antagonis, protagonis, dan tritagonis. Tokoh antagonis adalah tokoh dengan karakter keras, jahat atau sesuatu yang kurang bagus. Tokoh protagonist adalah tokoh dengan karakter baik. Tokoh tritagonis adalah tokoh netral atau tokoh ketiga yang biasanya menjadi penengah konflik antara antagonis dan tritagonis.
Memang sebuah cerita tidak akan terlepas dari tokoh-tokoh yang diceritakan. Seorang tokoh juga tidak terlepas dari perwatakan atau karakter mereka. Karakter tokoh dalam sebuah cerita menjadi salah satu pemicu konflik atau permasalahan. Bukankah cerita tanpa konflik akan terasa hambar? Hal ini menujukkan bahwa untuk menciptakan sebuah cerita yang menarik, penentuan tokoh dan perwatakan merupakan hal yang penting.
Untuk menggambarkan perwatakan atau karakter tokoh dalam sebuah cerita, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan cara pertama adalah cara secara langsung atau nalisis. Cara ini artinya kita sebagai penulis cerita secara langsung memberikan dan menyebutkan karakter tokoh cerita yang kita buat. Cara yang kedua adalah secara tidak langsung atau secara dramatis. Cara kedua ini pengarang tidak menyebutkan karakter tokohnya. Namun demikian, pembaca akan dapat menyimpulkan sendiri karakter tokoh yang ada.
Penentuan karakter secara secara dramatis atau tidak langsung dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
Melalui gambaran nama dan fisik tokoh.
Dalam sebuah cerita nama sangat berpengaruh dengan karakter tokoh. Di samping itu, setting atau latar belakang juga dapat mempengaruhi nama tokoh. Cerita dengan setting pedesaan biasanya akan memunculkan tokoh dengan karakter jujur, terbuka terhadap orang lain, suka menolong, gigih bekerja atau pekerja keras. Tokoh dengan karakter seperti itu tentunya akan sangat pantas apabila diberi nama Suryo, Bagaskara, Bambang, Adyaksa. Bandingkan dengan nama Frans, Daniel, farrel. Rasanya tiga nama terakhir kurang pas apabila kita pakai untuk tokoh dengan setting dan karakter di atas.
Gambaran fisik tokoh juga sangat berpengaruh terhadap karakter tokoh. Untuk menggambarkan tokoh dukun, barangkali akan terasa pas apabila kita gambarkan fisik tokoh dengan pakain warna hitam, berikat kepala, dan setting di sebuah ruangan yang penuh pernak-pernik perdukunan. Demikian pula apabila kita akan menggambarkan perempuan genit kita munkin akan lebih pas menggambarkan fisiknya dengan dandanan yang agak mencolok, pakaian sensual, rambut bercat warna-warni.
Melalui dialog-dialog yang diucapkan tokoh.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Artinya bahasa seseorang menunjukkan siapa dan bagaimana orang yang berbicara. Dalam penentuan dialog sebuah cerita, peribahasa tersebut rasanya perlu untuk diperhatikan. Secara logika rasanya janggal kalau kita akan menggambarkan tokoh dengan watak penyabar tetapi dialog-dialognya bernada keras dan ketus. Demikian pula sebaliknya.
Contoh
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua itu menahan geram. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
(Robohnya Surau Kami, A.A. Navis)
Melalui perbuatan atau tindakan tokoh.
Tindakan tokoh dalam menghadapi permasalahan yang dihadapinya juga merupakan penentu perwatakan tokoh cerita. Dalam menghadapi sebuah permasalahan, tokoh-tokoh akan menyikapinya dengan berbeda-beda. Sebagai contoh, seorang tokoh yang dituduh mengambil Hand Phone seseorang akan memunculkan reaksi yang berbeda. Tokoh yang berkarakter emosional tentunya akan digambarkan dengan tindakan emosional tanpa dipikir panjang terlebih dahulu seperti marah-marah atau bahkan memukul orang yang telah menuduhnya. Sementara tokoh yang sabar akan menjelaskan terlebih dahulu keadaan yang sebenarnya. Apabila terpaksa harus marah, kemarahan barangkali tidak akan digambarkan dengan meledak-ledak.
Contoh
Juki bukan tentera. Dia guru. Sebenarnya dia tidak perlu ikut-ikut menyingkir ke pedalaman pada masa perang itu. Ikut tidaknya dia, tidaklah akan menentukan menang-kalah mereka yang berperang. Kalau dia merasa perlu juga ikut, alasannya cuma satu: agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. Juga menurutnya, semua orang harus meninggalkan kota agar musuh tahu bahwa rakyat tidak menyukainya. Kalau itu tidak mungkin, semua orang terpelajar yang harus menyingkir. Aku pikir taktik itu benar juga. Maka istrinya, Rosni, dengan dua anaknya yang masih kecil ditinggalkan pada mertuanya di kota. Karena perempuan tidak perlu ikut perang. Apalagi membawa anak-anak yang masih bayi. Mereka akan jadi beban perang saja, katanya memberi alasan pada istrinya.
(Sang Guru Juki, A.A. Navis)
Melalui percakapan tokoh lainnya.
Melalui jalan pikiran sang tokoh.
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. “ Alhamdulillah” kataku bila aku menerima karunia-Nya. “ Astagfirullah” kataku bila aku terkejut. “Masya Allah” kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."


LATIHAN
....
“Saya ingin cari pengalaman sekaligus cari uang di liburan panjang ini.”
“Tapi, kamu bisa nggak jaga anak umur tiga tahun?”
“Bisa, Bu.”
“Telaten nggak?”
“Telaten dong, Bu. Masa nggak, sih?”
“Kamu sabar nggak, orangnya?”
Vera mengangguk.
....
1. Bagaimana watak tokoh di atas?
2. Bukti watak tokoh seperti yang anda kemukan terdapat pada baris….
3. Perwatakan tokoh di atas digambarkan melalui…..

Kutipan 1
Bobi suka sekali membaca majalah. Dia tidak mau diganggu. Setiap hari ia selalu mencoba untuk menulis pada secarik kertas. Di ruang belajarnya terdapat tumpukan kertas yang berisi tulisan. Ternyata yang ditulis sebuah cerpen.

Kutipan 2
Savitri sering terlambat. Biar dia buru-buru lari toh terlambat juga karena berangkatnya memang sudah siang. Pak Rahmat seperti punya indera keenam. Meski jaraknya masih semeter lebih dari pintu, tahu-tahu suara besar Pak Rahmat sudah menggelegar.
4. Karakter Boby adalah…
5. Karakter savitri adalah….
6. Penggambaran perwatakan tokoh tersebut dilakukan dengan cara…

Dan akhirnya Kang Dasrip memang tidak menikmati hasil apa-apa, kecuali nama yang memalukan. Bahkan lebih dari itu. Di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempar berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan hendak berlari mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ini sia-sia. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi.
7. Watak Kang Dasrip adalah….
8. Bukti watak kang Dasrip seperti jawaban anda adalah kalimat….

Iwan kepergok penjaga tebu ketika bersama adiknya sedang mencuri tebu sebatang. Adiknya sangat takut bersembunyi di belakangnya. Penjaga itu menegurnya mengapa ia mencuri tebu. Sambil membujuk-bujuk adiknya supaya berhenti menangis, ia menjawab bahwa adiknya ingin sekali makan tebu. Mendengar itu penjaga tersenyum sambil menjawab agar tebu itu segera dibawa pulang.
9. Karakter penjaga tebu yang bijaksana ditunjukkan pada kalimat…
10. Penggambaran karakter tersebut dilakukan melalui…
READ MORE - KARAKTER TOKOH PADA NOVEL

Senin, 04 April 2011

RPP KELAS IX SEMESTER II

READ MORE - RPP KELAS IX SEMESTER II

RPP KELAS IX SEMESTER I

READ MORE - RPP KELAS IX SEMESTER I

BERITA

Kompetensi Dasar :
9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana) yang didengar atau ditonton melalui radio/televisi

Indikator :
1. Mampu menemukan pernyataan-pernyataan yang merupakan jawaban dari pertanyaan pokok-pokok berita
2. Mampu menuliskan pokok-pokok berita dengan ejaan yang benar


11. 1 Menemu-kan masalah utama dari berbagai beri¬ta yang ber¬topik sama melalui mem¬baca ekstensif
Indikator :
1. Mampu mendata masalah-masalah dari tiap-tiap berita

2. Mampu menentukan masalah utama dari tiap-tiap berita
3. Mampu menyimpulkan kesamaan masalah melalui kegiatan membandingkan beberapa berita


12.2 Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas
Indikator :
1. Mampu menyusun data pokok berita
2. Mampu merangkai data pokok-pokok berita menjadi berita yang singkat, padat, dan jelas
3. Mampu menyunting berita

Untuk memahami dan menulis berita, perlu dipahami tentang pokok-pokok yang ada dalam berita. Pokok-pokok dalam sebuah berita dikenal dengan istilah 5W + 1H. penggunaan istilah tersebut masih menggunakan istilah dari bahasa Inggris. Pokok-pokok tersebut adalah:
1. What (Apa)yang berisi peristiwa apa yang disampaikan.
2. When (Kapan) yang berisi waktu peristiwa terjadi
3. Where (Di mana) yang menunjukkan tempat atau letak kejadian atau peristiwa
4. Who (Siapa) yang berisi orang-orang yang terkait dengan peristiwa tersebut
5. Why (Mengapa) yang menceritakan tentang alasan atau sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut
6. How (Bagaimana) yang menunjukkan proses peristiwa terjadi.

LATIHAN
Terkait skandal korupsi yang mewarnai dunia politik Bangladesh, pemerintah melarang kandidat korup berpartisipasi. Itu juga berlaku bagi politikus yang terbukti melakukan tindak pidana lain dan harus menjalani hukuman penjara lebih dari dua tahun. Dengan begitu, puluhan polotikus senior, menteri, dan anggota parlemen Bangladesh yang dilengserkan karena korup tidak mungkin maju lagi dalam pemilu mendatang.

1. Pada kutipan berita di atas, penulis berpihak pada....
a. pemerintah c. menteri korup
b. kandidat korup d. parlemen korup

2. Simpulan yang tepat kutipan berita di atas adalah...
a. Skandal korupsi mewarnai dunia politik Bangladesh.
b. Pemerintah melarang kandidat korup berpartisipasi dalam pemilu.
c. Politikus senior yang melakukan tindak pidana juga dilarang berpartisipasi.
d. Pemerintah ingin menciptakan demokrasi yang bebas korupsi.

Teks 1
Kelangkaan minyak yang terjadi di Mojokerto , 25 juni lalu mengakibatkan naiknya harga makanan di warung – warung sekitar Terminal Mojokerto. Hal itu dipicu oleh naiknya harga bahan pokok yang sebagian besar didatangkan dari Jember, Jawa Timur. Sudah begitu, para tengkulak lebih suks menyimpan uangnya daripada membeli hasil panen masyarakat.

Teks 2
Persoalan politik tidak hanya menjadi konsumsi para caleg. Masyarakat juga terkena imbas dari isu – isu negatif yang berkaitan dengan stabilitas keamanan. Sektor riil yang menjadi andalan masyarakat tidak dapat secara optimal berjalan. Lebih para lagi, para provokator menghembuskan berita buruk bahwa keamanan nasional akan terganggu.

3. Kesamaan informasi kedua bacaan diatas adalah….
A. Perilaku oknum pemerintah dalam sector riil
B. Stabilitas harga bahan pokok di masyarakat
C. Persoalan yamg melanda masyarakat kecil
D. Keamanan nasional yang berkaitan dengan harga kebutuhan pokok

Berita 1
Perjalanan pesawat terbang di Bandara Soekarno Hatta Jakarta terganggu dengan tergelincirnya Lion Air jurusan Makasar – Jakarta. Dalam peristiwa itu terdapat 1 penumpang yang mengalami luka berat. Penumpang tersebut akhirnya dilarikan kerumah sakit terdekat. Peristiwa itu terjadi pada senin (9/3) pukul 17.05.

Berita 2
Senin (9/3) pukul 17.05 terjadi kecelakaan pesawat terbang di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Pesawat terbang Lion Air ketika akan mendarat tergelincir hingga mengakibatkan 1 orang penumpang mengalami luka berat. Kemudian dilarikan kerumah sakit terdekat dalam peristiwa itu.

4. Perbedaan penyajian kedua teks berita tersebut adalah.…
Berita 2
A. Berita 1 : Bagaimana – apa – kapan Berita 2 :Kapan – bagaimana – berapa
B. Berita 1 :Bagaimana – berapa – kapan Berita 2 :Kapan – apa – berapa
C. Berita 1 :Apa – mengapa – kapan Berita 2 :Apa – kapan – berapa
D. Berita 1 :Apa – siapa - kapan Berita 2 :Apa – dimana – berapa

Pengguna jasa angkutan udara dan laut dari Balikpapan, Kalimantan Timur menuju Makasar dan Surabaya pada musim liburan sekolah mencapai puluhan ribu orang. Seluruh penerbangan dan pelayaran menuju Surabaya penuh dan pesanan tiket melonjak dari hari biasa.

5. Isi teks berita di atas adalah ....
A. Seluruh Penerbangan dan pelayaran penuh sesak.
B. Pada liburan sekolah, pengguna jasa angkutan puluhan ribu orang
C. Pesanan Tiket jasa angkutan melonjak dari hari biasa
D. Pengguna jasa angkutan banyak yang ke Makasar dan Surabaya


Bacalah teks berita berikut ini, kemudian kerjakanlah soal nomor 5 dan 6!
Teks Berita 1
Lembaga pendidikan Kecantikan Puspita Martha mengadakan Open House, promo dan kursus kecantikan kilat. Acara tersebut berlangsung pada Senin (2/3) dari pukul 09.00 sampai dengan 19.00 non Stop. Menurut Lidia, salah seorang staf manajemen lembaga pendidikan tersebut, para alumni dari lembaganya telah banyak yang sukses di bidang Bridal, Make-Up dan Hair Styling.

Teks Berita 2
Selama satu bulan, 26 Mei – 26 Juni 2008, diadakan demo dan kursus kecantikan bagi siswa baru ataupun alumni. Kegiatan ini diselenggarakan oleh lembaga pendidikan kecantikan internasional “Jhony Andrean School “ Jakarta. Membludaknya peserta menunjukkan bahwa kursus – kursus kecantikan semacam itu semakin diminati.

6. Kesamaan informasi yang diperoleh dari kedua teks diatas adalah ....
A. Kursus kecantikan di lembaga pendidikan
B. Promosi lembaga pendidikan kecantikan
C. Kursus kecantikan kilat
D. Kursus kecantikan banyak diminati
READ MORE - BERITA