Jumat, 15 April 2011

TANYA JAWAB SEPUTAR PEDAGOGIK TRANSFORMATIF

1. Uraikan bagaimana konsep pedagogik transformatif (PT). Hal-hal apa saja yang mendasari PT? Apa pendapat Anda tentang PT dan pelaksanaannya di sekolah? Apa tantangan dan kekuatannya?

Jawaban:
a. Konsep Pedagogik Transformatif
Konsep paedagogik transformatif dapat dilihat secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis, pedagogik transformatif (selanjutnya: PT) berasal dari dua kata, yaitu pedagogic dan transformative. Kata Pedagogic berasal dari bahasa Yunani, paid yang berarti ‘anak’ dan agogos, yang berarti ‘membimbing anak’. Jadi pedagogik artinya ‘ilmu atau seni membimbing anak’. Kata transformative berasal dari bahasa Inggris dan diindonesiakan menjadi transformatif, yang artinya ‘lintas bentuk’ atau ‘selalu berubah bentuk (ke arah yang lebih baik)’ . Dengan demikian, PT diartikan sebagai ‘seni atau ilmu membimbing (mendidik) anak yang senantiasa berubah-ubah bentuk atau model ke arah yang lebih baik’. Secara terminologis atau peristilahan, pedagogik transformatif merupakan suatu proses pendidikan yang mentransformasikan kehidupan manusia (peserta didik) ke arah yang lebih baik atau lebih maju dari keadaan sebelumnya.
PT disebut pula pedagogik kritis karena lahir dari pandangan kaum postmodernisme dan pedagogik libertarian. Menurut PT sebuah kebenaran bersifat terbuka. Oleh karena itu, baik pendidik maupun peserta didik merupakan entitas yang dinamis. Masing-masing bukan menjadi subordinasi bagi yang lain. PT mengakui adanya keberagaman latarbelakang peserta didik, baik bakat, minat maupun tingkat kecerdasannya. Itulah sebabnya, setiap peserta didik harus diperlakukan sebagaimana mestinya, yaitu “dimanusiakan”. Karena pendidikan menurut PT adalah usaha “memanusiakan" manusia.

b. Hal-hal yang Mendasari Lahirnya Pedagogik Transformatif
Lahirnya PT sebenarnya diawali dari adanya sebuah tuntutan dari berbagai kalangan terhadap pelaksanaan pendidikan yang selama ini dinilai ‘kurang berhasil’. Pelaksanaan pendidikan selama ini dipandang lebih menekankan pada aspek kognitif daripada aspek-aspek kemanusiaan yang lain, yaitu afektif dan psikomotorik, para peserta didiknya. Pendidikan yang seperti itu pada akhirnya hanya mempu menghasilkan orang-orang yang pintar alias jenius, tetapi tidak diimbangi oleh karakter dan moral yang baik. Di samping itu, implementasi pendidikan juga dinilai terasing dari kehidupan sosial karena terlalu teoretis dan kurang berpijak pada problematika dan kebutuhan yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, munculnya PT adalah akibat adanya fenomena ‘krisis pendidikan’ yang melanda bangsa Indonesia dalam kurun waktu dua dekade terakhir. Fenomena ‘krisis pendidikan’ tersebut ditandai oleh beberapa hal seperti di bawah ini.
1) Munculnya tindak kekerasan di masyarakat, seperti tawuran antarpelajar, antarpemuda lain desa dan pada skala yang lebih besar adalah munculnya konflik antaretnis, yang bisa mengarah pada disintegrasi bangsa. Hal ini ditengarai juga sebagai akibat dari kekaurangberhasilan pelaksanaan pendidikan.
2) Adanya intoleransi antarpemeluk agama sehingga muncul konflik di antara mereka, seperti kasus yang terjadi di Maluku atau Ambon serta beberapa daerah lain.
3) Pendidikan miskin menghasilkan generasi yang unggul dan kompetitif, baik di tingkat regional maupun internasional.
4) Peserta didik kurang memiliki etika agama dan sosial. Akhirnya mereka banyak yang terjerumus pada budaya freesex, samenleven, dan menjadi konsumen sekaligus pecandu narkotika dan obat-obat terlarang.
5) Anak didik terasing (soliter) dari lingkungan sosialnya. Mereka merasa gagu dan gagap terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat. Mereka hanya bisa menjadi ‘penonton’, tetapi tidak berusaha belajar menjadi ‘pemain’, apalagi menjadi ‘seorang pemain handal’. Itu semua terjadi akibat pelaksanaan pendidikan yang terjadi dinilai terlalu teoretis.
6) Anak didik cenderung pasif, kurang aktif dan kreatif (seperti robot), serta tidak memiliki ‘ruh’ untuk melakukan sebuah perubahan. Kondisi ini juga disinyalir sebagai dampak dari model pembelajaran yang hanya berpusat pada guru, sementara siswa tidak diberi ‘kemerdekaan’ untuk mengeksplor bakat dan minatnya agar bisa berkembang secara optimal.
7) Klimaks dari semua itu muncul ‘krismon’ alias krisis moneter. Walaupun krismon merupakan masalah dalam bidang ekonomi, tetapi bidang pendidikan secara tidak langsung juga turut memberikan andil yang cukup besar dalam memunculkan masalah itu.
Kondisi bangsa yang semakin carut-marut, sebagai akibat dari ‘krisis pendidikan’ itu, perlu segera diatasi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan suatu perubahan paradigma dalam pelaksanaan pendidikan, yaitu tidak lain dengan pedagogik transformatif. Sebuah paradiga pendidikan yang lebih humanis, sosialis-kultular, yang lebih memberikan kesempatan kepada semua komponen pendidikan menjadi kontributor dan partisipator bagi perubahan yang baik, dan menghargai adanya diferensiasi intelegensi individual, bakat atau potensi setiap peserta didiknya yang selama ini dipandang kurang diperhatikan.

c. Pedagogik Transformatif dan Pelaksanaannya di Sekolah
PT sebagai sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan dipandang sangat perlu untuk segera diterapkan di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah. Hal ini dilakukan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi “krisis pendidikan” yang selama ini terjadi. Berbagai pemikiran, pandangan dan konsep yang ada dalam PT, seperti teori belajar (kognitivistik, konstruktivistik, dan humanistik), model pembelajaran (kooperatif, komunikatif, quantum teaching, dan CTL), konsep kecerdasan jamak (multiple intellegences) dan perbedaan gaya belajar siswa, apabila benar-benar dapat diaplikasikan secara tepat akan mampu mengubah wajah dunia pendidikan kita yang tadinya “buram” dan “carut-marut” menjadi dunia pendidikan yang “indah” dan “nyata”.
Adapun implementasi PT di sekolah dilakukan secara terpadu (integrated), bukan secara terpisah-pisah (partial). Artinya, PT diintegrasikan ke dalam kurikulum yang digunakan pada setiap satuan pendidikan. Pada tataran yang lebih kecil, PT dintegrasikan pada setiap mata pelajaran, terutama pada setiap kompetensi dasar (KD) yang hendak ditanamkan kepada para siswa. Namun demikian, dalam pelaksanaannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat banyak faktor yang turut berpengaruh di dalamnya. Keberhasilan pelaksanaan PT di sekolah sangat didukung oleh sumber daya manusia yang handal, guru yang profesional, dan sarana-prasarana yang memadai. Akan tetapi, kenyataannya di lapangan hal itu masih jauh panggang daripada api. Meskipun di beberapa satuan pendidikan juga ada yang sudah kondusif dan representatif.

2. Di antara teori belajar,manakah yang paling mungkin diterapkan untuk PT? Uraikan pilihan dan alasan Saudara!

Jawaban:
Dalam dunia pendidikan dikenal ada beberapa teori belajar. Di antaranya adalah teori behavioristik, kognitivistik, konstruktivistik, dan humanistik. Dari keempat teori belajar tersebut yang dimungkinkan dapat diterapkan dalam PT hanya tiga, yaitu teori kognitivivtik, konstruktivistik, dan humanistik. Sementara itu, teori behavioristik dipandang tidak relevan atau tidak cocok untuk diterapkan dalam PT. Mengingat banyak dijumpai pemikiran dalam teori tersebut yang berseberangan dengan konsep-konsep yang ada dalam PT. Berbeda dengan teori kognitivistik, konstruktivistik dan humanistik, tampaknya pemikiran PT sangat relevan dengan pemikiran ketiga teori tersebut. Misalnya, antara PT dengan teori konstruktivistik memiliki kesamaan pemikiran. Kesesuaian tersebut seperti berikut ini.
a. Dilihat dari proses belajar yang berorientasi pada konstruktivesme, tampak adanya persamaan dengan pedagogik transformastif. Dalam konstruktifisme tampak adanya
1) belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman sehingga pengetahuan berubah.
2) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman dengan dunia fisik dan lingkungan (kontekstual)
3) Pengetahuan adalah kegiatan aktif peserta didik yang berinteraksi dengan lingkungan.
b. Kegiatan bukanlah mentransfer pengetahuan dari guru melainkan kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya.
c. Pembelajaran berarti partisipasi guru dan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
d. Guru dalam proses pem,belajaran berfungsi sebagai mediator dan fasilitator agar siswa mampu mengekspresikan gagasannya.
e. Peserta didik dianggap sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori-teori tentang dunia dan kehidupan.
Berdasarkan ciri-ciri yang ada pada pedagogic transformative,ternyata tertuang semua pada teori belajar konstruktivisme. Teori berlajar inilah yang akan melahirkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang inovatif seperti Contektual Teaching and Learning (CTL), Quantum Teaching, Quantum Learning, Coopertive Learning.
Demikian juga untuk teori humanistik dan kognivistik tampaknya juga memiliki kesamaan pemikiran dengan PT. PT sebagai paradigma baru pendidikan memang sangat humanis. Peserta didik diberikan kemerdekaan untuk mengaktualisasikan dirinya sesuaidengan bakat dan minat yang dimiliki. Hal tersebut juga termasuk pemikiran dalam teori humanistik.

3. Anda mengenal berbagai model pembelajaran secara umum. Pilih salah satu model yang enurut Anda sesuaiuntuk PT. Sebutkan alasan mengapa model tersebut yang Anda pilih, apa kesesuaiannya dengan PT? Buatlah garis besar program pembelajaran untuk model Anda!

Jawaban:

Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dalam Pedagogik Transformatif

Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan konsep PT adalah contextual Teaching and Learning (CTL). Model pembelajaran ini diilhami oleh teori konstruktivisme. Tujuh pilar dalam CTL yang merupakan “ciri khas” dari model ini sangat relevan dengan PT. Beberapa kesamaan pemikiran tersebut misalnya: keduanya menghargai adanya perbedaan kemampuan intelegensi siswa (multiple intelllegensi), pendidikan tidak terpisah dengan konteks sosial budaya, melatih siswa berpikir kritis, menemukan sendiri, membngun diri dengan pertanyaan, dan sebagainya. Itu semua dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran. Berikut ini akan disajikan salah satu contoh garis besar program pembelajaran bahasa Indonesia yang menggunakan model CTL.

Garis Besar Program Pembelajaran

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / semester : VII / 1
Standar Kompetensi : Menulis
7. Menulis laporan Hasil Pengamatan
-----------------------------------------------------------------------------------
Kompetensi Dasar : 7.1 Menuliskan hasil pengamatan dalam bentuk laporan
Indikator :1. mampu menentukan pokok-pokok laporan
2. mampu menyusun pokok-pokok laporan menjadi leporan yang utuh
3. mampu menceritakan kembali isi laporan di depan kelas
Waktu : 4 x 40 menit
Pendekatan Belajar : Contextual Teaching and Learning (CTL)
Model Pembelajaran : Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan kooperatif
Materi Pelajaran : 1. Pokok-pokok laporan
2. cara pembuatan laporan hasilpengamatan
3. menceritakan kembali isi laporan dengan bahasa sendiri
Strategi pembelajaran : Penjelasan, kerja kelompok, diskusi, dan penugasan

Langkah-langkah kegiatan
I. kegiatan awal
a. apersepsi tentang jenis-jenislaporan.
b. motivasi tentang kebermanfaatan membuat laporan

II. Kegiatan Inti
a. penjelasan tentang pokok-pokok laporan.
b. Tanya jawab seputar pokok-pokok laporan
c. Pelaksanaan pembelajaran
• Guru membagi siswa dalam kelompok yang bervariasi antara 4 – 5 anak.
• Guru menjelaskan tugas mengamati suatu objek di luar kelas
• Siswa mendiskusikan pokok-pokok yang akan diamati
• Guru menugasi kelompok untuk melakukan pengamatan sesuai dengan objek pengamatan yang dipilih
• Siswa siswa secara berkelompok melakukan pengamatan di objek masing-masing
• Setiap siswa memberikan kontribusi hasil pengamatan kepada kelompok dan mendiskusikannya
• Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan
• Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas, kelompok lain menanggapi.
• Siswa atas nama kelompok menceritakan isi laporan dengan kata-kata sendiri

III. Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa merefleksikan proses pengamatan
b. Guru dan siswa merefleksi hasil pengamatan.
c. Guru merefleksi laporan hasil pengamatan
d. Pemberian penghargaan bagi tim terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...