Sabtu, 06 Juni 2020
BRISBANE, JANTUNG KOTA DI QUEENSLAND
Jumat, 05 Juni 2020
PENYESALAN KUPU-KUPU
Oleh: Farichin
|
D |
i sebuah hutan,
kupu-kupu sedang asyik mengagumi keindahan sayapnya. Dia tengah berkaca pada sebutir
embun di atas sebuah daun. Permukaan embun yang jernih dengan kilauan sinar matahari
semakin indah memantulkan bayangan kupu-kupu.
“Ah, rasanya tak ada makhluk lain
yang mampu menandingi keindahanku” gumam kupu-kupu pada bayangannya.
Kupu-kupu berputar-putar di depan cermin embun tersebut. Kadang tersenyum,
memeringkan kepalanya, menjauhkan tubuh dari cermin kemudian mendekatinya lagi.
Saking asyiknya kupu-kupu berkaca mengagumi dirinya sendiri, dia tak menyadari
seekor siput tanpa cangkang menghampirinya.
“kdubraaaak”
Kupu-kupu terpelesat dan jatuh ke tanah dengah keras. Lendir yang
ditinggalkan oleh siput itu telah membuatnya jatuh dengan bebasnya. Sayapnya
yang indah menjadi kotor.
Siput melihat Kagum pada Kupu-kupu
Siput kaget dan takut. Dia merasa telah membuat kupu-kupu jatuh. Dia ingin minta
maaf, tapi melihat kemarahan kupu-kupu siput tak berani berkata-kata.
“Hai, Siput jelek dan menjijikkan. Apa yang kamu lakukan di sini? Gara-gara
kamu, aku terjatuh tahu!” bentak kupu-kupu marah.
“Ma…maa… maafkan aku,” kata siput lirih.
“Apa, maaf katamu? Setelah kaubuat aku terjatuh dan sayapku yang indah ini kotor,
kamu hanya minta maaf? Dasar tidak tahu diri!” bentak kupu semakin marah.
“T….tet…tetapi…aku tidak sengaja,” bela siput ketakutan.
“Ya, aku tahu kau tidak sengaja. Tapi badanmu yang jelek dan berlendir itulah
yang menjadikan aku sepertiini.” Bentak kupu-kupu sambal menunjuk dengan jijik pada
badan siput yang mengkilap karena lendir. “lagi pula kamu ngapain sih ke sini?”
“Aku ingin menjadi temanmu kupu-kupu. Agar aku bisa meniru keindahanmu,”
kata siput ragu.
“jadi temanku….?”
“Iya,” Siput mengangguk
“ha…..ha…..ha…..” kupu-kupu tertawa mengejek. “Hai Siput, ngaca dong.
Apakah kamu merasa pantas berteman denganku yang cantik dan anggun ini, Hah?”
Siput menggeleng pelan. Dia hanya mampu terdiam dan menunduk. Dia sangat malu
dihina serupa ini. Untung tidak ada orang yang melihat.
Siput pergi meninggalkan kupu-kupu. Hatinya hancur. Bukan karena dia ditolak
menjadi teman oleh kupu-kupu tetapi karena kata-kata kupu-kupu yang
menghinakandirinya.
Sepeninggal Siput, Kupu-kupu segera membersihkan dirinya. Dia tak mau ada penduduk
hutan itu yang tahu dirinya tampil tidak sempurna dengan sayap yang kotor. Apa jadinya
kalau dia tampil dengan sayap yang kotor dan berdebu.
Kekesalannyamasihmenguasaidirinya. Sesekalidiamengomelsendiri.
“Ada apaKupu-kupu? Dari tadisayalihatkamukokngomeeelterus. Nggakbaiklohpagi-pagisudahmarah-marah.
Nanticepattua,” sapaMerpatiPutih.
“Eh, kamu. Nggakapa-apakok. Cumakesalsajasamasiput.
“Siput? Memangkenapadia?” Tanya merpatiingintahu.
“lendirnya yang menjijikantelahmembuatakuterpelesetdanjatuh. Kotor
dehsayapku,” terangKupu-kupu.
“Oh…” gumamMerpatipendek.
“KokCuma oh?” kata kupu-kupukesal.
“Loh, memangnyaaku harus bilangapa? Akupikiradamasalahserius, taktahunyacumaterpeleset,”
terangMerpati.
“Inijugamasalahserius, Mer. Masalahbesar,” kesalsuaraKupu-Kupu.
“Kamuhanyaterpelesatdanitukamuanggapsebagaimasalahbesar? Yang benarsaja,”
belaMerpati.
“Bagaimanabukanmasalahbesar, badankusakitdansayapkujadikotor, tahu….” Bela
Kupu-Kupu.
“Sayapmu, akulihatbaik-baiksaja. Masihbersih,” kata Merpati sambal
mengamatisayapkupu-kupu.
“Iyasekarangbersih, tadi? Kotor tahu!”
“Tapisekarangkantidak.
Artinyajatuhnyakamubukanmasalahbesardantidakperludibesar-besarkan.
“Sudah...! sudah...! kamu tak perlu menggurui aku. Aku tahu, Kamu iri
dengan keindahanku. Bahkan kamu mungkin berharap agar sayapku patah bukan
sekadar kotor seperti sekarang ini,” Kupu-kupu memojokkan Merpati.
“Kupu.... bukan...!”
“Cukup bicaramu, Merpati. Aku tahu niat busukmu itu. Kamu ingin aku
memaafkan Siput dan berteman dengan siput kan? Dengan demikian aku bisa sering
terjatuh dan nanti sayapku jadi rusak atau bahkan patah. Saat sayapku rusak,
lalu kamu menjadi hewan paling cantik di hutan ini kan?” tuding Kupu-Kupu
dengan kemarahan yang semakin memuncak.
“itu sama sekali tidak pernah aku pikirkan,” bela Merpati.
“Alah.... jangan sok baik kamu Merpati. Kamu berpura-pura baik demi niat
busukmu menjadi yang paling cantik di hutan ini,” tuduh kupu-kupu keji.
“Demi Tuhan, aku tak ada niat sejahat itu,”
“Aku tak percaya!”
“Bagaimana caranya agar kamu bisa percaya dengan ucapanku itu?” tanya
Merpati.
“Bersumpah?”
“Bersumpah bagaimana maksud kamu?”
“Kamu harus melakukan sumpah di atas batu suci dengan disaksikan oleh
seluruh penduduk hutan ini. Jika sumpahmu bohong maka bulu-bulumu yang putih
akan rontok dan kamu tidak akan memiliki bulu lagi.
“Baiklah. Bukan hanya aku yang tidak punya bulu, tetapi anak keturunanku
juga tidak akan punya bulu jika apa yang aku katakan tadi dusta. Tapi....”
“Tapi apa...?” tanya Kupu.
“Tapi, jika aku berkata benar, maka keturunan kamu tidak akan memiliki
keindahan sepertimu sekarang,” tantang Merpati.
“Tidak bisa. Aku tidak mau,” tolak kupu-kupu.
“Paling tidak untuk memiliki keindahan sepertimu sekarang, keturunanmu
harus merasakan dulu penderitaan dihina oleh makhluk lain. Bagaimana?” tantang
Merpati.
“Tidak mau,” tolak kupu-kupu.
“Loh, kalau kamu tidak mau. Aku pun tidak akan mau bersumpah seperti yang
kau inginkan,” terang Merpati.
Kupu-kupu terdiam. Dia sangat yakin bahwa Merpati memeiliki niat jahat
terhadap dirinya. Kupu-kupu yakin tantangan yang diberikannya itu hanya
merupakan cara agar dia tidak mengucapkan sumpah di atas batu suci. Dengan
demikian dia akan selamat dari kutukan sumpahnya sendiri.
Kupu-kupu mengangguk mengerti siasat licik Merpati. Dia terima saja
tantangan Merpati. Rasanya dia tak sabar lagi melihat Merpati yang menjadi
saingannya menjadi gundul tanpa bulu. Kupu-kupu tersenyum penuh kemenangan.
“Baiklah, aku terima tantanganmu,” jawab kupu-kupu tegas.
“Kamu yakin akan melakukan itu, Kupu-kupu?” tanya Merpati tidak percaya.
“Kamu takut kan karena apa yang aku katakan benar adanya?” kupu-kupu
semakin yakin bahwa Merpati memiliki niat jahat terhadap dirinya.
Merpati dan kupu-kupu melakukan sumpah di batu ajaib
Mereka pergi menuju tempat batu suci berada. Penduduk hutan telah berkumpul
mendengar panggilan gajah yang menjadi saksi sumpah yang akan Merpati lakukan.
Merpati dan Kupu-kupu telah berdiri di atas batu suci. Mereka sangat yakin
bahwa mereka akan selamat dari sumpah yang akan mereka ucapkan tersebut.
“Hadirin, hari ini kita akan menyaksikan sumpah yang akan disampaikan oleh
Merpati dan Kupu-Kupu. Kupu-kupu telah menuduh merpati memiliki niat jahat
terhadap dirinya. Sementara itu Merpati merasa tak ada sedikit pun niat jahat
terhadap kupu-kupu. Jika Merpati berbohong, maka dia dan keturunannya tidak
akan memiliki bulu lagi. Namun jika di benar, keturunan kupu-kupu harus
berjuang dengan susah payah dan terhina untuk dapat memiliki keindahan
sayapnya.” Jelas gajah pada penghuni hutan.
Semua terdiam. Ada kecemasan yang mencekam pada seluruh penduduk hutan.
“ikuti kata-kataku Hai Merpati dan Kupu-Kupu” perintah Gajah.
“Baik,”
“Aku bersumpah.”
“Aku bersumpah,” Merpati dan Kupu-kupu mengikuti.
“Semua yang aku katakan adalah benar. Jika aku berbohong, maka aku akan
menerima akibat seperti yang telah disepakati.”
Merpati dan Kupu-kupu mengikuti sumpah yang disampaikan oleh gajah sampai
selesai.
Tiba-tiba batu suci tersebut bergetar dahsyat. Terdengar suara “Kraaaak”
seperti batu yang terbelah. Batu mengeluarkan asap putih. Semakin lama semakin
tebal. Merpati dan kupu-kupu yang berada di atas batu tertutup oleh asap putih
yang tebal tersebut.
Asap semakin tebal. Berputar perlahan. Semakin lama putaran tersebut
semakin kencang. Merpati dan kupu-kupu tidak terlihat lagi.
Penonton terdiam menahan napas. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi
dengan Merpati dan Kupu-kupu.
Tak lama kemudian asap tebal hilang. Kupu-kupu dan Merpati masih berada di
atas batu suci. Mereka baik-baik saja. Seakan tak pernah terjadi apa-apa. Siapa
yang salah tak ada yang tahu.Penduduk hutan membubarkan diri.
Hari berganti hari. Penduduk hutan masih belum tahu hasil dari sumpah yang
dilakukan oleh Merpati dan Kupu-kupu. Sampai pada suatu saat mereka dikejutkan
oleh suara tangisan yang menyanyat hati. Tangisan kesedihan dari kupu-kupu.
Semua mendatangi kediaman kupu-kupu. Ternyata kupu-kupu baru melahirkan
anaknya. Tapi mereka terkejut. Ternyata yang dilahirkan kupu-kupu bukanlah bayi
kupu-kupu yang lucu dan imut, tetapi sebutir telur yang lengket. Telur-telur
itu kemudian terbelah dan menjadi suatu makhluk yang menjijikan. Makhluk
seperti monster dengan gigi dan duri tajam. Dialah ulat bulu, sang anak
kupu-kupu.
Penduduk hutan mengerti sudah. Ternyata Merpati benar. Dia tak punya niat
jahat terhadap orang lain.
Kupu-kupu menyesali kelakuannya. Keangkuhan, kesombongan, dan prasangka
buruk telah menyengsarakan dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah
terjadi. Dia harus mengubah sifat menjadi lebih santun dan baik agar
anak-anaknya kelak memiliki kesempatan mendapatkan keindahan yang sejati.
Kupu-kupu harus mengajarkan pada anaknya, sang ulat bulu, agar kerakusannya
dia hentikan dan segera dia bertapa untuk mendapatkan ujudnya yang sebenarnya.
Kesombongan dan kedengkian kupu-kupu harus ia tebus dengan pengorbanan yang
sangat berat.
Kamis, 04 Juni 2020
TANDA CINTA BUAT EMAK
|
|
Mengenang Ibundaku
tercinta. Terima kasih, engkau telah memberikan aku sesuatu yang berharga
untuk bisa mengerti dunia dan mensyukurinya. Beristirahatlah dengan tenang
Bunda. Doa-doa kami akan menemanimu setiap helaan nafas. Semoga. ( OLEH
: FARICHIN ) |
ak, aku tak tahu, apakah aku harus menangis atau tersenyum, melihat engkau terbujur dingin. Nyawa
yang selama ini mengaitkan engkau antara dunia fana dan hidup abadi, kini telah sirna. Tubuh kurusmu begitu
ringkih menahan beban hidup yang begitu menyakitkan. Tubuhmu akhirnya harus
merelakan nyawa satu-satunya yang engkau miliki kembali ke haribaan sang
khalik. Mak, mungkinkah
engkau merasa lega dengan jemputan malaikat maut yang baru saja engkau terima?
Kulihat engkau tersenyum begitu manisnya. Tak secuil pun gambar
kesakitan dan ketakutan tergores di pipimu yang keriput. Keikhlasan begitu
tergambar dari senyummu yang begitu damai menghadapi sang maut. Dan senyum itu tak pernah aku lihat sepanjang
engkau hidup bersamaku, Mak. Aku yakin engkau akan bertemu Tuhan dengan
pertemuan yang begitu syahdu. Yah, mungkin perjalanan abadimu kini lebih
berarti tinimbang terus menyaksikan hidup yang serba tak menentu.
Mak,
manakala kutatap wajahmu yang semakin dingin itu, ada rasa yang entah. Rasa
kosong dan hampa yang tiba-tiba menekan dada, nafas, dan otakku. Aku tak tahu,
Mak. Mengapa aku tidak menangis seperti layaknya orang-orang yang ditinggal
mati oleh kerabatnya. Aku hanya bisa terpaku bisu. Air mata terasa begitu
kering. Yang ada hanya duka diri kehilangan orang yang biasa diajak berbagi. Kehilangan orang yang sering
menyadarkan aku kala kekufuran menyergap diri.tapi, bukankah tangisku
juga tak kan mengubah apa yang telah terjadi. Aku tak ingin menyusahkanmu lagi
dengan isak tangis yang hanya basa-basi.
Masih terbayang jelas dalam benakku ,Mak
ketika kau tiba-tiba jatuh sakit. Disentri telah menyerangmu. Penyakit itu
memang penyakit kampungan kata orang-orang, tapi penyakit itu juga yang mampu
menjadi sarana engkau pergi untuk selamanya. Engkau kesakitan dengan sakit yang
teramat sangat. Aku tahu itu dari raut mukamu yang sulit dilukiskan, meskipun engkau berusaha untuk
menyembunyikan sakit itu dariku. Mak, engkau memang perempuan luar biasa. Tak
pernah sekalipun engkau mengatakan sakit
meskipun akhirnya engkau kalah oleh sakit itu. Engkau nikmati
semua derita yang menimpa dengan kenikmatan yang sebenarnya.
Maaf,
Mak. Kalau saat itu aku tak
dapat membawamu berobat ke dokter, tabib, atau dukun. Engkau pasti tahu betul
karena untuk berobat ke sana juga butuh biaya. Sementara penghasilanku dengan mengumpulkan
rongsokan tak pernah bisa lebih dari lima ribu perak sehari. Itupun kalau aku
sedang beruntung memperoleh barang-barang bekas. Maafkan anakmu,Mak, kalau aku hanya bisa membelikanmu pil
disentri seharga enam ribu perak sebutir. Itupun dengan pengorbanan cucu dan
menantumu. Mereka terpaksa puasa, Mak, agar aku dapat membelikan pil itu
untukmu. Namun panggilan Tuhan
ternyata lebih dulu
menjemputmu daripada usahaku membeli pil itu di kota kecamatan. Pil itu kini masih
aku genggam, tapi sudah tak berguna lagi untukmu. Engkau sudah tak
memerlukannya lagi kan,Mak.
Tapi tak mengapa, semoga sebutir pil ini bisa menunjukkan tanda baktiku padamu.
Ya, hanya itulah yang bisa aku berikan padamu,Mak.
Mak,
maafkan aku. Sebagai anak aku mungkin tak bisa membahagiakanmu di dunia. Selama
engkau tinggal bersamaku, tak sekalipun engkau kuberikan kebahagiaan.
Kekurangan adalah sahabat kita. Kalau dalam sehari kita tidak merasa kekurangan
rasanya kok aneh. Kita memang
orang yang hebat,Mak. Kita cukup makan sekali dalam sehari sementara
orang-orang harus tiga kali. Kita juga bisa bertahan hidup tanpa listrik, televisi, atau hiburan lain
sementara orang ribut kalau benda-benda itu tidak tersedia di rumah-rumah
mereka. Tapi kita tak pernah bersedih dan berduka. Itu
anjuranmu kan, Mak. Masih jelas dalam kepalaku engkau pernah berkata
“Nardi,
jadi orang itu harus sabar, menerima dengan syukur. Tidak usah iri dengan
rejeki tetangga. Kita boleh saja tidak punya apa-apa, tapi jangan harga diri
kita engkau gadaikan untuk keperluan dunia” begitu katamu, Mak sambil menjemur gaplek di depan
gubuk kita.
Aku juga masih ingat saat engkau memarahiku saat
aku mencoba protes kepada
kepala desa karena kita tidak terdaftar sebagai penerima BLT.
“Nardi,
gak usah minta-minta sumbangan kepada orang. Jangan sekali-kali kamu berharap
pada orang. Ingat, Nardi, kita sudah miskin, tapi jangan lantas kita merasa
tidak punya apa-apa. kita masih
punya harga diri, akankah engkau gadaikan harga dirimu itu dengan uang
seratus ribu perbulan? Malu Nar,malu. Emakmu malu kalau anaknya harus ribut
untuk menjadi pengemis pada pemerintah.” begitu katamu saat itu. Kemarahan dan
kedukaan tergambar jelas dalam raut mukamu yang kelam.
“tapi ,Mak
kita tidak makan dengan harga
diri. Yang kita makan nasi, dan untuk nasi kita butuh uang. Bukankah BLT
itu diperuntukan untuk orang-orang miskin,Mak? Kita ini miskin, bahkan
barangkali termiskin sekecamatan. Tapi mengapa kita tidak menerima bantuan itu.
Apa mereka buta? Atau kita dianggap tidak ada?” protesku mendengar nasihatmu.
“Jangan
suka menghina diri sendiri Nardi. Kita memang miskin, tapi kita masih bisa
bekerja. Kalau butuh uang ya usaha.Bukan memint-minta yang bukan jatah
kita” lanjutmu untuk mencegah langkahku saat
itu. Gaplek yang saat itu sedang kau jemur, terus tergenggam erat di tangan.
Gemetar tanganmu menahan gejolak dalam dadamu saat itu.
“Mak,
keluarga pak lurah yang sudah mampu saja mendapatkan BLT,
mengapa kita yang kesusahan malah tidak dapat,Mak. Itu namanya tidak adil”
kataku mulai melemah melihat amarahmu yang terpendam.
“Nardi,
kalau kamu mengharap keadilan di dunia ini, sama saja kamu berharap dimasukkan
kembali ke perut emakmu. Apakah itu mungkin?” Katamu ,Mak sambil tertatih meninggalkanku
sendiri.
Aku terhenyak mendenga perkataanmu. Aku
tersadar, betapa aku telah keliru
mengharap pada manusia. Maaf ,Mak kalau saat itu aku terus membantah perkataanmu.
☻☺☻☺☻
ak, maaf. Kalau sejak engkau
menghembuskan nafasmu yang terakhir, baru ada dua orang yang datang. Jangan
bersedih ,Mak. Mungkin mereka sibuk urusan dunia mereka atau mereka khawatir
gubuk kita akan penuh sesak dan akhirnya roboh apabila mereka datang. Mereka
telah berbaik hati untuk tidak membuat gubuk kita roboh. Lagi pula apa yang
dapat mereka peroleh dari kta ya, Mak?
Mak
sabar ya, untuk segera berangkat ke alam keabadianmu. Aku masih menunggu satu
orang lagi untuk dimintai pertolongan mengangkatkan keranda jenazahmu.
Mudah-mudahan mereka mau ya, Mak. Tapi kalaupun mereka tidak mau, mak aku pun
sanggup menggendongmu ke kuburan seorang diri. Toh berat tubuhmu tidak
terlalu berat dan juga kuburan untukmu yang telah aku siapkan juga tidak jauh dari
gubuk kita.
O, iya maaf ,Mak. Kuburanmu
terpaksa tidak di pemakaman umum. Uangku tidak cukup lagi untuk membayar
ongkos penguburan di pemakaman umum. uangku sudah habis buat membeli pil seharga enam ribu rupiah sebutir yang kini
berada di kantong kolorku dan secarik kain kafan kasar untuk pakaian
terakhirmu. Tak ada biaya lagi untuk
menguburkanmu di tanah pemakaman umum karena untuk menguburkan di situ harus mengeluarkan beberapa ratus
ribu rupiah. Kalau aku punya uang sebanyak itu Mak tentunya aku tak cuma
membelikanmu pil disentri yang seharga enam ribu perak tapi aku pasti akan
membawamu berobat ke mantri atau dokter sehingga engkau pun mungkin
dapat tertolong. Dunia memang aneh, Mak sampai-sampai untuk mati
saja harus jadi orang kaya. Lah, kita yang miskin memang harusnya tidak
dilahirkan ya, Mak. Tapi mengapa Tuhan menciptakan orang miskin seperti
kita? Berarti kita sebenarnya ada
manfaatnya juga di dunia. Ah, bodo amat lah, dengan orang lain yang menganggap
kita tak berarti. Yang penting Tuhan menganggap kita berarti.
Mak, Kuburanmu aku buatkan di
samping gubuk kita, di tempat biasa engkau mengupas singkong yang akan engkau
buat menjadi gaplek. Mudah-mudahan engkau senang. Bukankah tempat itu tidak
asing lagi buatmu, Mak? Ambil hikmahnya saja ya,Mak. Dengan kuburanmu yang
dekat dengan rumah, aku bisa kapan saja berkunjung ke rumahmu yang baru. Aku
yakin, rumahmu yang baru akan lebih besar daripada gubuk kita. Lebih luas dan
lebih indah. Bukankah begitu, Mak kata pak ustad yang sering mengisi pengajian
di masjid, meskipun kita
hanya mendengar dari balik tembok keliling masjid yang kokoh itu. Meskipun yang
tampak hanya sepetak tanah yang ditanami berbagai macam palawija tanamanmu.
Singkong, ketela rambat, talas, bayam, dan cabai yang kautanam masih tetap
kubiarkan agar engkau tidak merasa asing. Lagipula itu adalah warisanmu yang
harus selalu kurawat demi kesejahteraan anak dan cucumu.
Hari semakin sore, mendung begitu
tebal menyelimuti angkasa. Hujan belum turun, hanya sesekali kilat di langit atas menampakkan cahaya. Pelayat yang
telah datang, Paijo dan Karmin, sudah pulang. Tak ada lagi orang yang datang
untuk membantu menguburkan mak Pariyem. Mayat mak Pariyem sudah dimandikan oleh
Nardi anak semata wayangnya
dibantu oleh istri dan anaknya yang drop out dari kelas lima sekolah dasar. Alam
tampak bersedih. Angin semilir seolah mengajak Nardi anaknya untuk segera
menguburkan mayat ibunya. Orang-orang kampung sudah tidak dapat diandalkan.
Mereka lebih tertarik berbicara tentang politik, uang, dan apa yang akan mereka
peroleh dari tenaga yang mereka keluarkan.
Dengan khusuk Nardi memimpin sholat mayat untuk
emaknya diikuti lastri, istrinya, dan Jamal ,anaknya, dengan bacaan sebisanya. Dia memang tak pernah belajar agama secara
khusus. Guru agamanya hanyalah bapaknya dan ibunya yang semuanya kini sudah
tiada. Sesekali memang Nardi
mengikuti pengajian di masjid tetapi hanya di balik masjid. Dia sadar betul
tubuh dan bajunya yang kotor tak layak untuk masuk ke masjid yang suci itu.
Di samping itu, trauma masa kecilnya diusir dari masjid oleh pak ustad saat ia
kecil gara-gara ia mau belajar sholat tetapi badan kotor dan bau cukup
membuatnya jera untuk masuk rumah Tuhan yang suci itu. Ia tak mendendam.
Kesadaran akan dirinyalah yang akhirnya menguasai hari-harinya untuk jauh dari
tempat suci itu. Sebagai seorang
muslim, nardi paham betul
bahwa mengurus jenazah merupakan fardu kifayah dimana apabila sudah ada satu
orang yang mengurusnya maka gugurlah kewajiban bagi muslim yang lainnya. Kini
dia hanya ingin menggugurkan kewajiban muslim di sekitar rumahnya. Dia juga
malu apabila nanti arwah ibunya bertemu malaikat dan ditanya tentang saudara
muslimnya. Apa yang harus emak katakan? Memang kami menganganggap semua muslim
adalah saudara kami, tapi apakah mereka mau mengakui kami sebagai saudara
mereka.
Diangkatnya tubuh ringkih
emaknya yang sudah tak bernyawa dari keranda bambu buatannya sendiri. Nardi masih kuat untuk mengangkat tubuh ibunya
yang hanya memiliki berat tiga puluh kilogram. Dilangkahkannya kakinya pelan. Tubuh
ibunya terasa begitu melekat pada tubuhnya yang semakin lemah karena puasa.
Pelan tapi pasti. Tiba-tiba ada rasa haru yang menyergap relung hatinya.
Dadanya penuh dengan rasa itu. Mata mulai memanas, dan akhirnya sebulir kristal
air matanya turun berlahan melewati kelopak mata dan meluncur melalui pipinya
yang hitam. Butir air mata itu terus meluncur dan berhenti di dagunya yang
kasar. Ingin ia mengusap butir air itu, tapi ia tak memiliki kekuasan.
Tangannya tengah sibuk menggendong tubuh emaknya. Dalam hatinya Nardi berdoa, “ya, Tuhan. Jangan biarkan air
mata ku jatuh di kain kafan emakku. Biarkan kain itu bersih karena kain itu
merupakan kain satu-satunya yang akan emakku pakai untuk menghadap-Mu.” Lalu
diusapkan janggutnya pada lengan kanannya untuk menghilangkan air mata Nardi sambil terus berjalan menuju pemakaman
untuk emaknya di belakang gubuk reyot mereka. Nardi berhenti sesaat. Diamatinya tubuh emaknya dalam
gendongannya, memastikan air matanya tak mengotori kain kafan emaknya. Setelah
diyakininya betul kain kafan emaknya masih seperti semula, ia melanjutkan
perjalanannya ke makam ibunya yang tinggal beberapa langkah.
Sampailah rombongan pengantar
jenazah itu sampai di makam ibunya. Ditatapnya lubang kubur untuk ibunya yang
telah ia gali tadi pagi. Nardi tercenung sesaat. Siapa nanti yang akan turun di bawah lubang kubur dan
siap pula yang akan memegangkan jenazah emaknya.Betapa akan tertolongnya dia
apabila kang paijo atau kang Karmin masih di sini, bisik hati Nardi. Namun, segera ditepisnya pikiran itu
jauh-jauh. Maaf , Mak aku telah mengeluh meski dalam hati. Engkau pasti tidak
suka kalau eku mengeluh, apalagi saat mengantarkanmu untuk terakhir kalinya.
Dipanggilnya istri dan anaknya untuk membopong jenazah emaknya, kemudian Nardi segera turun masuk ke lubang kubur
emaknya. Beberapa saat kemudian selesailah prosesi pemakaman sederhana seorang
perempuan sederhan dengan pola pikir sederhan dan acara sederhana. Nardi dan keluarganya segera meninggalkan
kuburan emaknya. “Selamat jalan, Mak. Hidupmu kini lebih indah dari hidupmu
yang lalu. Sampaikan rindu kami untuk menyusulmu pada, Tuhan agar kami bisa
bertemu dengan keadilan yang hakiki”
Selasa, 17 Juli 2018
SIMBIOSIS YANG MENYENANGKAN
Rabu, 01 November 2017
PESTA CAHAYA YANG MERIAH
Sore itu, Mat Gaper dan beberapa teman regu kancil tengah tiduran setelah kecapaian. Ya, tadi seharian mereka mengikuti wide game alias mencari jejak dari pagi sampai pukul dua sore. Untungnya Mat Gaper cerdas sehingga, di saat regu yang lain tersesat mencari jalan kembali ke perkemahan, Mat Gaper dan teman-temannya dengan sigap dapat membaca peta dan menemukan jalan pulang dengan cepat. Padahal regunya diberangkatkan terakhir dalam kegiatan wide game karena terlambat berkumpul.
Sore itu, suasana perkemahan sudah ramai oleh peserta perkemahan yang tengah bermain memanfaatkan waktu istirahat. Beberapa anak masih asyik dengan kegiatannya duduk-duduk di dalam tenda sambil bernyanyi gembira. Ada juga yang lebihsenangtiduran di dalam tenda seperti anak-anak dari regu kancil. Tiba-tiba Arman, terbangun kaget.
“Ada apa man?” tanya Mat Gaper
“ Saya lupa, tadi kak Ahmad menginstruksikan bahwa nanti malam ada pesta cahaya. Jadi tenda kita harus dihias dengan lampu” jelas Arman tersengal.
“ Lalu....?” tukas Badrun
“ Lah apa kita sudah bawa lampunya?” jawab Arman balik bertanya.
“Dudi, Santo, Ali kamu bawa lampunya tidak?” tanya Mat Gaper sang ketua regu. Semua menggeleng merasa bersalah.
“Aduh bagaimana sih, kan kamu kemarin disuruh bawa lampu flip flop,” suara Arman meninggi.
“Aku kemarin kan sudah bilang kalau nggak punya lampu flip flop. Kamunya ngotot agar aku bawa lampu itu. Lalu aku mau bawa lampunya siapa? Jadi bukan salahku dong.” Bela Dudi.
“Sudah-sudah, gak usah bertengkar. Tenang saja lagi,” Lerai mat Gaper. “yang dibutuhkan berpikir, bukan adu mulut seperti itu.”
“Tenang bagaimana? Nanti regu kita dihukum lagi. Kamu mau?” Kata Arman sengit.
“ Lampunya tidak harus lampu listrik kan?” Tanya Mat Gaper pada Arman. Arman yang ditanya Cuma mengangguk. “Kalau begitu, kita buat pesta lampu pakai lilin saja. Kita gunakan barang-barang yang tidak dipakai sebagai tempatnya. Kemudian kita hias di sekeliling tenda dengan lampu lilin ini. Pasti beda dan lebih bagus,” Jelas Mat Gaper panjang lebar. “bagaimana teman-teman, setuju?”
“Setuju.....” Jawab mereka serentak.
“Nah, kalau setuju kita cari bahan-bahannya. Dudi, Santo, dan Ali kamu cari botol plastik atau kaleng bekas. Arman dan Lubab kamu bertugas membeli lilin tiga pak dan juga cat kaleng kecil dengan kuasnya. Oh ya jangan lupa lem bakar untuk menyambung botol. Badrun dan Hilman bertugas mencari batu kerikil. Yang lainnya bantu saya di tenda menyiapkan lokasi penempatan lampu.
“Siap Bos” jawab mereka serentak.
“ Laksanakan” Jawab Mat Gaper seperti komandan.
beberapa saat kemudian, mereka sudah berkumpul di tenda dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan untuk membuat tempat lilin. Ada botol plastik beraneka warna, batu kerikil, dan cat minyak ukuran kecil.
“Ok, teman-teman, sekarang kita siap menyulap botol-botol bekas ini. Ikuti langkah berikut ya!” Mat Gaper menginstruksikan teman-temannya segera membuat tempat lilin.
Alat dan Bahan
1. Botol Bekas
2. Pisau atau cutter
3. lem tembak/lem bakar
4. amplas
Cara Membuat
1. Potong botol dengan posisi di bawah sedikit di bawah leher botol.
2. Rapikan potongan botol tersebut dengan amplas agar tidak terlalu tajam.
3. Ambil dua bagian kepala botol yang telah dipotong.
4. satukan kedua kepala botol tersebut secara berlawanan dengan menggunakan lem tembak.
5. Botol siap dipakai sebagai tempat lilin cantik. Lengkapi dengan kirikil warna atau pasir putih agar bisa tegak.
“ Hore.....” teriak lubab, “tempat lilinku sudah jadi”
“He Lubab, kita tidak cuma membuat satu tapi banyak,” jelas Arman
“iya, jadi jangan senang dulu. Masih banyak pekerjaan,” timpal Dudi ikut memojokkan Lubab.
“Ok, ok. Saya tahu kok,” bela Lubab sambil nyengir kuda.
“Bagian bawah botol ini buat apa Mat?” tanya Ali.
“Untuk bagian badan botol kita juga dapat memanfaatkannya untuk tempat lilin dengan bentuk yang berbeda. Dengan sedikit langkah kerja yang berbeda, kita dapat menghasilkan tempat lilin dengan bentuk yang lain pula.” Jelas Mat Gaper panjang lebar.
“Caranya?” tanya Ali masih dengan nada penasaran.
“Caranya, ikuti langkah berikut ini yah!”
Alat dan Bahan
1. Botol Bekas
2. Pisau atau cutter
3. lem tembak
4. amplas
Cara Membuat
1. Potong botol menjadi dua dengan posisi dari bagian bawah botol sekitar 10 cm.
2. Rapikan potongan botol tersebut dengan amplas agar tidak terlalu tajam.
3. cat bagian dalam botol jika menginginkan botol memiliki warna denga cara menuangkan cat kemudian putar-putar botol sampai cat merata.
4. Jika cat sudah merata tempatkan dengan posisi terbalik dan biarkan sampai kering.
5. Botol siap dipakai sebagai tempat lilin cantik.
6. Agar dapat berdiri stabil botol diisi dengan pasir berwarna atau batu kerikil berwarna
Anak-anak asyik dengan kegiatan membuat aneka macam tempat lilin dari botol plastik bekas. Dari kegiatan mereka terkumpul puluhan tempat lilin yang unik dan menarik. Kini saatnya mereka menempatkan tempat-tempat lilin untuk persiapan pesta cahaya nanti malam.
Untuk kaleng bekas, anak-anak membuat tempat lilinnya dengan melubangi bagian samping kaleng dengan berbagai pola. Kaleng kemudian dicat warna-warni. Jadilah lampion yang berpendar indah saat lilin dinyalakan. Pendar cahaya akan keluar dari dalam kaleng melalui celah-celah lubang yang telah kita buat.
Malam telah tiba. Satu persatu tenda sudah mulai menyalakan lampu hias mereka. Sebagian besar mereka menggunakan lampu flip-flop aneka warna. Tampak meriah sekali. Pesta cahaya sudah tampak menebarkan pesonanya. Di salah satu tenda tampak pendar cahaya lilin dengan wadah unik membentuk satu formasi yang indah. Ada yang diletakkan di atas tanah mengapit kanan kiri jalan dari gerbang tenda menuju pintu masuk. Ada pula pemasangan yang dikumpulkan beberapa tempat lilin dalam satu formasi naik turun.
Saat kakak pembina berkeliling, mereka terpesona dengan aneka lilin yang terpasang dalam tempat lilin aneka bentuk dan warna. Rasa syahdu dan damai jelas terasa di situ di antara nyala lilin yang bergerak-gerak tertiup angin malam yang menyapa.
Senin, 28 Agustus 2017
ULASAN LAGU "KHUSNUL KHOTIMAH" KARYA OPICK DENGAN ARENSEMEN "ETA TERANGKANLAH"
KHUSNUL KHOTIMAH
Terangkanlah, terangkanlah
jiwa yang berkabut langkah penuh dosa
bila masa telah tiada
kereta kencana datang tiba-tiba
air mata dalam duka
tak merubah ceritanya
hanya hening dan berjuta tanya
dalam resah dalam pasrah
terangkanlah, terangkanlah
hati yang mengeluh saat hilang arah
detik waktu yang memburu
detak yang tak pernah kembali padamu
terangilah, terangilah
bimbing kami dalam langkah
ampunilah, maafkanlah
dosa hidup sebelum di akhir masa
ya Alloh biha ya Alloh biha
ya Alloh bi khusnil khotimah
Ya Alloh biha ya Alloh biha
ya Alloh bi khusnil khotimah
Jika kita pahami dan hayati isi lagu tersebut, rasanya ada sesuatu yang menyesakkan dada dalam menghadapi hidup ini karena hidup ini pada hakikatnya menuju kematian. Waktu yang telah diberikan Alloh Robbil izzati akan berkurang detik demi detik tanpa kita sadari. Maka sudah selayaknya kita untuk bermohon pada Sang Maha Kuasa untuk selalu menuntut kita dalam menjalani hidup ini sehingga diharapkan akhir hayat kita khusnul Khotimah atau akhir yang baik.
Kematian merupakan sebuah keniscayaan. Kita tak perlu takut mati karena setakut apapun kita terhadap kematian, di akan datang juga di mana saja, dalam waktu dan tempat yang telah dinashkan Alloh. Tapi bukan berarti kita menantang mati, dengan melakukan tindakan yang sok hebat atau melecehkan sesuatu ajaran dan kebenaran Illahiyah.
kembali pada fenomena lagu Khusnul Khotimah yang dimodifikasi oleh para remaja kita, apakah pantas lagu bertema menjelang kematian dinyatnyikan di pinggir jalan atau bahkan di zebra cross saat lampu lalu lintas menyala merah. Apalagi menyanyikannya dengan cara joget-joget yang terkesan melecehkan hakikat isi dari lagu tersebut. rasanya kontradiktif, harapan khusnul khotimah yang terungkap dalam doa khusyuk kita dinyanyikan dengan cara seolah menantang kematian itu sendiri.
yang lebih memrihatinkan adalah, fenomena tersebut menjadi viral dan diikuti oleh remaja lain.
Astaghfirullohal adzim.
ini video yang saya unduh dari youtube secara acak
silahkan diresapi sendiri





