Sabtu, 26 Maret 2011

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS VII SMPN 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL MELALUI PENGGUNAAN MODEL JIGSAW

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Membaca merupakan suatu aktivitas mendalami suatu informasi melalui lambing-lambang huruf. Dengan membaca orang dapat memahami apa yang diinformasikan penulis dalam karyanya. Pemahaman itulah yang akan digunakan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Orang yang banyak membaca akan mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang yang jarang atau bahkan tidak pernah membaca. Dengan pengetahuan yang dimiliki itu, orang dapat mengkomunikasikan kembali dalam bentuk lisan atau tulisan. Dengan kata lain, membaca dapat membantu seseorang untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi yang lain.
Namun, kondisi pembelajaran membaca di sekolah pada umumnya mengalami hambatan yang cukup serius. Hambatan tersebut dibuktikan dengan rendahnya minat baca siswa. Indikator yang menunujukkan itu adalah tampak kurang antusiasnya anak berkunjung ke perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku untuk dibaca di rumah. Kondisi semacam itu diperperah lagi dengan kondisi perpustakaan yang kurang menunjang. Minimnya koleksi bacaan yang ada di perpustakaan membuat siswa enggan membaca. Rendahnya minat baca siswa tersebut ternyata berpengaruh pula terhadap pemahaman siswa saat mereka melakukan kegiatan membaca.
Salah satu potret pendidikan seperti hal di atas terjadi pula di SMP Negeri 2 Bojong Kabupaten Tegal. SMP ini terletak di daerah pedesaan dengan fasilitas yang serba kurang. Dilihat dari kondisi perpustakaan yang merupakan salah satu faktor pembangkit minat baca, SMP 2 Bojong memang pantas kalau menjadi sekolah dengan minat baca siswa rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan kondisi perpustakaan yang sangat minim dengan koleksi bahan bacaan yang sesuai dengan minat siswa. Koleksi bahan pustaka lebih difokuskan pada buku-buku pelajaran yang dapat meningkatkan hasil ujian nasional seperti buku-buku pelajaran wajib dan buku referensi yang terkait dengan pelajaran.
Dilihat dari proses pembelajaran membaca pada mata pelajaran bahasa Indonesia, ternyata adanya sumbang saran untuk memperparah kondisi minat baca siswa yang rendah. Proses pembelajaran yang terjadi masih jauh dari harapan. Hal tersebut ditandai dengan beberapa hal yaitu
1. Kurangnya media dan sumber belajar untuk pembelajaran membaca.
2. Masih adanya persepsi yang keliru bahwa anak SMP semua sudah bisa membaca sehingga pembelajaran membaca kurang dianggap penting.
3. Pembelajaran membaca menggunakan metode yang konvensional, yaitu anak diberi tugas membaca buku kemudian mengerjakan pertanyaan-pertanyaan.
Tentunya pembelajaran secara konvensional tersebut memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut adalah
1. Proses membaca siswa tidak terpantau karena proses membaca dilakukan di rumah atau di sekolah tetapi guru tidak memantau.
2. Adanya kemungkinan siswa mencontek hasil kerja temannya atau bukan hasil pekerjaannya sendiri.
3. Penilaian hanya ada pada tingkat hapalan.
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan selama tiga hari di sekolah bersama guru, siswa, dan petugas perpustakaan dapat ditarik kesimpulan (1) pembelajaran membaca masih menggunakan model yang kurang inovatif; (2)kekuranginovatifan tersebut menjadikan kegiatan membaca siswa hanya terbatas pada tugas yang dibebankan; (3)kurangnya membaca siswa menjadikan rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan yang dibaca. Mereka dapat menjawab pertanyaan isi bacaan hanya apabila siswa diberi kesempatan untuk membuka-buka kembali bacaan; (4) rendahnya tingkat pemahaman siswa menjadikan mereka kurang mampu mengungkapkan kembali isi cerita baik secara lisan maupun secara tulisan dengan menggunakan bahasa siswa sendiri. Kondisi tersebut ternyata terjadi pada keseluruhan kelas dari kelas VII, VIII, dan IX. Tentunya kejadian seperti itu membuat rendahnya nilai membaca siswa terutama pada kompetensi dasar tentang membaca pemahaman. Dari data yang ada, lebih dari 50% siswa dalam penilaian membaca pemahaman, memperoleh nilai di bawah standar kompetensi minimal (KKM) sekolah sebesar 65.
Bertolak dari hasil observasi tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Penelitian tersebut akan difokuskan pada penelitian kompetensi membaca pemahaman. Jalan keluar yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada adalah pemberian alternatif pelaksanaan pembelajaran membaca dengan model dan teknik yang berbeda. Di samping itu, model yang diambil juga harus dapat menggambarkan tingkat pemahaman siswa yang menyeluruh baik pada pemahaman isi yang ditunjukkan dengan kemampuan mengerjakan kuis maupun kemampuan siswa mengungkapkan kembali isi bacaan baik secara lisan maupun secara tulisan. Model yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model jigsaw. Alasan pemilihan model ini adalah
1. Model ini dilaksanakan dengan kooperatif atau kerja sama. Dengan kerja sama ini anak akan terpacu untuk melaksanakan kegiatan membaca karena adanya motivasi dari teman sebaya.
2. Adanya tanggung jawab individu yang tinggi meskipun dilakukan secara kolaboratif.
3. Model ini tidak memberatkan siswa untuk membaca buku secara keseluruhan. Dengan demikian siswa tidak terbebebani dengan tugas membaca.
4. Model ini merupakan model yang mampu mengintegrasikan semua keterampilan berbahasa. Dari pelaksanaan model ini diharapkan siswa akan memahami manfaat membaca bagi dirinya.
Harapan penulis, penerapan model pembelajaran Jigsaw untuk mengatasi permasalahan membaca akan dapat mencapai hasil yang optimal.
B. Perumusan Masalah
Melihat latar belakang di atas, muncullah berbagai permasalahan yang terjadi. Dalam peneltian yang dilakukan, permasalahan yang dikemukakan adalah
1. Apakan dengan penerapan model jigsaw dalam pembelajaran membaca, pemahaman siswa terhadap bacaan dapat meningkat?
2. Berapakah peningkatan pemahaman siswa dengan penerapan model jigsaw?
3. Bagaimana pelaksanaan model jigsaw dalam pembelajaran membaca?

C. Tujuan Peneltian
Penelitian tentang model jigsaw dalam pembelajaran membaca pemahaman adalah
1. Mengetahui peningkatan membaca pemahaman siswa yang ditunjukkan dengan kemampuan siswa menceritakan kembali isi cerita.
2. Mencobakan alternatif model pembelajaran yang lebih inovatif.
3. Mengintegrasikan pembelajaran membaca dengan keterampilan berbahasa yang lain.

D. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah
1. Manfaat bagi Siswa
a. Melatih siswa membaca secara kolaboratif.
b. Melatih siswa memanfaatkan dan melatih semua keterampilan berbahasa.
c. Memotivasi siswa untuk gemar membaca.
2. Manfaat bagi Guru
a. Memberikan gambaran tentang pembelajaran yang menyenangkan.
b. Memotivasi guru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran di kelas.
a. Memberikan gambaran untuk melakukan penelitian yang serupa.
3. Manfaat bagi Sekolah
Memacu bagi semua warga sekolah agar proses pembelajaran yang direncanakan berorientasi pada pembelajaran yang inovatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
4. Manfaat bagi Khasanah Keilmuan
Memberikan gambaran pembelajaran bagi suatu model pembelajaran yang telah ada dengan pemberian modifikasi yang harmonis sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
READ MORE - PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS VII SMPN 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL MELALUI PENGGUNAAN MODEL JIGSAW

COOPERATIVE LEARNING

Judul Buku : Cooperative learning : teori, riset, dan Praktik
Pengarang : Robert E.Slavin
Penerjemah : Nurilita Yusron
Cetakan : 1 , januari 2008
Penerbit : Nusa Media Bandung




Model Pembelajaran Cooperative Learning

Student Teams-Achievement Division (STAD)
STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu:
1. Presentasi kelas
2. tim
3. kuis
4. skor kemajuan individual
5. rekognisi tim

Presentasi Kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung di kelas yang berfokus pada unit STAD. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh karena akan membantu mereka mengerjakan kuis.
Tim
Tim terdiri atas 4 -5 anak yang bervariasi dari tingkat intelegensi, jenis kelamin, ras, dan etnis. Fungsi utama tim memastikan bahwa semua anggota benar-benar belajar untuk mempersiapkan anggotanya mengerjakan kuis. Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Penekanan agar anggota tim melakukan yang terbaik untuk tim dan membantu tiap anggotanya.
Kuis
Setelah presentasi guru dan kerja tim, siswa mengerjakan kuis secara individu. Siswa tidak diperkenankan membantu dalam mengerjakan tugas.
Skor Kemajuan
Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal dalam timnya. Tiap siswa diberi skor awal yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa tersebut sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama.
Rekognisi tim
Tim akan mendapatkan penghargaan apabila skor rata-rata mencapai skor tertentu.

Team Game Turnament (TGT)
Secara umumTGT sama dengan STAD, kecuali satu hal yaitu TGT menggunakan turnament akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siwa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lainnya yang kinerja akademik sebelumnhya setara. TGT sewreing dikombinasikan dengan STAD , dengan menambahakan turnament tertentu pada struktur STAD.
Komponen TGT
1. Presentasi di kelas Sama saja dengan STAD
2. Tim sama sepert STAD
3. Game yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan untuk menguji kemampuan siswa dari presentasi kelas. Game dimainkan di depan dengan pemain satu orang dari masing-masing tim untuk menantang jawaban.
4. turnamen merupakan struktur game. Kondisi terbaik setiap permaianan akan terlihat.
5. rekognisi tim sama seperti STAD.

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning. Terjemahan : Nurilita Yusron, Bandung : Media Nusa.

Metode pembelajaran spesialis tugas
Co-op Co-op
Langkah-langkah
1. diskusi kelas terpusat pada siswa.
Mendorong siswa untuk mengekspresikan ketertarikan terhadap subjek yang akan dipelajari.
2. menyeleksi dan pembentukan tim. Penentuan kelompok antara 4 – 5 orang per tim dengan anggota tim heterogen.
3. seleksi topik. Dalam kegiatan ini siswa memilih topik untuk tim mereka dengan mendiskusikan ketertarikan masing sehingga disepakati topik milik kelompok.
4. pemilihan topik kecil. Tiap tim membagai topik menjadi topik-topik kecil untuk pembagian tugas di antara anggota kelompok.
5. persiapan topik kecil. Siswa secara individual menemukan aspek-aspek penting dari topik kecil yang menjadi tanggung jawabnya. Cara yang ditempuh bisa dengan wawancara, eksperimen, proyek individual, kegiatan ekspresif, atau kajian pustaka.
6. presentasi topik kecil. Tujuan kegiatan pada tahap ini adalah agar teman dalam satu tim memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang sama. Selama presentasi, pembagian tugas untuk mencatat hasil tiap-tiap individu, mengkritik, dan memeriksa poin-poin yang mencapai titik temu dari informasi yang dipresentasikan.
7. persiapan presentasi tim. Memadukan hasil presentasi topik-topik kecil menjadi wacana utuh.
8. presntasi tim.
9. evaluasi. Pada tahap evaluasi dilakukan dengan tiga langkah yaitu
a. saat presentasi tim dievaluasi kelas.
b. Kontribusi individual dievaluasi oleh teman dalam satu tim.
c. Pengulangan kembali materi dievaluasi oleh semua siswa



Jigsaw II (Elliot Aronson DKK, 1978)
Jigsaw digunakan bila
1. materi yang dipelajari narasi tertulis.
2. tujuan lebih pada kemampuan penguasaan konsep daripada penguasaan kemampuan.
3. bahan berupa bab, cerita, biografi, narasi/deskripsi.

Langkah-langkah pelaksanaan
1. Persiapan
a. penentuan materi
• pilihlah satu atau dua bab, cerita, atau unit lainnya.
• Buatlah lembar ahli untuk menuntun siswa memfokuskan konsentrasi saat membaca
• Buatlah kuis, tes esai, atau bentuk penilaian lainnya untuk setiap unit.
• Buatlah skema diskusi untuk mengarahkan diskusi dalam kelompok ahli.
b. Membagi siswa ke dalam tim.
c. Membagi siswa ke dalam kelompok ahli.
d. Penentuan skor awal.
2. Pelaksanaan Jigsaw
a. Membaca
b. Diskusi Kelompok ahli
c. laporan tim.
d. Tes individual
e. Recognisi tim yaitu penghitungan skor tim
READ MORE - COOPERATIVE LEARNING

PEDAGOGIK TRANFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

OLEH : FARICHIN

1. Konsep Pedagogik Transformatif
Pedagogik transformatif berarti ilmu pendidikan yang bersifat transformatif (berubah-ubah) sesuai dengan perubahan zaman dan realitas sosial. Pedagogik transformatif merupakan perkembangan dari paradigma konservatif atau postmodernisme dan paradigma liberal. Ada beberapa prinsip yang membuat pedagogik transformatif berbeda dari paradigma pendidikan yang lain tersebut. Prinsip tersebut adalah
1. pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pada guru sebagai pendidik maupun pada siswa sebagai peserta didik.
2. pendidikan harus dapat menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
3. masyarakat, pendidikan, dan sekolah sebagai kontestan kekuasaan dan kontrol dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang positif antar keseluruhan unsur tersebut untuk menciptakan suatu pendidikan yang bermakna.
4. kebenaran bersifat terbuka sehingga semua orang dapat meyakini kebenaran tersebut tanpa ada perkecualian.

Hal yang mendasari pedagogik transformatif
Pedagogik transformatif lahir dari suatu tuntutan zaman yang tak terelakkan. Tuntutan tersebut timbul karena beberapa hal yaitu
1. pendidikan dianggap sebagai pendidikan yang terasing dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendidikan yang merakyat dan dapat dirasakan kebermaknaannya oleh semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
2. peserta didik bukanlah objek tetapi subjek dalam proses pendidikan yang merupakan bagian dari komponen guru dan masyarakat. Dari sini akan tampak proses seorang anak sebagai peserta didik menyerap suatu pengetahuan dengan usahanya sendiri.
3. pendidikan bukanlah transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik yang hampir tanpa inovasi dan kreasi. Dengan adanya penerapan pedagogik transformatif, diharapkan adanya perubahan guru dalam pembuatan perencanaan pembelajaran yang nantinya akan dipraktikan dalam proses pembelajaran di kelas.
4. terjadinya kemacetan transformasi sosial sehingga pendidikan di Indonesia masih jauh dikategorikan sebagai pendidikan yang kritis. Pendidikan masih berorientasi pada paradigma konservatif dan liberalis. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan penciptaan pendidikan kritis yang sesuai dengan pedagogik transformatif.
5. pendidikan kita sulit dibedakan dengan pelatihan atau training. Hal ini terbukti dari proses pembelajaran yang cenderung searah yang secara tidak langsung memupus kreativitas peserta didik dalam mengembangkan gerak pikir yang bebas.
Dengan melihat kondisi di atas, diperlukan suatu kesadaran bersama untuk menempatkan dan melaksanakan pendidikan yang mampu mengantarkan anak ke arah kemandirian dalam menghayati hidup dan kehidupannya.
Adapun landasan yang diterapkan dalam pedagogik transformatif adalah
1. tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia.
2. pendidikan harus sesuai dengan konteks (kontekstual) yang ada di masyarakat sebagi lingkungan tempat hidup siswa.
3. pengakuan individual bahwa peserta didik memiliki karakteristik gaya belajar, minat, dan potensi yang dapat berkembang.
4. partisipasi yang menunjukkan manusia (peserta didik) yang telah mampu meraih kesuksesan yang lebih baik harus berpartisipasi sebagai penggerak perubahan bagi masyarakat.
Pedagogik transformatif di sekolah
Penerapan pedagogik transformatif di sekolah sudah mulai muncul dari adanya perubahan pandangan pada guru dan sekolah sebagai komponen pendidikan di lini terdepan. Perubahan pandangan tersebut tampak pada:
1. adanya kesadaran dan kemauan dari guru untuk mengubah model pembelajaran konvensional dengan model yang inovatif seperti kooperatif, kuantum.
2. adanya usaha memanfaatkan lingkungan sebagai sarana pembelajaran sehingga pembelajaran yang berlangsung sesuai konteks.
3. adanya usaha menciptakan pembelajaran yang “Paikem” (Pembelajaran, aktif, inovatif, efektif, dan menyenangkan)
dengan pelaksanaan pedagogik transformatif di sekolah diharapkan pendidikan akan menciptakan generasi yang siap bersaing dalam era globalisasi.
Di samping hal di atas, ada beberapa kekuatan lain dari penerapan pedagogik transformatif di sekolah. Di antaranya adalah
1. adanya dukungan kurikulum yang membebaskan sekolah dan guru mengeksplorasi rencana pendidikan tingkat satuan pendidikan ke arah yang diharapkan.
2. dukungan sekolah mengikutsertakan guru dan tenaga kependidikan untuk mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
3. adanya minat dan kemauan guru untuk mengubah pola pembelajaran yang lebih bermakna.
Namun demikian, ada pula tantangan yang harus diatasi dalam penerapan pedagogik transformatif di sekolah. Tantangan tersebut adalah
1. tidak semua guru memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan perubahan dalam proses pembelajaran.
2. masih adanya guru yang merasa menjadi penguasa di kelas sehingga adanya penekakan kreativitas siswa yang dipaksa mengikuti pola guru yang konvensional.
3. sistem kelas dan tata ruang yang menghambat mobilitas siswa dalam belajar yang bersifat kooperatif dan kontekstual.
4. sarana sekolah yang kurang memadai di beberapa daerah.

2. TEORI BELAJAR YANG COCOK UNTUK PEDAGOGIK TRANSFORMATIF
Untuk menentukan teori belajar yang paling memungkinkan diterapkan untuk pedagogik transformatif perlu dibandingkan kesamaan tujuan dan pandangannya. Dengan adanya kesamaan tersebut, dimungkinkan suatu teori belajar sesuai dengan pedagogik transformatif atau tidak. Menurut Tilaar, ada beberapa ciri dari pedagogik transformatif yaitu:
1. aspek pendekatannya berupa
a. individuasi partisipatif
b. penyadaran dan pengembangan potensi individu
c. humanisme sosiokultural
d. penggerak kebudayaan
2. guru sebagai mitra pembelajar
3. peserta didik sebagai subjek yang partisipatif
4. proses pembelajarannya dialogis partisipatif
berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas, dapat dilihat adanya kesesuaian antara pedagogik transformatif dengan teori belajar konstruktivisme. Kesesuaian tersebut dapat dilihat dari hal-halhal berikut ini
1. dilihat dari proses belajar yang berorientasi pada konstruktivesme, tampak adanya persamaan dengan pedagogik transformastif. Dalam konstruktifisme tampak adanya
a. belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman sehingga pengetahuan berubah.
b. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman dengan dunia fisik dan lingkungan (kontekstual)
c. Pengetahuan adalah kegiatan aktif peserta didik yang berinteraksi dengan lingkungan.
2. kegiatan bukanlah mentransfer pengetahuan dari guru melainkan kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya.
3. pembelajaran berarti partisipasi guru dan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
4. guru dalam proses pembelajaran berfungsi sebagai mediator dan fasilitator agar siswa mampu mengekspresikan gagasannya.
5. peserta didik dianggap sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan.
Dari ciri-ciri yang ada pada pedagogic transformative,ternyata tertuang semua pada teori belajar konstruktivisme. Teori berlajar ini yang akan melahirkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang inovatif seperti Contektual Teaching and Learning (CTL), Quantum Teaching, Quantum Learning, Coopertive Learning.

3. MODEL PEMBELAJARAN
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan pedagogik transformatif adalah Jigsaw (Model Tim Ahli). Jigsaw merupakan model pembelajaran yang berlandaskan pada pendekatan Cooperative Learning. Pendekatan ini sangat sesuai dengan PT karena didasari dari satu tujuan mengubah pola pembelajaran tradisional ke arah yang lebih humanis.
Alasan pemilihan Jigsaw sebagai model pembelajaran yang sesuai dengan PT adalah
1. pembelajaran dengan jigsaw adalah pembelajaran berkelompok yang memungkinkan siswa sebagai peserta didik untuk berlatih menghargai pendapat orang lain; berkomunikasi dengan bahasa yang santun; mengungkapkan ide dan pikiran dalam berkomunikasi.
2. meskipun kerja berkelompok, kontribusi individu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan tim.
3. adanya kompetisi antartim sehingga peserta didik akan lebih tertantang untuk menggali informasi sedalam mungkin.
4. adanya tanggung jawab individu untuk menginformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada anggota tim lainnya.
5. hasil akhir daya serap terhadap informasi yang disampaikan bersifat individual sehingga akan lebih adil dan fair terhadap daya serap individu.
Dari hal-hal-hal di atas, tampak sekali bahwa Jigsaw sesuai dengan pedagogik transformatif Dalam jigsaw tampak semangat PT yang tergambar pada
1. kegiatan belajar berpusat pada siswa untuk mengekplorasi dan menemukan sendiri informasi yang diperlukan.
2. proses pembelajaran dialogis partisipatif antarsiswa di bawah kendali dan kontrol guru.
3. adanya kerja sama dan menghargai antarindividu dalam satu tim.
4. kerja sama dalam tim pada hakikatnya mendukung jasil kerja seluruh warga kelas.
5. guru sebagai fasilitator dan motivator dalam proses pembelajaran.
6. semua individu memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kemajuan seluruh anggota tim.
Dalam pelaksanaan model Jigsaw pada pembelajaran bahasa Indonesia, akan terjadi pembelajaran yang terintegrasi antarketerampilan bahasa. Semua keterampilan berbahasa di latihkan pada siswa. Sebagai contoh pada rencana pembelajaran membaca cerita yang merupakan inti kompetensi dasar, akan muncul pula keterampilan berbicara dan mendengarkan pada saat diskusi dan presentasi, dan keterampilan menulis pada saat mereproduksi cerita

Garis Besar Program Pembelajaran
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / semester : VII / 1
Standar Kompetensi : Membaca
7. Memahami isi cerita anak dengan berbagai teknik membaca
Kompetensi Dasar : 7.1 menceritakan kembali isi cerita anak yang telah dibaca
Indikator : 1. mampu menentukan pokok-pokok isi cerita
2. mampu menyusun peta cerita
3. mampu menceritakan kembali cerita yang telah dibaca dengan bahasa sendiri
Waktu : 6 x 40 menit
Pendekatan Belajar : Cooperative Learning
Model Pembelajaran : Jigsaw ( Model Tim Ahli) dengan modifikasi
Materi Pelajaran : 1. Pokok-pokok isi cerita
2. cara pembuatan peta cerita berdasarkan poko cerita
3. menceritakan kembali dengan bahasa sendiri
Strategi pembelajaran : Penjelasan, diskusi, penugasan
Langkah-langkah kegiatan
I. kegiatan awal
a. apersepsi tentang cerita-cerita yang pernah dibaca.
b. motivasi tentang kebermanfaatan membaca cerita
II. Kegiatan Inti
a. penjelasan tentang pokok-pokok cerita.
b. Tanya jawab seputar pokok-pokok cerita
c. Pelaksanaan jigsaw
• Guru membagi siswa dalam kelompok yang bervariasi antara 4 – 5 anak.
• Guru menjelaskan aturan permainan dalam pembelajaran jigsaw
• Siswa berkelompok sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan.
• Guru membagi lembaran cerita
• Siswa membaca cerita yang telah dibagi
• Para tim ahli berdiskusi membahas hal-hal yang berkaitan dengan bidang keahliannya. Misalnya anggota nomor satu sebagai ahli peristiwa bertugas mencari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut; siswa nomor dua sebagai ahli setting menentukan setting cerita.
• Masing-masing anggota dalam tim ahli mencari dan menemukan informasi sebanyak mungkin sesuai dengan keahliannya.
• Diskusi ahli selesai dilanjutkan dengan diskusi dalam tim semula. Dalam diskusi ini, masing-masing ahli bertugas menjelaskan hasil temuannya kepada seluruh anggota tim sampai anggota tim yang lain paham.
• Tim membentuk peta cerita berdasarkan hasil temuan dari masing-masing ahli.
• Presentasi laporan pembuatan peta cerita yang ditanggapi tim lain.
• Seluruh siswa menceritakan kembali cerita yang telah dibaca berdasarkan peta cerita yang telah dibuat oleh tim.
III. Penutup
a. Guru dan siswa merefleksi proses diskusi tim ahli.
b. Guru dan siswa merefleksi hasil pembuatan peta cerita.
c. Guru merefleksi reproduksi cerita
d. Pemberiab reward bagi tim terbaik
READ MORE - PEDAGOGIK TRANFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

Kamis, 24 Maret 2011

REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL (BAB IV HASIL PENELITIAN)


HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian tentang rekonstruksi scene video klip musik dalam pembelajaran kompetensi menulis naskah drama dilakukan sebanyak dua siklus kegiatan. Siklus pertama dilakukan dengan menggunakan teknik kelompok penuh dari awal proses kegiatan pembelajaran sampai pada tahap memproduksi naskah drama yang utuh. Siklus pertama ini ternyata kurang dapat mengukur kompetensi siswa secara individual. Hal tersebut dikarenakan proses kreatif mengemukakan gagasan kurang mencerminkan ekspresi dan kompetensi individual sehingga tugas kelompok kurang mewakili kompetensi individual.
Ada beberapa temuan sebagai hasil refleksi yang diperoleh dari pengamatan guru, observer, dan angket siswa. Hasil tersebut menggambarkan pada kondisi nyata proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Temuan yang terdata pada saat dilakukan refleksi pada siklus pertama tersebut adalah
1. Masih terdapatnya siswa yang kurang di dalam aktivitas kerja kelompok dan sumbang saran untuk membuat naskah drama.
2. Masih terdapatnya siswa yang kurang bertanggung jawab terhadap penyelesaian tugas. Hal ini terbukti dari empat kelompok dalam satu kelas hanya satu kelompok yang dapat menyelesaikan tugas secara lengkap, 1 kelompok menyelesaikan 75%, 1 kelompok menyelesaikan 50%, dan 1 kelompok menyelesaikan 25 pada waktu yang telah disepakati bersama.
Setelah refleksi yang dilakukan, dibuatlah rencana pelaksanaan diklus kedua. Siklus kedua bersifat penyempurnaan siklus pertama. Oleh karena itu, kegiatan pada siklus kedua semaksimal mungkin mengeliminir kekurangan yang terjadi pada siklus pertama.
Penelitian tentang reskonstruksi Scene videoklip musik untuk meningkatkan kompetensi menulis naskah drama pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Bojong Kabupaten Tegal menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut ditinjau dari hasil yang diperoleh siswa baik pada proses pembuatan maupun pada hasil atau produk berupa naskah drama satu babak.
Penilaian proses merupakan penilaian selama proses kegiatan pembelajaran menulis naskah drama. Penilaian ini dilakukan melalui pengamatan atau observasi. Sebagai alat untuk mengumpulkan data proses dipergunakan tabel observasi. Penilaian ini diperoelh dari pengamatan baik pada kerja individual maupun kerja kelompok. Hal-hal yang menjadi kriteria penilaian proses adalah kerja sama, inisiatif, toleransi, tanggung jawab, dan keaktifan. Nilai proses ini memiliki kontribusi sebesar 40 % dari nilai akhir yang diperoleh siswa.
Hasil pelaksanaan kegiatan menulis naskah drama dilihat dari penilaian proses sebagai berikut
NO KRITERIA PENILAIAN SKOR MAKS SKOR PEROLEHAN KETERANGAN
SIKLUS I SIKLUS II
1 Kerja sama 3 1,9 2.6
2 Inisiatif 2 1,5 2
3 Toleransi 3 2,5 3
4 Tanggung Jawab 4 2,2 3.4
5 Keaktifan 3 1.8 2.6
JUMLAH SKOR 15 9,9 13,6
NILAI KUANTITATIF 100 66 90
KRITERIA NILAI BAIK 14 37
KRITERIA NILAI CUKUP 5 0
KRITERIA NILAI KURANG 18 0

Nilai kuantitatif diperoleh dari rumus sebagai berikut:
Nilai peroleh X 100
Skor maksimal
Jumlah keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 37 siswa
Kriteria nilai
Baik : >=70
cukup : KKM – 69
kurang : < KKM

Dari tabel di atas tampak adanya perubahan nilai pada siklus pertama dan siklus kedua. Dari hasil refleksi yang dilakukan antara guru, kolaborator, dan siswa yang menjadi subjek penelitaian, diperoleh informasi bahwa ketidakmasilan proses pada siklus pertama disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1. Kegiatan dilakukan secara berkelompok dari awal sampai akhir pembelajaran sehingga memunculkan sikap kurang bertanggung jawab anak untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Hal ini diperkuat oleh laporan sebagian kelompok yang menyatakan bahwa tugas dikerjaan oleh beberapa anak saja dalam kelompok tersebut.
2. Kebebasan siswa memilih video klip sebagai media inspirasi membuat naskah drama justru membuat siswa merasa kebingungan memilih yang diinginkan. Mereka cenderung memilih video klip dari lagu yang disenangi tanpa memperhatikan isi dari video klip tersebut. Saat mereka mengalami kesulitan dalam menentukan scene video klip, mereka cenderung berganti pada video klip yang lain. dengan demikian mereka tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu.
Di samping penilaian proses, ada juga penilaian produk. Penilaian produk merupan penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil tulisan atau produk siswa membuat naskah drama. Hal-hal yang dinilai dari produk meliputi beberapa hal yaitu sistematika penulisan, kelengkapan informasi atau cerita, penggunaan diksi atau bahasa, penggunaan ejaan atau tata tulis, dan kelogisan alur cerita. Nilai produk memiliki kontribusi sebesar 60% dari nilai akhir. Ditinjau dari penilaian produk, terjadi pula peningkatan nilai yang cukup signifikan. Berikut ini adalah tabel nilai produk membuat naskah drama

NO KRITERIA PENILAIAN SKOR MAKS SKOR PEROLEHAN KETERANGAN
SIKLUS I SIKLUS II
1 Sistematika 4 3,00 2,81
2 Kelengkapan 4 2,49 3,38
3 Bahasa/diksi 4 2,76 3,08
4 Ejaan 4 2,24 2,08
5 Alur cerita 4 2,73 3,97
JUMLAH SKOR 20 13,22 15,32
NILAI KUANTITATIF 100 69,56 80,65

Nilai kuantitatif diperoleh dari rumus sebagai berikut:
Nilai perolehan X 100
Skor maksimal
Jumlah keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 37 siswa

Pada siklus pertama tampak nilai sudah melebihi batas KKM yang telah ditentukan. Namun, penelitian tetap dilanjutkan dengan alasan bahwa produk yang dihasilkan pada siklus pertama bersifat kolektif sehingga tidak dapat mengukur kompetensi individual yang sebenarnya. Oleh karena itu siklus dilanjutkan dengan pola penugasan yang bersifat individual tetapi tidak meninggalkan kerja kelompok.
Hal-hal yang yang merupakan perbaikan siklus berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama adalah
1. Kegiatan dilakukan secara individual dengan tidak meninggalkan kontribusi kelompok. Kegiatan tersebut adalah
a. Kegiatan pada proses awal dilakukan secara kelompok. Yang merupakan proses awal adalah proses pendataan scene video klip dan rekonstruksi scene-scene tersebut menjadi rencana alur untuk naskah drama yang akan dibuat.
b. Kegiatan proses penulisan naskah atau pengembangan rencana alur menjadi draf naskah drama dilakukan secara individual.
c. Kegiatan editing dilakukan secara kelompok. Pada kegiatan editing siswa dalam kelompok memberikan sumbang saran untuk perbaikan temannya dalam kelompok tersebut. Satu draf naskah drama diedit oleh tiga orang temannya dalam satu kelompok. Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan editing tambal sulam seperti ini. Kelebihan tersebut adalah (1) karya siswa akan lebih sempurna karena mendapat masukan dari tiga orang dalam satu kelompok; (2) siswa dapat mengetahui kelebihan karya temannya yang dibaca untuk kemudian dapat dijadikan bahan pembanding demi penyempurnaan karya sendiri.
d. Kegiatan perbaikan naskah dilakukan secara individual. Dalam kegiatan ini siswa memperbaiki draf naskah drama yang telah dibuat dengan memperhatikan masukan atau saran dari temannya saat dilakukan editing.
Setelah dua bentuk penilaian di atas selesai dibuat, dilakukan kegiatan penghitungan nilai akhir. Nilai akhir diperoleh dengan rumus NA = (Nilai Proses X 40%) + (Nilai Produk X 60%). Hasil penghitungan nilai akhir adalah sebagai berikut

KRITERIA SIKLUS I SIKLUS II KETERANGAN
Jumlah Nilai 2518 3140
Rata-rata Nilai 68 85
Jumlah siswa yang tuntas belajar 21 37
Jumlah siswa yang tidak tuntas 16 0

Siswa dikatakan tuntas apabila sudah memenuhi nilai minimal (KKM) yang telah ditentukan sebesar 65.

Dari data di atas tampak adanya peningkatan yang cukup signifikan antara siklus pertama dan siklus kedua. Nialai rata-rata kelas meningkat sebanyak 17 angka. Yang lebih penting lagi, pembelajaran menulis naskah drama dengan melakukan rekonstruksi scene video klip musik terbukti mampu mengantarkan siswa pada kompetensi yang disyaratkan secara sempurna alias ketuntasan 100% dari batas ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya.
READ MORE - REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL (BAB IV HASIL PENELITIAN)

REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa
1. Pemanfaatan video klip musik sebagi suatu media pembelajaran terbukti mampu menarik minat dan perhatian siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama pada khususnya dan pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya.
2. Rekonstruksi scene video klip musik untuk pembelajaran menulis naskah drama terbukti mampu membantu siswa menguasai kompetensi tersebut. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai yang berada di atas KKM baik pada penilaian proses maupun produk.
3. Hasil yang diperoleh pada kedua siklus meningkat. Hal ini ditunjukkan pada mampunya siswa memproduksi naskah drama pada siklus pertama dan kedua. Kompetensi ini belum pernah terwujud sebelum pelaksanaan penelitian.

B. Saran
1. Pembelajaran yang bersifat ekspresif atau pengungkapan gagasan akan lebih cocok dilakukan secara individual.
2. Agar penguasaan kompetensi siswa merata dalam satu kelas, perlu dilakukan kegiatan editing tambal sulam sehingga siswa dapat melihat kelebihan orang lain dan mengadopsi kelebihan tersebut untuk perbaikan karyanya.
READ MORE - REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL

REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian tentang rekonstruksi scene video klip musik dalam pembelajaran kompetensi menulis naskah drama dilakukan sebanyak dua siklus kegiatan. Siklus pertama dilakukan dengan menggunakan teknik kelompok penuh dari awal proses kegiatan pembelajaran sampai pada tahap memproduksi naskah drama yang utuh. Siklus pertama ini ternyata kurang dapat mengukur kompetensi siswa secara individual. Hal tersebut dikarenakan proses kreatif mengemukakan gagasan kurang mencerminkan ekspresi dan kompetensi individual sehingga tugas kelompok kurang mewakili kompetensi individual.
Ada beberapa temuan sebagai hasil refleksi yang diperoleh dari pengamatan guru, observer, dan angket siswa. Hasil tersebut menggambarkan pada kondisi nyata proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Temuan yang terdata pada saat dilakukan refleksi pada siklus pertama tersebut adalah
1. Masih terdapatnya siswa yang kurang di dalam aktivitas kerja kelompok dan sumbang saran untuk membuat naskah drama.
2. Masih terdapatnya siswa yang kurang bertanggung jawab terhadap penyelesaian tugas. Hal ini terbukti dari empat kelompok dalam satu kelas hanya satu kelompok yang dapat menyelesaikan tugas secara lengkap, 1 kelompok menyelesaikan 75%, 1 kelompok menyelesaikan 50%, dan 1 kelompok menyelesaikan 25 pada waktu yang telah disepakati bersama.
Setelah refleksi yang dilakukan, dibuatlah rencana pelaksanaan diklus kedua. Siklus kedua bersifat penyempurnaan siklus pertama. Oleh karena itu, kegiatan pada siklus kedua semaksimal mungkin mengeliminir kekurangan yang terjadi pada siklus pertama.
Penelitian tentang reskonstruksi Scene videoklip musik untuk meningkatkan kompetensi menulis naskah drama pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Bojong Kabupaten Tegal menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut ditinjau dari hasil yang diperoleh siswa baik pada proses pembuatan maupun pada hasil atau produk berupa naskah drama satu babak.
Penilaian proses merupakan penilaian selama proses kegiatan pembelajaran menulis naskah drama. Penilaian ini dilakukan melalui pengamatan atau observasi. Sebagai alat untuk mengumpulkan data proses dipergunakan tabel observasi. Penilaian ini diperoelh dari pengamatan baik pada kerja individual maupun kerja kelompok. Hal-hal yang menjadi kriteria penilaian proses adalah kerja sama, inisiatif, toleransi, tanggung jawab, dan keaktifan. Nilai proses ini memiliki kontribusi sebesar 40 % dari nilai akhir yang diperoleh siswa.
Hasil pelaksanaan kegiatan menulis naskah drama dilihat dari penilaian proses sebagai berikut
NO KRITERIA PENILAIAN SKOR MAKS SKOR PEROLEHAN KETERANGAN
SIKLUS I SIKLUS II
1 Kerja sama 3 1,9 2.6
2 Inisiatif 2 1,5 2
3 Toleransi 3 2,5 3
4 Tanggung Jawab 4 2,2 3.4
5 Keaktifan 3 1.8 2.6
JUMLAH SKOR 15 9,9 13,6
NILAI KUANTITATIF 100 66 90
KRITERIA NILAI BAIK 14 37
KRITERIA NILAI CUKUP 5 0
KRITERIA NILAI KURANG 18 0

Nilai kuantitatif diperoleh dari rumus sebagai berikut:
Nilai peroleh X 100
Skor maksimal
Jumlah keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 37 siswa
Kriteria nilai
Baik : >=70
cukup : KKM – 69
kurang : < KKM

Dari tabel di atas tampak adanya perubahan nilai pada siklus pertama dan siklus kedua. Dari hasil refleksi yang dilakukan antara guru, kolaborator, dan siswa yang menjadi subjek penelitaian, diperoleh informasi bahwa ketidakmasilan proses pada siklus pertama disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1. Kegiatan dilakukan secara berkelompok dari awal sampai akhir pembelajaran sehingga memunculkan sikap kurang bertanggung jawab anak untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Hal ini diperkuat oleh laporan sebagian kelompok yang menyatakan bahwa tugas dikerjaan oleh beberapa anak saja dalam kelompok tersebut.
2. Kebebasan siswa memilih video klip sebagai media inspirasi membuat naskah drama justru membuat siswa merasa kebingungan memilih yang diinginkan. Mereka cenderung memilih video klip dari lagu yang disenangi tanpa memperhatikan isi dari video klip tersebut. Saat mereka mengalami kesulitan dalam menentukan scene video klip, mereka cenderung berganti pada video klip yang lain. dengan demikian mereka tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu.
Di samping penilaian proses, ada juga penilaian produk. Penilaian produk merupan penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil tulisan atau produk siswa membuat naskah drama. Hal-hal yang dinilai dari produk meliputi beberapa hal yaitu sistematika penulisan, kelengkapan informasi atau cerita, penggunaan diksi atau bahasa, penggunaan ejaan atau tata tulis, dan kelogisan alur cerita. Nilai produk memiliki kontribusi sebesar 60% dari nilai akhir. Ditinjau dari penilaian produk, terjadi pula peningkatan nilai yang cukup signifikan. Berikut ini adalah tabel nilai produk membuat naskah drama

NO KRITERIA PENILAIAN SKOR MAKS SKOR PEROLEHAN KETERANGAN
SIKLUS I SIKLUS II
1 Sistematika 4 3,00 2,81
2 Kelengkapan 4 2,49 3,38
3 Bahasa/diksi 4 2,76 3,08
4 Ejaan 4 2,24 2,08
5 Alur cerita 4 2,73 3,97
JUMLAH SKOR 20 13,22 15,32
NILAI KUANTITATIF 100 69,56 80,65

Nilai kuantitatif diperoleh dari rumus sebagai berikut:
Nilai perolehan X 100
Skor maksimal
Jumlah keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 37 siswa

Pada siklus pertama tampak nilai sudah melebihi batas KKM yang telah ditentukan. Namun, penelitian tetap dilanjutkan dengan alasan bahwa produk yang dihasilkan pada siklus pertama bersifat kolektif sehingga tidak dapat mengukur kompetensi individual yang sebenarnya. Oleh karena itu siklus dilanjutkan dengan pola penugasan yang bersifat individual tetapi tidak meninggalkan kerja kelompok.
Hal-hal yang yang merupakan perbaikan siklus berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama adalah
1. Kegiatan dilakukan secara individual dengan tidak meninggalkan kontribusi kelompok. Kegiatan tersebut adalah
a. Kegiatan pada proses awal dilakukan secara kelompok. Yang merupakan proses awal adalah proses pendataan scene video klip dan rekonstruksi scene-scene tersebut menjadi rencana alur untuk naskah drama yang akan dibuat.
b. Kegiatan proses penulisan naskah atau pengembangan rencana alur menjadi draf naskah drama dilakukan secara individual.
c. Kegiatan editing dilakukan secara kelompok. Pada kegiatan editing siswa dalam kelompok memberikan sumbang saran untuk perbaikan temannya dalam kelompok tersebut. Satu draf naskah drama diedit oleh tiga orang temannya dalam satu kelompok. Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan editing tambal sulam seperti ini. Kelebihan tersebut adalah (1) karya siswa akan lebih sempurna karena mendapat masukan dari tiga orang dalam satu kelompok; (2) siswa dapat mengetahui kelebihan karya temannya yang dibaca untuk kemudian dapat dijadikan bahan pembanding demi penyempurnaan karya sendiri.
d. Kegiatan perbaikan naskah dilakukan secara individual. Dalam kegiatan ini siswa memperbaiki draf naskah drama yang telah dibuat dengan memperhatikan masukan atau saran dari temannya saat dilakukan editing.
Setelah dua bentuk penilaian di atas selesai dibuat, dilakukan kegiatan penghitungan nilai akhir. Nilai akhir diperoleh dengan rumus NA = (Nilai Proses X 40%) + (Nilai Produk X 60%). Hasil penghitungan nilai akhir adalah sebagai berikut
KRITERIA SIKLUS I SIKLUS II KETERANGAN
Jumlah Nilai 2518 3140
Rata-rata Nilai 68 85
Jumlah siswa yang tuntas belajar 21 37
Jumlah siswa yang tidak tuntas 16 0

Siswa dikatakan tuntas apabila sudah memenuhi nilai minimal (KKM) yang telah ditentukan sebesar 65.

Dari data di atas tampak adanya peningkatan yang cukup signifikan antara siklus pertama dan siklus kedua. Nialai rata-rata kelas meningkat sebanyak 17 angka. Yang lebih penting lagi, pembelajaran menulis naskah drama dengan melakukan rekonstruksi scene video klip musik terbukti mampu mengantarkan siswa pada kompetensi yang disyaratkan secara sempurna alias ketuntasan 100% dari batas ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya.
READ MORE - REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL

REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas tentang peningkatan kompetensi menulis naskah drama dilakukan sebanyak dua siklus. Masing-masing siklus sebanyak tiga pertemuan. Desain penelitian menggunakan desain versi Tagerth dan Kemmis yang membagi siklus menjadi empat tahap yaitu tahap perencanaan siklus, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi. Berikut ini adalah bagian-bagian siklus penelitian menurut Kemmis dan Mc.Taggart yang akan digunakan dalam penelitian
1. Perencanaan (planning)
Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP 2 Bojong, Kabupaten Tegal yang sekaligus sebagai peneliti dalam penelitian ini. Dari penemuan masalah tersebut kemudian dicek kembali dengan pembelajaran serupa pada kelas yang berbeda. Hasil dari cek ulang kemudian dijadikan dasar pelaksanaan observasi tahap prapenelitian. Pada tahap ini dilakukan pengkajian ulang terhadap pelaksanaan kompetensi menulis naskah drama dengan mengecek data berupa daftar nilai dan produk pada tahun sebelumnya dengan guru yang berbeda. Untuk memantapkan permasalahan yang diambil dalam penelitian, penulis juga melakukan wawancara terhadap siswa dari kelas VIII dan kelas IX secara acak. Wawancara tersebut difokuskan pada daya serap mereka terhadap kompetensi menulis naskah drama dan proses pembelajarannya. Dari kegiatan prapenelitian yang berupa hasil studi dokumen hasil belajar siswa, diskusi dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang mengampu kelas VIII dan IX, serta wawancara dengan siswa tentang pembelajaran menulis naskah drama penulis meyakini bahwa permasalahan menulis naskah drama ini patut diangkat sebagai penelitian.
Setelah penentuan permasalahan, penulis mempersiapkan semua yang berkaitan dengan rencana penelitian yang dilakukan. Persiapan tersebut adalah
a. Menentukan kemungkinan solusi pemecahan masalah
b. Menentukan desain penelitian
c. Mempersiapkan rencana kegiatan
d. Menyiapkan alat evaluasi
e. Mempersiapkan media pembelajaran
f. Mempersiapkan instrument yang diperlukan
g. Membentuk kelompok secara heterogen
Tahap selanjutnya adalah tahap perencanaan siklus penelitian. Penelitian direncanakan akan dilakukan sebanyak dua siklus. Siklus pertama dan kedua masing-masing sebanyak tiga pertemuan. Namaun apabila hasil refleksi siklus kedua mengharuskan dilanjutkannya siklus yang lain, akan dilakukan siklus tambahan.

2. Pelaksanaan (action)
a. Penjelasan guru tentang bagian-bagian naskah drama.
b. Guru membagi siswa menjadi kelompok yang telah direncanakan sebelumnya, kemudian menjelaskan aturan main kegiatan yang dilaksanakan.
c. Siswa melihat penayangan videoklip.
d. Siswa secara klasikal dengan bimbingan guru mendata bagian alur cerita yang ada di videoklip dengan cara menentukan adegan-adegan yang ada.
e. Siswa melakukan realurisasi alur yang ada dalam videoklip tersebut sehingga menjadi alur cerita yang mudah dipahami.
f. Siswa berlatih mengembangkan satu bagian alur dengan membuat dialog yang bisa dibuat.
g. Siswa melengkapi dialog dengan ilustrasi yang diperlukan.
h. Siswa melaporkan hasil kegiatan di depan kelas. Siswa yang lain dan guru memberikan komentar.
a. Siswa memperbaiki penulisan naskah drama berdasarkan saran dari siswa lain dan guru.
b. Siswa menyelesaikan bagian alur yang lain menjadi naskah drama yang utuh. Kegiatan pada tahap ini dilakukan di rumah sebagai tugas rumah.
Pertemuan kedua
a. Penyuntingan Tambal sulam.
Pada siklus pertama kegiatan penyuntingan tambal sulam berupa kegiatan menyunting hasil pekerjaan suatu kelompok dibaca oleh kelompok lain. Pada siklus kedua, tugas dilakukan secara individual. jadi kegiatannya berupa penyuntingan tambal sulam karya siswa dalam satu kelompok yang disunting oleh temannya dalam kelompok yang sama. Kelompok atau siswa yang bertugas sebagai penyunting melakukan kegiatan sebagai berikut:
1) menambah dialog atau ilustrasi yang diperlukan atau dianggap kurang.
2) Mengganti dialog atau ilustrasi yang kurang pas atau sesuai.
3) Mencoret dialog atau ilustrasi yang dianggap tidak perlu
Kegiatan tambal sulam dapat pula berfungsi sebagai studi banding karya pribadi dengan karya kelompok lain. dengan demikian diharapkan setelah kegiatan tambal sulam ini, siswa akan melakukan revisi pada naskah drama yang telah dibuatnya dengan lebih baik.
Pertemuan ketiga
a. Siswa membaca naskah drama yang telah disunting oleh temannya.
b. Siswa memperbaiki naskah drama dengan memperhatikan suntingan dari temannya sehingga naskah tersebut menjadi lengkap.
c. Publikasi. Naskah drama yang telah direvisi dipublikasikan dalam antologi naskah drama.

3. Pengamatan (observing)
Pada tahap ini dilakukan pengamatan oleh tiga pihak yaitu guru yang sekaligus sebagai peneliti, kolaborator yang bertugas sebagai observer, dan siswa sebagai objek penelitian. Observasi oleh guru dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang terkait secara langsung dengan penilaian proses pembelajaran. Pada saat observasi dilakukan, guru diarahkan dengan tabel observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Observasi yang dilakukan oleh observer atau kolaborator difokuskan pada kejadian-kejadian yang timbul selama pelaksanaan tindakan. Observer membawa tabel observasi yang telah dipersiapkan agar hasil pengamatan lebih terarah. Observer dilakukan oleh kolaborator yaitu guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bojong.
Observasi yang dilakukan siswa pada hakikatnya adalah refleksi dari yang dialami siswa selama mengikuti pembelajaran. Observasi difokuskan pada tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Karena jumlah siswa cukup banyak dalam satu kelas, untuk memperoleh hasil observasi ini, peneliti menggunakan angket untuk memperoleh balikan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Angket tersebut kemudian dianalisis sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam refleksi.

4. Refleksi (reflecting)
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengetahui mutu pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Pada refleksi ini dilakukan analisis dari hasil observasi antara guru sebagai peneliti, kolaborator sebagai observer, dan hasil angket yang dibagikan pada siswa. Pada refleksi ini pula dikemukakan hasil pembelajaran yang diperoleh dari penilain baik peneilaian proses maupun penilaian produk yang berupa naskah drama.


B. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas tentang peningkatan kompetensi menulis naskah drama ini dilakukan di kelas VIII secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan dari keseluruhan siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Bojong, kemampuannya merata dan mereka kurang dalam kompetensi menulis naskah drama. Namun kelas yang lebih difokuskan sebagai subjek penelitian ini adalah kelas VIII C. Penentuan subjek penelitian ini didasarkan pada pengamatan pada empat paralel kelas VIII yang ada. Alasan penentuan kelas ini adalah
1 Kelas VIII C jumlah siswanya paling banyak yaitu mencapai 40 siswa.
2 Kelas ini merupakan kelas yang motivasi belajarnya paling rendah. Hal ini dibuktikan dengan presentase kehadiran yang paling rendah terutama saat pelajaran bahasa Indonesia.
3 Kelas VIII C merupakan kelas dengan prestasi akademik terendah. Hal ini dibuktikan dari rerata nilai raport semester sebelumnya apabila dibandingkan dengan kelas paralel yang lain.

C. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dikumpulkan dengan beberapa teknik yaitu
1 Studi data skunder yaitu berupa data-data pendukung. Data skunder ini dilakukan pada tahap prapenelitian untuk menentukan dan memantapkan permasalah dan subjek penelitian yang dipilih. Data ini berupa daftar nilai harian semester sebelumnya, daftar nilai bahasa Indonesia pada raport semester sebelumnya, presensi siswa.
2 wawancara. Teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang kondisi awal yang riil pada subjek penelitian. Wawancara ini digunakan untuk memantapkan permasalahan dan subjek penelitian.
3 Observasi yaitu pengamatan terhadap jalannya pelaksanaan kegiatan penelitian pembelajaran. Observasi ini digunakan untuk mengatahui efektivitas media, metode, dan langkah pembelajaran.
4 Uji produk yaitu siswa menulis naskah drama secara nyata. Uji produk ini sebagai salah satu tolak ukur ketercapaian kompetensi menulis naskah drama yang diajarkan.

D. Validasi Instrumen
Validasi instrumen yang digunakan adalah validasi sejawat yaitu diskusi antara peneliti dan kolaborator untuk mencari kelemahan dan kekuatan instrumen yang diajukan. Hasil diskusi dipergunakan sebagai dasar perbaikan instrumen sehingga akan diminimalisir kemungkinan terjadinya hambatan dalam penelitian. Validasi ini menitik beratkan pada kemudahan instrumen tersebut digunakan dan kesesuaiannya dengan data yang diinginkan.

E. Teknik Analisis dan Validasi Data
Teknik yang digunakan dalam analisis data yang dilaksanakan adalah analisis catatan lapangan yang diperoleh dari observasi oleh kolaborator, peneliti, dan balikan dari siswa. Validasi data yang telah terkumpul dilakukan dengan beberapa cara yaitu
1 member check yaitu memeriksa kembali keterangan atau informasi yang telah diperoleh selama observasi dan atau wawancara untuk mengetahui keajegan informasi tersebut.
2 Triangulasi memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk, dan analisis dengan membandingkan antara pandangan guru sebagai peneliti, kolaborator yang melakukan observasi pelaksanaan tindakan , dan lembar balikan dari siswa yang mengalami tindakan secara langsung.
3 Saturasi yaitu melakukan peninjauan kembalai apakah sudah tidak ada data lagi yang dapat ditambahkan.
READ MORE - REKONSTRUKSI SCENE VIDEOKLIP MUSIK UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENULIS NASKAH DRAMA SISWA KELAS IX C SMP NEGERI 2 BOJONG KABUPATEN TEGAL