Senin, 15 Oktober 2012

POCI TEGAL SEBAGAI SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN

Pernah dengar Poci Tegal? Yap Poci Tegal adalah alat rumah ytangga yang paling familiar bagi masyarakat Tegal. Fungsi utamanya adalah untuk meramu teh hangat, tapi ada fungsi lain yang ternyata lebih penting daripada hanya sekadar minum teh bersama. Poci Tegal sebagai sarana bersosialisasi masyarakat Tegal dengan teman atau koleganya. Poci Tegal juga sebagai alat untuk mengurangi perbedaan derajat antara si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, si pangkat tinggi dan si pangkat rendah. Dengan kegiatan Moci menggunakan poci Tegal, semua bersatu dalam kesetaraan derajat, duduk sama rendah di pinggiran jalan atau teras rumah dalam suasana santai.

Dalam kaitannya dengan model pembelajaran, filsafat dari fungsi penunjang poci tegal diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Di samping itu, kegiatan dirancang dengan mengaplikasikan susunan huruf pembentu kata Poci Tegal. Guru yang baik adalah guru yang kreatif dalam merencanakan pembelajaran , menyenangkan dalam pelaksanaan pembelajaran, dan mampu membawa siswa menguasai kompetensi yang diajarkan. Dengan pembelajaran yang menyenangkan, siswa akan lebih mudah mengusai suatu kompetensi tanpa merasa tertekan. Untuk dapat membuat pembelajaran yang menyenangkan, diperlukan suatu perencanaan yang matang dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai.

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Deni Koswara yang mengatakan bahwa untuk menyampaikan suatu pengetahuan, harus menggunakan pendekatan Multi-sensori dan multi model . (Deni Koswara, Bagaimana Menjadi Guru Kreatif, hlm.75). pendapat Deni ini didasarkan pada perbedaan kebutuhan dan tipe belajar siswa yang bermacam-macam. Seperti dikatakan oleh Collin Rose dan Malcolm J.Nicholl yang mengatakan bahwa ada tiga tipe belajar seseorang yaitu tipe visual, auditori, dan kinestetik (Collin Rose dan Malcolm J.Nicholl via Deni Koswara, hlm.76)

 Berdasarkan hal-hal di atas, muncullah ide pembelajaran dengan “Poci Tegal”. Penamaan model pembelajaran ini diambil dari singkatan nama tahapan kegiatan yang dilakukan. Tahapan tersebut adalah

1. P : Perencanaan
2. O : Observasi kepustakaan
3. C : Ciptakan kutipan dari data kepustakaan
4. I : Identifikasi fokus isi kutipan
5. Te : Terapkanl kutipan dalam pembahasan
6. Ga : Gabungkan beberapa kutipan bertopik sama
7. L : Lengkapi dengan suatu simpulan

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap kegiatan Poci Tegal.
P= Perencanaan Dalam kegiatan perencanaan dilakukan kegiatan-kegaiatan sebagai berikut: 1. Penentuan tema yang akan dijadikan sebagai dasar penulisan karya ilmiah. 2. Diskusi pendataan awal sebagai dasar pembuatan bagian latar belakang, permasalahan, dan tujuan penulisan karya ilmiah. Kelompok didasarkan pada kesamaan tema yang dipilih.  

O =Observasi Kepustakaan Dalam kegiatan observasi kepustakaan, dilakukan kegiatan-kegiatan pencarian bahan pustaka yang relevan baik berupa buku atau artikel . bahan pustaka yang dicari disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan yang dibahas dalam karya tulis yang dibuat. Sumber kepustakaan dapat berupa bahan cetakan seperti buku, majalah, dan surat kabar maupun informasi elektronik seperti artikel di internet. C =Ciptakan Kutipan Dalam kegiatan menciptakan kutipan, terlebih dahulu dijelaskan tentang macam-macam kutipan dan cara mengutipnya. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah Pembuatan kutipan dalam bentuk kartu kutipan sesuai dengan permasalahan yang diangkat. Kegiatan ini dilakukan oleh masing-masing anggota kelompok dengan sumber kutiopan yang berbeda. Setiap anggota minimal membuat satu kutipan untuk satu permasalahan yang diangkat dalam karya tulis.  

I =Identifikasi Fokus Yang dimaksud identifikasi fokus isi informasi adalah memberikan penanda fokus isi informasi yang dikutip. Identifikasi ini diperlukan sebagai dasar pembuatan ulasan atau analisis kutipan saat diterapkan dalam pembahasan.  

Te = Terapkan Kutipan Setelah beberapa kutipan ditulis, masing-masing anggota kelompok mengumpulkan menjadi satu hasil kutipan yang dilakukan masing-masing anngota. Setelah kartu kutipan diklasifikasikan sesuai dengan kesamaan subjek informasi, setiap anggota kelompok menerapkan kutipan untuk membahas permasalahan sesuai dengan susunan yang dikehendaki masing-masing individu. Setiap satu kutipan ditulis, dilanjutkan dengan analisis atau ulasan isi kutipan dengan didasarkan pada hasil identifikasi fokus isi kutipan.  

Ga = Gabung beberapa Kutiapan. Langkah ini pada hakikatnya pengulangan dari langh penerapan kutipan. Penggabungan ini dilakukan sampai keseluruhan kartu kutipan hasil observasi pustaka diterapkan dalam pembahasan.  

L =Lengkapi dengan Simpulan Setelah penggubungan kutipan selesai dilaksanakan, pembahasan setiap satu permasalahan harus dilengkapi dengan satu simpulan. Simpulan diambil atas dasar isi dari beberap kutipan yang digunakan dalam pembahasan.

nah, semoga bermanfaat.
READ MORE - POCI TEGAL SEBAGAI SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN

Senin, 08 Oktober 2012

KESALAHAN PERSEPSI DALAM IDUL KURBAN

Oleh : Farichin

 Sekarang kita sudah memasuki bulan Dzulqoidah pada kalender Islam. Artinya, sebentar lagi kita memasuki bulan Dzulhijah. Pada bulan tersebut tepatnya tanggal 10 Dzulhijah kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha atau lebih dikenal dengan Idul kurban. Gema takbir, Takhmid, dan Takbir akan menggema menyambut Idul kurban tersebut. Namun, di masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan masih muncul kesalahan persepsi terkait dengan peaksanaan kurban pada saat Idul kurban. Nah, mungkin ini adalah beberapa kesalahan persepsi yang terjadi di masyarakat (Paling tidak di desa tempat tinggal saya)

1. Hewan sembelihan kurban tidak boleh dimakan oleh yang kurban. Kalau orang yang berkurban menginginkannya, maka dia harus bertukar dengan sembelihan yang lain. Ini adalah pendapat yang kurang tepat. Alloh telah memperbolehkan orang yang berkurban untuk menikmati daging hewan kurbannya asalkan tidak melebihi sepertiga dari daging tersebut. Coba bayangkan seandainya orang harus bertukar daging kurban untuk bisa menikmatinya, betapa repotnya petugas pembagi daging kurban tersebut.

 2. Kurban dan akikah itu sama. Loh kok sama. Kurban ya kuraban dan biasanya diselenggarakan berkenaan dengan peringatan Idul Adha. Sementara akikah itu penyembelihan kambing yang terkait dengan kelahiran seorang bayi. Kurban diberikan dalam keadaan mentah sementara jumhur ulama mengatakan akikah diberikan dalam kondisi matang siap santap.

3. Kurban hanya berlaku satu kali untuk setiap orang selama hidup. Ini yang kacau. Kurban bagi orang-orang yang mampu diharapkan setiap tahun. Bukankah kurban itu sebagai tanda ketundukan manusia terhadap perintah Alloh Robbul Izzati? Kita tunduk kepada perintah Alloh selama ruh masih bersatu dengan raga.

 4. Hewan kurban untuk kendaraan kita saat melewati Shirothol Mustaqim. Wallahu 'alam. Yang terpenting kita kuraban hanya untuk mengharap ridlo dari Alloh SWT. Apakah nanti kita akan menaiki hewan kurban kita atau tidak itu hak prerogratif Alloh. yang jelas Alloh tidak akan menerima kurban orang-orang yang pamrih dan melalaikan sholat.Lihatlah kisah Habil dan Kobil. Coba bayangkan sahabat nabi kalau berkurban tidak tanggung-tanggung. Ada yang sekali kurban mencapai puluhan ekor dan itu dilakukannya setriap tahun. Apa tidak bingung tuh mau naik yang mana. Malah bisa-bisa jadi pengembala (he....he..... maaf guyon)

5. Hewan kurban wajib dimandikan dan dikalungi bunga sebelum disembelih. Barangkali begini, wajib sih tidak tapi kalau dimandikan terlebih dahulu, akan membantu tukang potong hewan kurban agar tidak terlalu sering mencium aroma kurang sedap dari hewan kurban. Kalau diberi kalung bunga? ah, itu kantradisi saja yang tidak benar. Mungkin hampir sama tujuannya yaitu agar hewan kurban berbau lebih enak setelah dimandikan dan diberi bunga. Nah, itu saja barangkali benar.

Semoga bermanfaat.
READ MORE - KESALAHAN PERSEPSI DALAM IDUL KURBAN

Kamis, 04 Oktober 2012

KARYA TULIS ILMIAH

oleh : Farichin

Karya tulis Ilmiah merupakan suatu tulisan berupa hasil penelitian lapangan yang dilakukan dengan melalui pengamatan, pemecahan masalah. (Atikah DKK, hlm.171) pendapat Atikah ini menekankan bahwa karya tulis ilmiah ini merupakan bentuk laporan penelitian. Senada dentikah, Nana Sudjana mengatakan bahwa karya ilmiah adalah karangan atau tulisan yang dibuat dengan dasar suatu pengetahuan, sikap, dan cara berpikir ilmiah (Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, 2009, hlm.4) dari pendapat ini diketahui suatu karya tertulis dikategorikan karya ilmiah apabila mengacu pada aturan dan pola pikir ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lain lagi dengan Asep Yuda yang mengatakan bahwa karya tulis ilmiah merupakan suatu karangan yang didasarkan pada kajian ilmiah sebagai hasil dari penelitian lapangan, percobaan laboratorium, ataupun hasil penelaahan suatu buku atau pustaka. (Asep Yuda, hlm.132) Pendapat Asep Yuda ini lebih menekankan pada proses berpikir ilmiahnya suatu tulisan disebut sebagai karya tulis ilmiah ataupun bukan. Lebih lanjut Asep Yuda mengatakan bahwa sebuah karya tulis ilmiah harus didasarkan pada fakta atau data yang disajikan secara objektif dengan bahasa yang lugas dan jelas. (Asep Yuda, hlm.132)

 Pendapat di atas dipertegas oleh Sarwiji Swandi yang mengatakan bahwa karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan hasil berpikir ilmiah yang dilakukan dengan langkah-langkah tertentu dalam bentuk makalah, artikel, laporan penelitian,buku, modul, buku pelajaran,. (Sarwiji, hlm.203) Pendapat Sarwiji ini lebih luas dengan memasukkan buku, artikel, modul, dan buku pelajaran sebagai bagian dari karya tulis ilmiah. Intinya suatu karya tulis dikategorikan karya tulis ilmiah atau bukan didasarkan pada proses berpikir ilmiahnya.

Dalam pembagian tentang kaya ilmiah, Nana Sudjana mengatakan bahwa yang termasuk bagian karya ilmiah adalah makalah ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi. (Nana Sudjana, 2009, hlm.5) Pendapat ini lebih berorientasi pada bidang akademik yang terkait dengan tugas kemahasiswaan.

 Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karya tulis ilmiah adalah suatu karangan yang didasarkan pada proses berpikir ilmiah dengqan mengikuti pola penulisan yang sistematis. Yang termasuk dalam karya tulis ilmiah adalah laporan penlitian, makalah, laporan hasil pengamatan.

Lalu bagaimana dengan sistematika penilisan suatu karya tulis ilmiah? Secara singkat, Asep Yuda, menjelaskan bahwa secara garis besar sistematika karya tulis tersusun atas pendahuluan, permasalahan, pembahasan, penutup yang terdiri dari simpulan dan saran, serta daftar pustaka yang berisi informasi sumber bacaan. (Asep Yuda hlm. 133) Lebih lanjut, Sarwiji mengatakan bahwa sistematika karya tulis ilmiah didasarkan pada urutan (1)Pendahuluan berisi latar belakang, tujuan penulisan, pembatasan masalah, dan perumusan masalah.(2) Isi, pada bagian isi dikupas secara rinci pokok permasalahan yang telah dirumuskan pada bagian pendahuluan. (3) Penutup, biasanya berisi simpulan dan saran. (Sarwiji. Hlm.204) Pendapat Sarwiji ini sejalan dengan pendapat Atikah yang memerinci sistematika karya tulis ilmiah dengan tiga bagian yaitu (1)Pendahuluan, yang terdiri dari bagian latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan, dan sistematika penulisan; (2). Isi yang memuat segala penjelasan mengenai tiap segi secara rinci; dan (3). Penutup terdiri dari simpulan dan saran. (Atikah DKK,.hlm.172)
READ MORE - KARYA TULIS ILMIAH

Senin, 01 Oktober 2012

PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Oleh : Tatang Sunendar, M.Si
Widyaiswara LPMP Jawa Barat (karya ini telah diedit demi ke uptodate an posting)

Pengembangan profesi seperti yang dimaksud dalam petunjuk teknis jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, “adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan” . Unsur pengembangan profesi sifatnya wajib bagi guru , hal ini dikarenakan pangkat jabatan guru diharapkan tumbuh daya analisis, kritis serta mampu memecahkan masalah dalam lingkup tugasnya .

 Kegiatan guru yang termasuk pengembangan profesi Beberapa kegiatan guru yang termasuk pengembangan profesi adalah sebagai berikut :
a. melaksanakan kegiatan KTI di bidang pendidikan
b. menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan
c. membuat alat peraga atau alat bimbingan
d. menciptakan karya seni seperti lagu, lukisan
e. mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum  

Tata cara pengajuan angka kredit (pengembangan profesi)
Dalam mengajukan angka kredit dalam pengembangan profesi dapat dilakukan prosedur sebagai berikut :
 1. adanya peran critical friend, kritik dan saran dari teman sejawat yang satu profesi agar mendapat masukan mengenai penulisan KTI.
2. mintakan saran pada guru bahasa Indonesia untuk mengetahui pengunaan bahasa maupun sistimatika penulisan KTI yang benar
3. sertakan surat pengesahan dari Kepala Sekolah serta petugas perpustakaan jika penulisan sudah selesai
4. sertakan surat pengantar Kepala Sekolah dan dikirim ke Tim penilai Angka Kredit pengembangan profesi tingkat pusat yang sekretariatnya di LPMP.
5. untuk lebih lengkap, sertakan pula pengesahan dari Kepala Dinas pendidikan Tingkat Kab/kota  

Tata cara penilaian pengembangan profesi
Hasil karya berupa karya tulis yang berupa hasil penelitian, tinjauan ilmiah, pembuatan alat peraga, teknologi, karya seni penilaianya dalam bentuk paparan /deskripsi sesuai kaidah penulisan karya ilmiah dengan langkah penilaian sebagai berikut :
1. Penilaian tidak mengenal nilai jenjang dalam setiap unsur dengan kata lain hanya mengenal diterima atau ditolak, contohnya setiap karya tulis mempunyai bobot nilai 4, maka penilaian jika diterima bernilai maksimal 4 jika ditolah mendapat nilai 0, tidak ada nilai 1 , 2 , 3. 2. Urutan penilaian di mulai dari judul, sistimatika penulisan, latar belakang penulisan kajian teori , cara pengolahan, kesimpulan rekomendasi, daftar pustaka, dengan menggunakan sistem gugur, jika seorang guru menulis karya ilmiah tetapi judulnya tidak menggambarkan latar belakang pendidikan serta kajiannya terlalu luas maka langsung digugurkan dengan nilai 0 tanpa dilihat unsur yang lainnya, begitu pula seterusnya.
Adapun yang termasuk karya tulis ilmiah terdiri dari : · KTI hasil penelitian, pengkajian, survei dan evaluasi · karya tulis/makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah gagasan sendiri · Tulisan ilmiah populer · prasaran berupa tinjauan wawasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan pada pertemuan ilmiah · buku pelajaran atau modul · diktat pelajaran · menerjermahkan karya ilmiah dari ketujuh kategori inilah guru bisa memilih sehingga tidak usah memaksakan diri membuat KTI yang tidak dikuasainya.  

Persyaratan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Karya tulis ilmiah yang ditulis guru hendaknya memenuhi syarat APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten ) artinya · Asli (original ) karya tulis yang dihasilkan harus merupakan produk asli guru dan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu dan tempat bekerja · Perlu/bermanfaat ( useful) karya tulis yang dihasilkan guru harus dirasakan manfaatnya secara langsung oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran · Ilmiah ( scientific) karya tullis yang dihasilkan harus disusun secara ilmiah, sistimatis, runtut dan memenuhi persyaratan penulisan karya ilmiah · Konsisten (concistency) KTI yang dihasilkan harus memperlihatkan keajegan dan konsistensi pemikiran yang utuh, baik secara keseluruhan maupun hubungan antar bab bagian karya tulis yang disajikan.  

Kriteria Pokok KTI
Ada beberapa kriteria yang dilihat dalam penulisan KTI, diantaranya terdapat: · “masalah “ pokok yang dijadikan dasar penulisan dan masalah tersebut sesuai atau menyangkut kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru sehari hari · kajian pustaka/teori yang mendukung pemecahan masalah · metodologi yang dilakukan secara runtut dalam upaya pemecahan masalah tersebut · data dan fakta yang mendukung pembahasan masalah tersebut · alternatif pemecahan masalah yang dikemukakan atau dibahas untuk solusi atas masalah yang dihadapi · kesimpulan maupun rekomendasi yang dikemukakan berdasarkan analisis data terhadap upaya pemecahan masalah tersebut.  

MENGAPA, KTI DITOLAK?
Ada beberapa alasan mengapa karya tulis ilmiah guru dalam unsur pengembangan profesi guru ditolak berdasarkan hasil pengalaman tim penilaian angka kredit tingkat pusat diperoleh alasan-alasan itu antara lain : Umum ·
 berupa skripsi/thesis/desertasi (sudah diniali dalam unsur pendidikan) · KTI diragukan keasliannya, bila salah satu bagian tulisan (atau hal lain) menunjukkan bahwa KTI itu merupakan skripsi, penelitian, atau karya orang lain, yang diubah dan digunakan sebagai karya ilmiahnya (seperti misalnya bentuk ketikan tidak sama, tempelan nama, dll)

Terdapat petunjuk adanya lokasi dan subjek yang tidak konsisten Terdapat tanggal pembuatan yang tidak sesuai Terdapat berbagai data yang tidak konsisten, tidak akurat Terdapat kesamaan isi, format, gaya penulisan yang sangat mencolok dengan KTI yang lain Penyusunan KTI yang berbentuk penelitian, pengembangan dan evaluasi diselesaikan/dihasilkan lebih dari 2 judul dalam setahun ·

KTI sudah kadaluarsa ( disusun sebelum PAK terakhir) · Pengesahan : tidak ada pengesahan kepalasekolah/kepala madrasah guru yang bersangkutan bahwa KTI tersebut adalah benar karya tenaga pendidik yang bersangkutan Pengesahan ada, tetapi bukan dari pejabat yang berwenang ·

KTI bukan dalam bidang pendidikan · penulisan makalah tidak jelas apakah laporan penelitian atau tulisan ilmiah yang merupakan tinjauan/ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri. · karya ilmiah yang disusun belum/tidak menggunakan format yang lazim dalam penulisan ilmiah · tulisan yang diajukan tidak memenuhi syarat sesuai dengan Kepmendikbud No025/0/1995

Penelitian · penyusunan karya ilmiah belum menggunakan proses berpikir keilmuan (ada masalah, kajian teori, metodologi, data, analisis, kesimpulan, saran dan rekomendasi.) · masalah : Yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan upaya pengembangan profesi penulis. Yang ditulis bukan kegiatan nyata penulis dalam peningkatan/pengembangan profesi · Kajian teori : Tidak relevan dengan judul/permasalahan yang dikaji

Terlalu luas, belum mengarah pada hal-hal yang dipermasalahkan Sangat sederhana, belum nampak wacana keilmuannya · Metode penelitian belum sesuai dengan dengan kaidah penulisan karya tulis ilmiah (tujuan khusus, tempat dan waktu, ruang lingkup penelitian, populasi, sampel penelitian, teknik sampling, metode pengumpulan dan pengolahan data dan analisis data) ·

Data yang disajikan kurang lengkap /tidak ada · instrumen tidak dilampirkan/tidak lengkap/tidak sesuai · Analisis data tidak sesuai dengan metode analisisi data yang dipilih dalam metode penelitian, atau permasalahan yang dirumuskan dalam latar belakang (pendahuluan) · Isi tulisan ilmiah pada bab selanjutnya tidak konsisten/tidak ada kesesuaian/tidak seimbang ·

Kesimpulan dan saran tidak sesuai dengan alur berfikir pada bab-bab sebelumnya · Rekomendasi belum menunjukan manfaat yang nyata bagi dunia pendidikan Tinjauan · Penyusunan karya ilmiah belum menggunakan proses berfikir keilmuan (ada masalah, kajian teori, fakta, ulasan/ tinjauan secara ilmiah yang merupakan gagasan penulis dan kesimpulan) ·

Masalah yang dikaji terlalui luas, tidak langsung berhubungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan profesi penulis ·

Kajian teori : tidak relevan dengan judul/permasalan yang dikaji terlalu luas, belum mengarah pada hal hal yang dipermasalahkan sangat sedehana, belum nampak wacana keilmiuannya. · kajian fakta tidak/belum relevan dengan permasalahan yang dikaji · isi pembahasan karya ilmiah belum memuat gagasan penulis · tulisan ilmiah tidak konsisten/tidak ada kesesuaian/tidak seimbang. · kesimpulan tidak sesuai dengan alur pikir bab sebelumnya. Diktat 1. tidak sesuai dengan tugasnya

2. sistimatika penulisan tidak sesuai dengan pedoman penulisan yang berlaku Buku 1. belum mendapat pengesahan dari Disrjen Dikdasmen (taraf nasional) 2. belum mendapat pengesahan dari kepala dinas pendidikan di provinsi (taraf provinsi) Alat Peraga Pada latar belakang belum dikemukakan permasalahan, manfaat alat peraga, langkah-langkah pembuatan, langkah-langkah penggunan dan kesimpulan serta lampiran yang relevan ( foto/gambar dari alat peraga) Karya terjemahan 1. substansi di luar bidang pendidikan /tidak bermanfaat dalam pembelajaran/tidak utuh 2. belum ada keterangan dari kepala sekolah yang menjelaskan manfaat karya terjemahan tersebut 3. belum ada keterangan dari kepala sekolah yang menjelaskan karya tersebut adalah terjemahan guru yang bersangkutan

PENUTUP
Pengembangan profesi bagi tenaga pendidik merupakan suatu kewajiban, apabila tenaga pendidik tersebut telah menduduki pangkat jabatan IVa, diperlukan suatu kegiatan yang dilakukan secara terarah dan terpadu dan hal yang paling penting adalah menjiwai profesi yang digeluti selama ini. Daftar Pustaka Suharjono, Pengembangan Profesi Guru, Panduan Tehnik Penilaian KTI Guru, Depdiknas Kepmen, Penilaian Jabatan Fungsional Guru, Jakarta Suharsimi Arikunto, PTK, Rineka Cipta Yogyakarta (2006)
READ MORE - PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Rabu, 26 September 2012

KERANGKA KARANGAN DALAM MENULIS

FARICHIN

Pernah menulis? Yap semua orang pernah menulis. Ada yang menulis buku harian, menulis surat, menulis catatan tertentu, atau menulis yang lainnya. He…he…. Itu memang kegiatan menulis tapi untuk postingan kali ini bukan menulis jenis itu yang ingin saya sampaikan. Lalu? Ya… menulis dalam arti khusus.

Menulis merupakan suatu kegiatan mencurahkan ide dan pikiran dalam bentuk tulisan secara sistematis. Nah, untuk itu agar tulisan kita bias sistematis, diperlukan satu alat yang disebut kerangka karangan. Kerangka karangan itu akan membantu kita dalam mencurahkan gagasan atau ide-ide agar tidak tumpang tindih dalam penyampaiannya.

Apa semua penulis harus membuat kerangka karangan? Bagi yang sudah terbisa menulis apalagi yang sudah bergelar penulis, tentunya kerangka karangan yang dibuat tidak perlu ditulis. Mereka cukup dengan membayangkan suatu konsep tertentu di kepala mereka. Namun bagi kita yang baru taraf belajar alangkah lebih bijaknya kalau kerangka tersebut ditulis karena kita sulit untuk meneyelesaikan tulisan dalam satu waktu.

Bagaimana sih ujud dari kerangka karangan? Ujudnya bisa apa saja tapi yang terpenting kita bisa terbantu dalam mengembangkan tulisan. Jangan sampai kita membuat kerangka karangan tapi kita sendiri malah bingung maksudnya. Oleh karena itu, buatlah sesederhana mungkin agar kita bias memahaminya. Apakah orang lain memahaminya tau tidak itu sudah lain soal.

Kalau saya membuat kerangka karangan, langkah yang saya lakukan adalah
1. Awali dari penentuan tema atau idea pa sih yang akan kita tulis. Setelah itu, baru kita bayangkan apa saja yang terkait dengan tema yang kita pilih. Biasanya saya akan membuat lingkaran tema. Tema yang saya pilih saya tulis di tengah-tengah kertas kemudian identifikasi ide-ide yang menunjang tema tersebut di sekeliling tema pilihan. Tulis saja apa yang muncul di kepala tanpa harus dicegah.

2. Pilih ide-ide pendamping yang dianggap penting, setengah penting, dan tidak penting. Yang dianggap tidak penting buang saja. Yang dianggap setengah penting mungkin bias kita gabungkan dengan ide-ide penting yang sejenis.

3. Ide-ide yang telah terkumpul dan penting tersebut, kita atur urutan penulisannya. Kalau tulisan tersebut terdiri dari beberapa bab, kita atur yang di bab satu isinya apa saja. Demikian pula bab selanjutnya.

4. Perhatian draf kerangka tersebut, apakah sudah cukup baik. Kalau belum kita perbaiki dengan cara mengubah atau menambah bagian yang dirasa perlu.

5. Perbaiki kerangka agar siap untuk dikembangkan. Jangan lupa kalau kerangka karangan telah selesai, kita berburu referensi. Ingat, kita bias menulis karena kita membaca. Jangan sampai tulisan kita dangkal karena kita malas untuk nambah informasi.

terima kasih semoga bermanfaat
READ MORE - KERANGKA KARANGAN DALAM MENULIS

Sabtu, 22 September 2012

MENYUNTING : KOHESI DAN KOHERENSI

Oleh : Farichin Assalamua 'alaikum wr.wb. Sudah hampir satu bulan saya tidak posting. Rasanya kangen banget. Nah, sekarang saya coba membuat tulisan sederhana tentang menyunting. Untuk bagian ini materi menyunting yang akan ditampilkan adalah terkait dengan Kohesi dan koherensi. Materi menyunting ini memang sangat sederhana, tapi mudah-mudahan da[pat bermanfaat untuk memahami materi menyunting yang ada di kelas IX. Kohesi adalah keterikatan antarunsur dalam struktur bahasa. Kohesi ini menjadikan sebuah paragraf menyatu antarkalimat pembentuknya. Kohesi dapat dibentuk dengan penggunaan konjungsi atau kata hubung, pengulangan kata atau frasa, penyulihan atau penggantian kata atau frasa, dan pelesapan. Untuk lebih jelasnya penggunaan kohesi-kohesi tersebut, berikut ini contoh penggunaan penanda-penanda kohesi. 1) Kohesi yang ditandai dengan penggunaan kata hubung atau konjungsi antarkalimat. Sebagai contoh, perhatikan paragraf berikut ini Marni, si Ronggeng kampung masih asyik dengan goyangnya yang membuat decak kagum para lelaki. Akan tetapi, tepat di bawah pohon jambu air tak jauh dari tempat itu, Susi bersungut-sungut melihat suaminya ikut bergoyang mengikuti goyangan Marni. Paragraf di atas penggunaan kohesi ditandai dengan penggunaan konjungsi akan tetapi. Dengan adanya penanda itu, kalimat pertama dan kedua meskipun bercerita dua hal yang berbeda tampak adanya kelogisan dan kesatuan. Beberapa konjungsi antarkalimat yang ada dalam bahasa Indonesia adalah akan tetapi, oleh sebab itu, namun, dengan demikian, walaupun begitu, dan oleh karena itu. 2) kohesi yang ditandai dengan pengulangan kata atau frase. Di samping penggunaan konjungsi antarkalimat, kita juga dapat menggunakan bentuk pengulangan kata yang ada pada kalimat sebelumnya. Yang perlu diperhatikan, yang dimaksud pengulangan kata bukanlah kata ulang. Pengulangan kata adalah penggunaan kembali kata atau frase yang ada pada kalimat sebelumnya untuk kalimat selanjutnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini Tubuh jangkung Flora terlihat berayun seirama dengan langkah kakinya. Langkah kaki ketergesaan mengejar Gagas yang tengah asyik berjalan dengan Randi di depan pintu gerbang sekolah. Pada paragraf di atas tampak penggunaan pengulangan kata. kata langkah kaki yang telah digunakan pada kalimat pertama digunakan kembali sebagai awal kata pada kalimat kedua. 3) Kohesi yang ditandai dengan penyulihan atau penggantian kata atau frase yang memiliki makna sama. Perhatikan contoh berikut ini Jamal tak kuasa menahan kantuk yang begitu dahsyat menyerang matanya. Berbagai cara usaha untuk memelototkan matanya sebisa yang dia bisa. Namun, kelopak matanya tanpa dikomando menutup dengan sendirinya. Sementrara di depan bu Kania sedang asyik menerangkan tentang puisi. Guru bahasa Indonesia yang cantik itu belum melihat kondisi Jamal. Jamal masih terus berjuang untuk tetap terjaga selama pelajaran berlangsung. Dia tidak mau kredibiltasnya menurun sebagai ketua OSIS di mata guru yang begitu memikat hati anak-anak di sekolahnya itu. Pada paragraf di atas terdapat contoh penyulihan kata. Kata Jamal pada kalimat pertama diganti dengan kata dia. Kata bu Kania pada kalimat keempat diganti dengan klausa Guru bahasa Indonesia yang cantik itu. Penyulihan sebuah kata dapat diganti dengan kata lain yang semakna, kata ganti, atau klausa yang memiliki maksud sama dengan kata yang disulih. 1. Pelesapan atau penghilangan kata atau frase yang digunakan demi keefektifan kalimat. Sebagai contoh kalimat /dia masih tetap belajar meskipun sudah mengantuk/ kalimat tersebut pada hakikatnya terdiri dari dua klausa yaitu /dia masih belajar/ dan /dia sudah mengantuk/. Kedua klausa ini memiliki kesamaan kata /dia/ oleh kerana itu, kata dia harus dihilangkan. Koherensi atau keterpaduan paragraf yaitu tersusunnya hubungan logis antara bagian karangan atau antarkalimat dalam sebuah paragraf. Apabila paragraf-paragraf telah menyatu padu maka disebut sebagai karangan yang koherens. Keterpaduan paragraf dapat dilihat dari kesatuan kalimat dengan kalimat pada paragraf dengan digunakannya kohesi-kohesi. Oke cukup sekian dulu semoga bermanfaat.
READ MORE - MENYUNTING : KOHESI DAN KOHERENSI

Minggu, 02 September 2012

TERSELAMATKAN DARI KERETA API KARENA SEDEKAH



Alhamdulillahi Robbil ‘alamin.
Memang Alloh Robbul Jalal tidak pernah berbohong dengan apa yang telah dijanjikannya. Sedekah yang pernah diberikan pada seseorang terbukti telah menyelamtkan Aku dalam kemungkinan tertabrak kereta api. Kisah ini merupakan kisah nyata yang saya alami sendiri. Alhamdulillah Alloh masih memberikan saya kesempatan hidup. Semoga kesempatan ini dapat saya gunakan dengan bijak untuk mendapatkan ridlo Alloh SWT.

Cerita berawal dari pagi. Saat itu hari Sabtu tapi saya lupa tanggalnya.  Pagi begitu cerah, dengan sinar mentari yang hangat. Embun pagi masih setia bergelayut di dedaunan di depan rumah. Saya telah siap untuk melaksanakan kewajibanku sebagai guru di salah satu SMP negeri di Kabupaten Tegal.  Sepeda motor telah aku bersihkan dan dipanaskan. Jaket dan helm telah aku siapkan. Menjelang berangkat, istriku cerita kalau salah satu tetangga kami mendapatkan musibah, smentara mau berobat tidak punya uang. Saat itu pula jatuh rasa iba dan kasihan dalam diri saya. Tanpa pikir panjang aku keluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah kemudian menyuruh istri saya memberikan pada dia. Saya pikir uang itu cukup untuk berobat di dokter umum yang berada di kota kecamatan atau pada mantri yang ada di desa kami.

Saya berangkat ke sekolah dengan sepeda motor. Waktu itu saya juga sekalian pamit pada karena selepas pulang sekolah akan menghadiri syukuran khitanan anak teman saya yang berada di daerah pagonga, Tegal.  Jarak tempuh hanya sekitar  lima menit karena sekolah dengan rumah sangat dekat.
Tanpa terasa waktu pulang sekolah hampir tiba. Jam dinding menunjukkan pukul 11.15.  Kebutulan sekali dua jam terakhir saya tidak ada jadwal mengajar. Karena jarak yang cukup jauh antara Bojong dengan Pagongan, saat itu saya memberanikan diri untuk izin pada kepala sekolah untuk pulang lebih awal. Alhamdulillah, kepala sekolah mengizinkan.

Segera saya kenakan jaket dan helm kemudian motor segera dikeluarkan dari tempat parkir. Motor segera kustater dan segera melaju dengan diawali basmalah. Tanpa terasa satu jam telah kulalui dalam deru kendaraan yang meramakan lalu lintas. Sampailah motor saya di pertigaan Kodim di daerah Pagongan.  Saya segera membelokkan motor ke arah barat samapailah pada rel kereta api. Dari situ saya harus berbelok ke arah utara sekitar dua meter kemudian harus menyeberangi rel kereta untuk sampai ke rumah teman saya. 

Karena jalan becek,  yang tergenang air, saya memilih jalan yang dekat rel kereta api karena daerah itu agak tinggi. Sesaat sebelum belokan untuk menyeberangi rel kereta api, terjadi suatu keajaiban.  Tanpa bisa dikontrol sepeda motor saya berbelok ke arah menjauhi rel kereta api. Selang beberapa detik melajulah kereta api dengan kecepatan yang cukup tinggi. Subhanallah, astaghfirullah, Allohu akbar. Sungguh jantung terasa berhenti berdetak. Bagaimana tidak, kereta sedekat itu, dari arah di hadapan saya, saya tidak mendengar suara apapun dan juga tidak melihat kereta sebesar itu.  Selisih sekian detik kalau motor saya jadi menyebarangi rel kereta api, tamatlah riwayat saya. Rasa syukur di antara rasa lemas dan deg-degan  menyelimuti seluruh perasaan. Ya Rob, terima kasih telah engkau berikan saya kesempatan untuk menikmati seluruh karunia-Mu.
READ MORE - TERSELAMATKAN DARI KERETA API KARENA SEDEKAH